
...Chapter 93. Rachel Feel & Raya Kredit....
Sekembalinya dari Rooftop cafe, Saga kembali ke penthouse nya. Setibanya disana, Saga hanya melihat Rachel yang duduk didepan pintu menunggu kedatangan Saga.
"Rachel, dari kapan kamu disini?"
"Datang juga akhirnya!" ucap Rachel dengan nada yang mabuk.
Rachel pun berdiri dan langsung mengalungkan dirinya di leher Saga.
"Saga, aku merindukan mu!" ucap Rachel.
Didalam pelukan Rachel, Saga mencium alkhohol yang kuat dan menyadari bahwa dirinya sedang mabuk.
Dalam keadaan mabuk, Rachel mencoba untuk mencium Saga namun dihentikan karena dia tidak setengah sadar.
"Rachel, kamu sedang mabuk. Lebih baik istirahat pulang. Aku antar ya!"
Rachel mengelengkan kepalanya, "Aku tidak mau pulangggg!" teriak Rachel.
Saga pun hanya menghela nafas panjang dan membawa Rachel ke dalam apartemen Saga. Saat didalam, Saga tidak berbuat macam-macam. Dia merebahkan Rachel di kasur. Lalu, dia melepaskan sepatu dan pakaian luar nya setelah itu, memberikan selimut.
Sesaat kemudian, Rachel pun tertidur. Saga bukanlah orang mesum yang mengambil kesempatan disaat wanita tidak sadar atau mabuk. Maka dari itu, dia membiarkan Rachel tidur di kasurnya. Sedangkan, Saga tidur di sofa.
Keesokan paginya, Rachel pun membuka mata dan sontak terkejut melihat dirinya sedang berada di kamar orang lain dan memeriksa sekeliling ruangan itu.
__ADS_1
"Dimana ini?!" panik Rachel yang sontak bangun dari rebahannya. Lalu, dia melihat pakaian yang dikenakan nya yang tertutup oleh selimut lantaran dia takut akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Saat melihat pakaian dalam yang dikenakannya, dia pun masih salah paham.
"Mungkin kah aku ... dan sebenarnya dimana ini?"
Rachel mencoba mengingat dengan memegang kepala dan ingatan terakhirnya pun Rachel menunggu kehadiran Saga didepan pintu apartemen nya.
Tidak lama kemudian, Saga datang membawa dua kopi hangat kedalam kamar. Pandangan Rachel pun teralih pada pintu dan Saga yang masuk.
"Pagi, Rachel!" sapa Saga.,
"Pagi, Saga!" jawab Rachel yang tersenyum lebar.
Saga pun menghampiri Rachel dan memberikan satu kopi kepada nya.
"Kenapa begitu? ngapa-ngapain juga tidak apa-apa. Hehehe ..." sindir Rachel.
Saga dan Rachel pun saling bertukar senyum.
"Rachel, minum kopinya sebelum dingjn. Itu kopi khusus penghilang mabuk."
"Terima kasih," ucap Rachel dan setelah itu, dia meminum kopinya.
"Ada apa Rachel? sampai kamu mabuk seberat itu?"
__ADS_1
Awalnya Rachel ragu untuk bercerita tapi, Rachel pun memutuskan untuk bercerita bahwasannya ibunya, Sandra Prima tidak mengizinkan Rachel dengan Saga serta menyuruhnya untuk membatalkan pertunangan jika tidak hak waris nya akan dicabut dan nama keluarga akan dicopot. Meski, ayahnya, Andreas yang telah mengajukan pertunangan namun keputusan ada di Rachel.
Rachel pun tidak menerima hal itu dan membuatnya stress berat bahkan saat bercerita Rachel menangis.
"Aku sama sekali tidak ingin meninggalkan mu, Saga!" seru Rachel.
Saga pun memberikan senyuman dan memeluknya. "Iya, aku mengerti. Aku juga tidak akan pergi ke mana-mana." ucap Saga sambil menepuk-nepuk punggung Rachel.
Ditempat yang berbeda, Raya kembali ke kantornya yang juga ada MI. Sebulan yang lalu, Saga memutuskan mencari kesibukan Raya dengan membuat usaha sendiri. Saat itu, Raya memutuskan untuk membuat kantor pegadaian dan pinjaman cepat. Bernama Raya kredit.
Setelah dari cafe, Raya kembali ke kantornya yang dimana ada seorang anak gadis kecil sedang menunggu kehadiran Raya di depan pintu. Lalu saat anak itu melihat Raya, dia pun sontak berdiri dari duduk dan menghampiri Raya.
"Om Rayaaa ...."
Raya hanya menghela nafas dan masuk kedalam kantor. Anak gadis kecil itu juga mengikuti Raya. Sambil bercerita tentang sekolahnya yang masih berada di bangku sekolah dasar.
Setibanya didalam kantor, Raya melihat kearah anak gadis, "Lalu, kenapa kamu kesini?"
"Oiya." gadis kecil itu mengambil sebuah kamera film dari tasnya lalu, memberikannya kepada Raya, "Aku ingin mengadaikan ini."
Raya pun menerima kamera itu dan memeriksa. "Aku akan berikan 100 ribu. Bagaimana?"
"Oke deal," jawab senang anak gadis tersebut.
Raya pun tersenyum melihatnya. Gadis kecil itu bukanlah sekali itu datang. Dia sering datang untuk mengadaikan banyak barang dari rumahnya.
__ADS_1
Raya pun tahu, anak gadis kecil itu tinggal berdua di apartemen studio yang berada di lantai 12. Nama gadis itu, Santi.
Setelah menerima uang itu, Santi kembali ke unitnya. Setibanya di sana, rumah Santi sangatlah berantakan dan santilah yang merapihkan ya sedangkan, ibunya sedang mabuk berat dengan banyak bekas suntikan didekatnya. Santi yang melihat itu, dia hanya bisa menghela nafas panjang.