Ruang Kekayaan Milik Saga

Ruang Kekayaan Milik Saga
Chapter 104. Pernikahan merah Part III (End)


__ADS_3

...Chapter 104. Pernikahan merah Part III (End)...


Beberapa hari sebelum pernikahan ...


Setelah Tanya berkenalan dengan Agitta, Tanya pun membahas cincin yang didapatkan nya itu kepada Aritoteles, Galileo dan Operator serta Saga sendiri.


Dalam penelitian mereka disimpulkan bahwa cincin Tanya merupakan benda sihir atau bisa dikatakan Artefak. Kekuatan dari cincin itu berasal dari batu biru yang menjadi permata nya.


Guru Galileo menjelaskan bahwa batu itu bukan lah batu biasa melainkan pecahan batu salah satu infinite Stone, Space Stone.


Sebuah batu yang mampu membuka gerbang kemana pun tidak hanya dibumi melainkan beda dimensi dan dunia.


Maka hal itu merupakan kabar yang sangat menggembirakan dan membuat Saga percaya diri menghadapi dunia.


Namun, Tanya yang mengetahui cincin miliknya itu memiliki kekuatan yang besar maka, Tanya memutuskan untuk membagi dua permata itu dan Tanya memberikannya kepada Saga.


Itulah kenapa Tanya dan Saga mampu membuka gerbang dunia bumi dengan Chamber.


"Tuan Saga, giliran mu!"


Saga yang mendengar ucapan dari bandar, dia pun melepaskan lamunannya dan kembali melanjutkan permainan.


"Baik, Check!" ucap Saga sambil mengetuk meja.


Beberapa saat kemudian, Andreas mendapatkan pesan dan ditengah permainan. Salah satu anak buahnya membisikan sesuatu. Saga hanya memperhatikannya saja, Saga tahu apa yang dibisikkan nya itu hingga wajah Andreas menjadi pucat menatap Saga.


"Saga, apa yang kamu lakukan?"


"Tidak ada. Aku kan main disini bersamamu," ucap remeh Saga.


"Kita lihat apa yang akan kamu lakukan jika ada pembantaian tepat diruangan pernikahan mu?"


Saga mengangkat kedua tangan nya serta bahunya. "Entahlah."


Andreas pun tersenyum lalu melihat anak buahnya untuk melakukan sesuatu dengan kode anggukan Kepala.


Anak buahnya itu pun pergi lalu, dia pergi ke ruang pertemuan yang dimana pria berbaju hitam dengan senjata berat mengelilingi ruangan seraya menodongkan pistolnya.


Raya dan Rizal tidak bisa berbuat apapun dikarenakan ditahan oleh empat pria berjas.


Disisi lain, Rachel menghampiri pria berjas hitam. Namun, pria berjas


"Apa yang kalian lakukan?! Minggir! Saya Rachel Prima. Biarkan saya bertemu ayahku!" seru Rachel yang terus memaksa untuk menerobos masuk tapi ditahan oleh pria berjas.


Pria berjas itu diam saja dan melihat pria berjas lainnya serta memberikan kode untuk membawa Rachel pergi.


"Apa yang kalian lakukan?! lepaskan!!" seru berontak Rachel.


Tidak hanya Rachel, Sandra dan beberapa orang lainnya juga diintruksikan dan diantar pergi oleh pria berjas.


Raya dan Rizal yang melihat itu, mereka pun menduga sesuatu.

__ADS_1


"Ray, sepertinya kita akan mati."


"Tidak sekarang," jawab dingin Raya.


Sesaat kemudian, muncullah gerbang asap ditengah ruangan. Tentu hal itu membuat semua orang di ruangan itu terdiam dan kaget kecuali Raya dan Rizal, mereka bertukar senyum lalu mengunakan kesempatan itu untuk melakukan serangan balik.


Raya pun dengan cepat melepaskan diri lalu menyerang pria jas hitam yang menahannya.


Buk! Buk!


Saat pria jas hitam lain meliha pertarungan Raya sontak menodongkan senjata dan menarik pelatuknya namun, tidak berhasil dikarena ada boneka sihir yang melompat kearahnya dan menusuk leher pria itu.


Raya pun tersenyum melihatnya.


Tidak hanya satu boneka, beberapa boneka muncul dan melesatkan tembakan juga tebasan pedang serta pisau. Semua pria jas hitam menjadi panik dan melesatkan tembakan beruntun kepada mereka namun tidak membuahkan hasil.


Raya pun menyerahkan pertarungan kepada mereka dan membantu Rizal melepaskan diri. Rizal pun sontak berdiri dan melemaskan pergelangan nya.


"Riz, kamu baik-baik saja?"


"Iya." Rizal melihat sekeliling nya dengan wajah yang serius. Rizal saat ini melihat ruang pembantaian antara manusia yang merasa kuat menjadi sangat lemah dihadapan monster. "Mereka ingin membuat mimpi buruk. Tapi, Saga bisa membuatnya lebih buruk."


Diruang yang berbeda, Saga dan Andreas masih bermain dan itu merupakan permainan ronde terakhir yang dimana semua bertaruhan ada diatas meja. Disaat yang bersamaan, Saga dan Andreas mendengar suara gemuruh dari luar.


Mendengar itu, Andreas tertawa senang. Didalam pikirannya, suara itu berasal dari kelompoknya.


"Saga, setelah ini hidupmu akan berakhir! tidak ada teman, tidak ada keluarga dan tidak ada harta. Hahahaha ...."


Saga terdiam dan menundukan kepalanya.


Semua pemain sudah membuka kartu termasuk Andreas yang tertinggi dengan Full House lalu, Saga masih terdiam.


"Tuan Saga, buka kartu anda!" seru bandar.


Sesaat kemudian, Saga pun tertawa. "Hahaha ... inikah yang dirasakan oleh ayahku. Tapi.." Saga mengembalikan pandangannya menatap Andreas. "Dia begitu bodoh," ucap Saga seraya senyuman lebar.


"Apa maksudmu?" ucap bingung Andreas.


Tidak lama kemudian, Saga membuka kartu yang ternyata kartu Saga Straight flush.


"Tuan Saga, kartu tinggi... Pemenang nya Tuan Saga."


Saga menatap Andreas tersenyum dan menaikan satu alisnya yang dimana, Saga menenangkan 200 juta USD diatas meja.


Melihat itu, Andreas pun menjadi kesal, "Habisi dia!" semua senjata menodongkan kearah Saga dan siap menarik pelatuknya tapi sesaat kemudian pintu terdobrak dan Nicol, Raya dan Rizal pun masuk kedalam ruangan. Nicol sendiri pun yang melihat bahaya didalam sontak melesatkan tembakan kearah semua pria jas hitam disana. Dalam sekejap, semua orang yang memegang pistol menjadi tidak bernyawa dibuatnya.


Andreas pun menjadi panik. Bandar dan ketiga pemain mengangkat tangannya dan merayu Saga bahwa mereka ada dipihak Saga.


Saga tidak mempedulikannya, dia beranjak dari kursi lalu mengambil pistol yang ada ditangan pria hitam yang sudah mati.


Saat Saga sudah berada didekat Andreas, dirinya terus meminta ampun dan menyesal telah mengusik Saga.

__ADS_1


Saga juga tidak mempedulikan nya juga. Dia menodongkan pistol serta ditempelkan ke dahi Andreas.


"Selamat tinggal, bapak mertua!" Seusai mengatakan itu Saga menarik pelatuk nya.


Dor!


Andreas pun mati seketika.


Lalu, Andreas melihat kearah Nicol dan lainnya.


"Ray, Riz. Kalian baik-baik saja?"


"Iya, kami baik-baik saja," jawab Rizal.


Raya juga menganggukan kepalanya. Sedangkan, Nicol berlutut satu kaki dihadapan Saga.


"Nicol berdirilah!"


"Baik," jawab Nicol seraya berdiri dari berlutut nya.


"Waktunya untuk reset! kalian siap?!" ucap Saga.


Raya dan Rizal pun menganggukan kepalanya. Sesudah itu, Saga mengambil sebuah alat untuk mereset waktu dari cincin nya yang terhubung di gudang harta Chamber.


Lalu, Saga menaruhnya dilantai dan menekannya seperti layaknya Boom. Dalam hitungan mundur 10, boom itu meledakan cahaya putih yang menutupi pandangan dan semua Indra, Saga.


Seusai cahaya itu reda, pandangan Saga teralih pada meja diawal permainan.


"Baiklah, permainan dimulai lagi!" ucap bandar pria sambil mengocok kartu.


Saga pun juga melihat Andreas yang tiba-tiba panik dan keluar keringat dingin. Hal itu membuat perhatian bandar.


"Tuan Andreas, apakah anda sakit? dan ingin tetap bermain?"


Saga pun tersenyum, "Seperti nya Tuan Andreas telah gagal menjalankan rencananya dan mati!"


Pandangan Andreas pun menjadi tajam kepada Saga, "Apa maksudmu, Saga?"


"Apakah ayah mertua percaya dengan pengulangan waktu?"


"Apa?! mungkinkah ..." ucap Andreas yang menebak-nebak.


"Coba saja lagi jika ingin merasakan kematian lagi!"


Andreas pun mengerti maksud dari Saga dan dia pun menudukan kepalanya.


"Baiklah, aku berhenti main. Kesehatan ku memburuk."


"Senang bisa bermain dengan anda, Ayah," ucap Saga yang tersenyum.


Andreas pun beranjak dari kursi nya dan memberikan senyuman masam kepada Saga. Barulah, dia meninggalkan ruangan.

__ADS_1


Sesudah itu, acara resepsi pernikahan berjalan lancar dan permainan pun dimenangkan oleh Saga diatas meja dengan jumlah 150 juta USD.



__ADS_2