Ruang Kekayaan Milik Saga

Ruang Kekayaan Milik Saga
Chapter 46. Sambutan yang menyakitkan


__ADS_3

Chapter 46. Sambutan yang menyakitkan.


Siang hari yang cerah sebuah Supercar melintasi jalanan Jakarta. Hal itu tentu saja membuat banyak perhatian orang-orang sekitarnya.


Banyak juga yang mengabadikan Supercar Saga itu. Rachel yang menyadari itu, dia malah menekan tombol convertible yang membuat atap mobil yang sebelumnya tertutup rapat berlahan terbuka.


Rachel yang awalnya tidak memakai kacamata hitam, kini dia kenakan lagi begitu juga Saga.


Saga tidak melarangnya untuk membuka atap mobil malah dia tersenyum. Sesaat atap sudah terbuka, Rachel mengangkat kedua tangan dan berterik tidak jelas untuk mengekspresikan kesenangan nya diterpa angin jalanan.


Saga tersenyum saja melihat sikap Rachel tersebut.


Beberapa menit kemudian, mereka sampai di rumah Rachel dan Saga menghentikan laju mobilnya.


"Yaaa, udah sampai," ucap sesal Rachel.


"Ya, begitulah," jawab santai Saga.


"By the Way, Thanks ya. Udah mau nganterin, aku!" ucap Rachel sambil menatap Saga.


Saga pun juga menatap Rachel, "Sama-sama, aku juga senang mengantar mu."


Saga dan Rachel terdiam hanya saling tatap dan saling tersenyum. Tidak lama kemudian, wajah mereka saling mendekat lalu, berciuman dengan atap mobil terbuka hingga beberapa penjaga keamanan disana melihat nya.

__ADS_1


Saga dan Rachel tidak mempedulikan nya. Mereka larut dalam permainan lidah dan kecupan bibir berkali-kali.


Hingga beberapa saat kemudian, Rachel melepaskan ciumannya begitu pun juga Saga.


"Ini yang aku suka darimu," ucap Rachel.


"Ciuman luar biasa dari sekian banyak mantan ku. Kamu yang terbaik!" ucap Rachel.


"Terimakasih, aku anggap itu pujian," ucap Saga yang diakhiri dengan tawa kecil.


"Apa sih? pujian tau itu," jawab Rachel yang juga tertawa kecil.


Mereka pun saling tertawa kecil dan tersenyum.


Segera itu, Rachel masuk ke rumahnya yang dimana para penjaga keamanan memberikan hormat kepada nya.


Rumah yang bagaikan istana itu dimasuki oleh Rachel. Tidak hanya bangunan rumahnya yang besar dengan pilar-pilar putih disisi rumahnya. Halamannya pun terbentang luas rumput hijau bagaikan lapangan golf.


Rachel pun masuk ke rumah besar itu. Sebuah rumah berlantai kan marmer, lampu kristal berbagai ukuran berada di setiap ruangan ada pun Rachel melewati berbagai lukisan dan guci antik di sudut ruangan tersebut.


Tibalah Rachel diruang keluarga yang sangat luas. Disana, ada seorang wanita dewasa sedang memegang IPad di sofa satu yang besar dengan secangkir minuman diatas meja kaca. Wanita itu tidak lain ialah ibu dari Rachel, Sandra Prima.


Saat Rachel tiba di ruangan itu, Ibunya menoleh kearahnya karena Rachel hanya melewati dirinya saja tanpa salam.

__ADS_1


"Berhenti, Rachel!" seru Ibu nya Rachel.


Langkah Rachel terhenti dengan ekspresi malas. Lalu, dia dengan malas menghadap Ibunya.


"Halo, Mi!" sapa Rachel dengan senyuman paksa.


"Kamu tuh dateng main nyelonong aja!" seru kesal ibunya Tanya.


"Iya, Apa kabar Ibu Prima?!" ucap Rachel dengan nada malas disertai senyuman paksa.


Sandra tidak mempermasalahkan ekspresi Rachel, dia langsung mengalihkan topik.


"Rachel dengan siapa kamu pulang? Dan, beraninya kamu mencium pria pengemis seperti itu di depan rumah! Sungguh memalukan! Kamu harus sadar bahwa kamu pewaris dari prima group!" ucap kesal Sandra.


"Itu bukan urusan Mami!" ucap kesal Rachel.


Lalu, Rachel membalikan badannya dan berjalan ke lantai 2 yang dimana kamarnya ada disana.


Setibanya di kamar, Rachel langsung melemparkan tas kecilnya ke lantai.


"Arrhh," setelah bergeram, Rachel menoleh ke pintu, "Nenek sialan! 2 Minggu ga ketemu malah nanya yang bukan-bukan. Seharusnya, Nanya anak gadis nya kek, makan apa? sehat atau tidak. Selain itu, malah ngehina orang. Bngke! Nenek Sialan!" umpat Rachel.


Seusai Rachel mengumpat, Rachel duduk di kasur dengan kedua tangannya menutupi wajahnya yang berlahan air matanya menetes.

__ADS_1


__ADS_2