
...Chapter 97. Raya Special Edition part IV (End). (Revised)....
Kematian Haikal sudah sampai kepada Ayahnya Haiden. Lalu, dia pun Video Call (VC) kepada Saga.
Dengan marah-marah, Haiden memaki dan menghina Saga dalam VC. Saga tidak marah melainkan hanya memberikan senyuman.
" ... Saga, apa kamu mengajak perang?!" ucap kesal Haiden.
"Siapa yang terlebih dahulu mengusik kedamaian?" sindir Saga.
"Apa?" Haiden mencoba mengingat-ingat. "Ah, maksudmu wanita jlang yang mencuri obatku."
"Bukan, dia tapi anak yang kamu culik?"
"Begitu. Jadi, kamu marah dengan assetku sendiri."
Mendengar itu, Saga menjadi jengkel. "Apa?! Aset! kamu pikir manusia itu sebuah aset."
Haiden tertawa remeh, "Hahaha, Saga, Saga. Kamu pria yang masih polos tidak tahunya."
"Itu tidak penting. Sekarang, kembalikan anak itu."
"Tidak akan, aku akan memutilasi dia sebagai hukuman telah mencuri obatku meski dia anak kecil sekali pun, Hahaha ...."
Mendengar itu, tangan Saga mengepal untuk menahan amarahnya.
"Kalau begitu, kamu ingin berperang?!"
"Datanglah kapanpun, ini akan menjadi sejarah baru di keluarga pria. Sang keponakan ipar melawan paman ipar. Siapakah yang akan menang? Dan, kamu pikir Rachel akan selamat! Hahahaha ...."
Mendengar itu, Saga semakin geram lalu, Saga menutup panggilan itu. Setelah itu, Angela dan lainnya pun marah-marah dengan sikap Haiden yang begitu semena-mena.
__ADS_1
Saga pun menenangkan pikiran dengan menghela nafas berkali-kali.
"Raya?"
"Baik, disini Raya."
"Lakukan eksekusi kepada Haiden Prima!" seru Saga.
"Dimengerti!"
Sesaat Saga ditelepon oleh Haiden, Dina langsung mendapatkan sumber panggilan nya dan Saga memerintahkan Raya untuk pergi ke lokasi.
Tanpa keraguan Raya mempercepat laju motor dan terhenti di sebuah hotel casino Prima. Raya pun turun namun kali ini dia mengunakan helm dan pertarungan tidak terelakkan.
Satu demi satu penjaga terus menyerang Raya. Kali ini jumlah penjaga lebih banyak dari sebelumnya. Raya saling menjual beli serangan dengan puluhan penjaga disana hingga beberapa pasukan bersenjata datang dan Raya pun tidak menyerah yang membuat nya saling adu tembak satu sama lainnya.
Raya pun berhasil menembaki mereka namun, ada tembakan yang mengenai Raya tapi tidak menghalangi langkah Raya.
"Hello, brother!" sapa salah satu pria.
Raya pun sadar bahwa mereka anggota dari mekanik. Lalu, pertarungan pun terjadi. Namun, kedua pria ini berbeda dari sebelumnya. Raya malah dibuat terpojok dengan wajah yang penuh darah.
Saat Raya sudah tergeletak dilantai dengan penuh luka. Salah satu mekanik mengeluarkan senjata dan menodongkan nya kepada Raya.
"Maaf, brother."
Seusai mengatakan itu, pria itu melesatkan tembakan nya namun, sebuah lingkaran gerbang kecil muncul di depan pria hingga membuat pria itu terkejut dan peluru yang di lesatkan kembali mengarah pria itu dan melukai pria tersebut.
Raya dan Mekanik satunya lagi terkejut. Tidak lama juga Raya melihat sosok Saga dibelakang nya.
"Sudah aku katakan, kembalilah dengan selamat!" ucap Saga yang tersenyum melihat Raya.
__ADS_1
Dan, lingkaran gerbang itu berasal dari serbuk gerbang yang di lemparkan Saga yang juga baru tiba di dekat Raya.
Mekanik yang satu nya lagi melesat kan serangan kearah Saga dengan ayunan pisaunya namun, Saga dengan mudah nya membanting mekanik itu. Tidak sampai disitu, saat mekanik terjatuh. Saga memukul pelipis mekanik hingga membuat diri pria itu tidak sadarkan diri.
Saga menghampiri Raya dan mengelurkan tangannya.
"Bertarungan belum selesai, Ray!"
"Iya," jawab Raya seraya menerima tangan Saga dan Raya pun berdiri.
"Ayo kita lanjutkan!" seru Saga.
Saga dan Raya pun melanjutkan langkahnya sampai ke ruangan president Haiden.
"Saga, beraninya kamu! Jika, aku mati maka kamu telah memutuskan untuk berperang melawan Prima Grup."
"Sudah aku katakan, serahkan gadis kecil itu!" balas Saga.
"Tidak akan, aku serahkan subjek Zero," jawab Haiden.
Saga yang mendengar itu, dia mengerutkan dahinya, "Subjek Zero, apa maksudmu?" kaget Saga.
Haiden tersenyum remeh sambil mencari kesempatan untuk menembak Saga. Disaat tangan Haiden mulai bergerak. Raya pun dengan sigap mengambil pistol dan menembaki Haiden terlebih dahulu. Pistol yang dipegang Haiden pun melesat asal dan dia pun terjatuh tidak bernyawa lagi.
Saga masih terdiam dan menganalisa maksud dari Haiden. Sedangkan, Raya mencari Santi yang mungkin berada diruangan itu. Setelah beberapa saat mencari, ditemukanlah ruang rahasia.
"Aga, kesinilah!" seru Raya dari ruang rahasia.
Saga pun menyadarkan lamunannya dan pergi ke ruang Rahasia. Disana, Saga pun terkejut melihat Santi yang berada di tabung berisikan air dan selang oksigen tanpa busana. Dibawah tabung itu, tertulis.
Subject Zero.
__ADS_1