Ruang Kekayaan Milik Saga

Ruang Kekayaan Milik Saga
Chapter 98. Permintaan Rachel (Revised)


__ADS_3

...Chapter 98. Permintaan Rachel (Revised)...


Project Zero ialah sebuah projects manusia modifikasi yang dimana kecerdasan, fisik, stamina melebihi diatas rata-rata manusia pada umumnya.


Project Zero ini perkembangan dari project Heal yang sebelumnya dilakukan oleh Mirage Group. Lalu, subject yang digunakan anak-anak yang berumur 5 sampai 9 tahun. Salah satunya, Santi. Prima group mengkategorikan Santi di subject Zero. Kategori terbaik diantara subject yang lain.


Itulah informasi yang didapatkan Dina dari meretas komputer milik Haiden di ruang rahasia nya.


Keesokan harinya, saat Santi tersadar dari pingsan. Raya berada disampingnya, dia juga menjelaskan kematian ibunys karena overdosis bukan pembunuhan. menurut Saga, jika dikatakan sejujurnya takut nantinya Santi tumbuh dalam dendam. Meski, dikatakan itu Santi tetap menangis dan Raya pun memutuskan untuk menjadi ayah angkatnya.


Beberapa hari kemudian, disebuah pemakaman mewah dan besar. Orang-orang berbaju hitam mengantar kepergian dari Haiden Prima termasuk Saga dan Rachel.


Dalam pemakaman itu, Andreas sempat berapa kali menatap tajam Saga. Seakan-akan dia mengetahui penyebab kematian adik iparnya oleh Saga. Namun, Saga tidak mempedulikannya dan tetap fokus pada acara pemakaman.


Beberapa saat kemudian, acara pun usai. Saga dan Rachel ingin masuk ke mobil Lexus nya tapi langkah terhenti lantaran didepan mereka ada Andreas dan istrinya, Sandra yang ingin memasuki mobil juga. Rachel yang melihat itu sontak menghampiri mereka.


"Papi ..." ucap Rachel seraya menghampiri ayahnya.


"Kamu tuh udah mau berrumah tangga masih aja kaya anak kecil. Jadilah dewasa, Rachel!" ucap Andreas yang memecet hidung Rachel.


Rachel memberikan senyuman lebar kepada ayahnya. Beberapa saat kemudian, Saga dan Tanya pun datang menyapa.


"Presiden Andreas." sapa Saga yang menganggukan kepalanya dan Tanya pun mengikuti gerakan Saga.


"Oh, bagaimana kabar mu Saga?" tanya Andreas.

__ADS_1


"Baik." jawab Saga.


"Hihihi ... ya Pi." potong jawab santai Rachel.


"Yasudah Saga. Saya pamit ada urusan," ucap pamit Andreas.


Rachel melepaskan pelukannya dan berdiri didekat Saga.


"Iya, Presiden. Hati-hati dijalan!" jawab Saga yang menundukan kepalanya lagi dan di ikuti oleh kedua istrinya.


Sesaat ingin masuk mobil, Andreas menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Saga.


"Oiya, Saga persiapkan dirimu! Nanti akan ada undangan penting."


Saga mengerti maksud dari Andreas ialah undangan pernikahan dirinya dengan Rachel.


"Yasudah, ayah pamit!" ucap Andreas seraya melambaikan tangan.


Sesaat kemudian, Andreas masuk ke mobil begitu pun Sandra dan meninggalkan Saga serta lainnya. Sesudah itu, barulah Saga dan Rqchel naik ke mobilnya.


Didalam mobil, Rachel duduk disamping Saga Awalnya diam saja tapi ditengah perjalanan Rachel mengambil tangan Saga dan menaruhnya di pahanya yang saat itu dia mengenakan gaun yang memiliki terusan rok yang pendek jadi tangannya Saga langsung menyentuh paha Rachel.


"Sayang, seperti aku ingin memiliki anak sebelum menikah. Kamu tidak masalahkan?" ucap Rachel.


Saga melihat ke Rachel dan memberikan senyuman kepadanya. "Tentu saja, aku kabulkan."

__ADS_1


Saga dan Rachel pun saling menatap dengan jarak yang sangat dekat serta bertukar senyuman.


"Aku mengharapkan itu."


"Terima kasih Saga."


...##...


Ditempat yang berbeda, Andreas yang duduk dibangku belakang tersenyum-senyum sendiri. Sandra yang ada disampingnya menjadi penasaran akan hal itu.


"Suamiku, ada apa?"


"Istriku, kamu tahu siapa yang membunuh adikmu?"


Sandra yang mendengar itu, dia pun menjadi berantusias, penasaran dan kemarahan dengan ucapan dari suaminya itu.


"Sayang, kamu mengetahuinya? Siapa Bjingan yang berani mengusik kita?!"


Andreas menatap Sandra dan menepuk pelan tangannya. "Dia tidak lain calon menantu kita, Saga."


"Apa? Saga! sudah aku duga, dia mendekati putri kita hanya untuk balas dendam!" ucap kesal Sandra yang melipatkan tangannya dan menghadap ke depan.


"Tenang saja, sayang. Dia akan bernasib sama dengan ayah dan ibunya. Aku sudah membuat rencana."


"Bagus, aku akan membantumu, sayang."

__ADS_1


Sesudah mengucap itu, Sandra melihat Andreas dan mereka pun berciuman.



__ADS_2