Ruang Kekayaan Milik Saga

Ruang Kekayaan Milik Saga
Chapter 78. Human Chess Part II (end)


__ADS_3

Chapter 78. Human Chess Part II (end).


Jaka dan Boim, saat ini mereka sedang aksi kejar mengejar dengan Van hitam dijalan Raya kota Jakarta, waktu itu masih telah tengah malam sehingga jalanan sepi.


"Bisa lebih cepat gak Lue, I'm?!" seru Jaka yang panik dan menepuk bahu Boim yang sedang mengemudi.


"Ini udah kecepatan tinggi kaya kang Diesel!" jawab Boim.


"Vin Diesel! udah buruan!" kesal Jaka.


"Iye, Ye. Bawel lue kaya ema-ema Empang!" jawab Boim dan dia pun menaikan kecepatan melewati banyak kendaraan disana.


Aksi kejar mengejar terus terjadi. Boim selalu mengikuti mobil Van hitam namun tidak bisa menyusul nya.


Disaat di tikungan polisi lalu lintas pun melihat aksi itu dan mengejar Boim.


"Im, polisi! cepatan nanti kita ketangkep!" panik Jaka.


"Iye, gue tahu! nanti juga nyerah mereka kaya game GTA," ucap santai Boim.


Jaka hanya bisa menghela nafas nya mendengar itu.


Ditempat yang berbeda, Raya sedang bertarung dengan sesama saudara angkatnya hingga membuat mereka seimbang dalam segi pertarungan. Saling jual beli terus mereka lesatnya hingga banyak prabotan yang patah dan pecah.


Dan, peraturan mencapai akhir. Raya memperkuat kuda-kuda nya.


"47, senang bisa bertarung hidup mati denganmu!"


"Aku juga merasa hal yang sama."


Serangan 57 pun dilesatkan kembali dengan kecepatan yang lebih tinggi tapi, Raya masih bisa menahan nya. Karena Raya dan 57 memiliki teknik yang sama. Maka, Raya memutuskan untuk mengeluarkan teknik yang diajarkan oleh Date Masamune.

__ADS_1


Disaat agen 57 melesatkan serangan pisau lalu, dia mengeluarkan tenaga dalam yang disebut Qi.


Energi Qi merupakan energy kehidupan setiap makhluk hidup dan bukanlah sihir maka dari itu, Raya bisa mengeluarkan energi Qi di dunia nyata.


Saat agen 57 didekat, Raya memutarkan tangannya. Setelah merasakan ada sekumpulan energi. Raya pun melesatkan serangan tapak ke perut agen 57. Energi yang dikeluarkan Raya membuat beberapa patahan benda dan kaca terhempas oleh angin energi yang dikeluarkan oleh Raya.


Agen 57 itu pun terpental dan muntah darah. Karena serangan itu juga membuat agen 57 tidak bisa bangun lagi dari lantai.


Raya pun meninggalkan agen 57 itu dan ikut serta dalam pengajaran. Setibanya diluar rumah ada motor sport hitam milik agen 57. Raya pun menaiki nya dan melajukan motor itu dengan kecepatan tinggi.


Ditengah perjalanan, Raya mendapat telepon dari Dina yang mengatakan lokasi dua penculik lainnya. Mendengar itu, Raya mempercepat laju motornya.


Dijalanan aksi kejar mengejar masih berlangsung namun jarak semakin jauh antara Van hitam dengan Van milik Boim hingga diperempatan jalan Boim menabrak mobil dari sisi samping jalan.


Buk!


Van Boim pun berputar-putar sampai mematikan mesin mobil dan terhenti. Jaka keluar dari mobil dan menatap kecewa karena Van hitam semakin jauh.


"Bjingan!" ucap kesal Jaka yang mengarukan-garukan kepalanya.


Beberapa saat kemudian, Raya melewati mereka dengan motor kecepatan tinggi. Hal itu tentu membuat Jaka dan Boim terdiam sejenak lalu, saling menatap heran satu sama lain.


"Dia?!" ucap Jaka yang menebak nebak.


Motor Raya terus melaju dengan kecepatan tinggi tanpa adanya halangan dan sampailah Raya didekat mobil Van hitam. Raya yang melihat itu, dia mengerutkan dahinya dan menatap tajam lalu, dia terus mengikuti sampai di jalan yang cukup sepi. Raya pun mengambil pistol kedap udara yang diambilnya dari agen 57. Lalu, menembakan kedua ban mobil Van hitam hingga membuat mobil itu terpental kesamping.


Sesudah itu, Raya menghentikan laju motornya dan berjalan menghampiri mobil Van. Masih dalam keadaan memakai helm hitam dan pistol di tangan, Raya melangkah.


Sesaat kemudian, kedua penculik keluar dan menodongkan senjata kelas berat kearah Raya namun, langkah Raya lebih cepat dan membunuh kedua penculik itu.


"Maaf, Saga. Aku membunuh mereka," gumam Raya sambil melihat ke langit-langit.

__ADS_1


Sesudah adu tembak itu, Raya mengambil Tanya dari mobil yang saat itu masih dalam keadaan tidak sadarkan diri. Setelah itu, Raya mengambil serbuk gerbang dan membuka gerbang di rumah Saga. Sebelum masuk gerbang, Raya menembaki tangki besi Van hitam itu dan meledaknya.


Seusai itu, Raya membawa Tanya masuk ke gerbang.


Disaat bersamaan, Saga mengerakan langkah terakhir bidak catur nya sambil mengatakan, "Checkmate!"


Andreas tersenyum dan menghela nafas panjang serta menyandarkan badannya.


"Kamu memang mewarisi kecerdasan ibumu."


Saga pun tersenyum, "Terimakasih dan permainan yang sangat bagus."


Sesaat kemudian, pesan masuk di ponsel Saga yang bertuliskan Tanya berhasil diselamatkan.


"Seperti sudah larut. Aku pamit undur diri, president."


"Silahkan!" jawab Andreas.


Tanpa membuang waktu lagi, Saga pun meninggalkan ruangan bersama Rizal lalu, kembali ke kamar Saga. Setelah itu, Saga mengambil serbuk gerbang dan masuk kedalamnya yang diikuti oleh Rizal.


Setibanya di rumah, Raya sedang berjaga di ruang tamu. Melihat Saga datang, Raya berdiri dan menundukkan kepalanya.


"Ray, dimana Tanya?" tanya panik Saga.


"Dia ada dikamar dua."


Saga pun bergegas ke kamar dua. Disana, Tanya terlihat sangat sedih dengan duduk termenung dan memeluk lututnya.


"Tanya?"


Tanya yang menunduk teralih melihat Saga dan lama kemudian, air matanya menetes.

__ADS_1


"Mas Saga?!" ucap Tanya didalam tangisan.


Saga pun sontak memeluk Tanya dengan erat. Tanya pun menangis termehek-mehek didalam pelukan Saga.


__ADS_2