
...Chapter 87. Kebaikan Tanya (Revised)....
Ditaman olahraga, Tanya didatangi oleh Jonathan dan Sofia yang memberikan peringatan serta makian terhadap Tanya sehingga perkelahian pun terjadi.
Jaka yang saat itu bersama Tanya berhasil memisahkan mereka. Sesudah itu, Jonathan dan Sofia meninggalkan Tanya dengan kesal mereka terus melangkah cepat tanpa mempedulikan sekitarnya hingga Sofia menabrak nenek tua yang berpapasan jalan dengan nya. Namun, mereka tidak peduli dan bergegas masuk kedalam mobil mewahnya dan melajukan mobilnya itu.
Tanya yang melihat itu, dia pun menjadi kesal.
"Oi, Kmpret! enak banget loe pergi begitu saja!" Tanya dan lainnya pun melangkah ke nenek itu dan membantu nya berdiri. "Nenek, tidak apa-apa?" ucap Tanya yang khawatir dengan nenek tersebut.
"Nenek baik-baik saja cu," ucap Nenek sambil tersenyum.
"Syukurlah nek. Nenek mau kemana? biar saya antarkan!"
"Tid-" sebelum menyelesaikan ucapannya, Nenek itu kesakitan dan memegang jantungnya dan berlahan keseimbangan goyah.
Tanya pun menjadi panik melihatnya, "Nek! Nenek!"
Tanya yang sedang panik, dia pun sontak membawa nenek itu ke rumah sakit dengan memanggil ambulans dan Tanya pun ikut ke rumah sakit.
Setibanya di sana, Nenek itu langsung dimasukkan ke ruang UGD untuk diperiksa. Tanya merasa tanggung jawab dengan sikap kasar dari temannya Rachel itu hingga Tanya harus menunggu di depan ruang UGD ditemani oleh Ayu, Jaka dan Boim.
Beberapa saat kemudian, Dokter dan suster keluar. Tanya dan lainnya pun langsung menghampirinya.
"Bagaimana dok, keadaan nenek?"
"Pasien sudah melewati masa kritis. Dia punya penyakit jantung tapi, sekarang sudah lebih baik. Sekian." seusai mengucapkan itu, dokter pun pergi.
Sedangkan, suster menghampiri Tanya
"Nona, apakah anda keluarga atau walinya?"
"Iya, walinya. Jika, begitu silahkan ke ruang admistrasi untuk pengurusan biaya!"
__ADS_1
"Baik."
Setelah itu, Tanya mengurusi administrasi dan dia pun terkejut melihat jumlah yang harus dibayarkan sekitar 10 juta. Sejumlah itu, Tanya tidak mempermasalahkan karena uang itu juga pemberian dari Saga, pacarnya.
"Uang bisa didapatkan lagi tapi, nyawa tidak bisa kembali," batin Tanya yang memperkuat keputusan untuk membayar.
Seusai melakukan pembayaran, nenek itu pun dibawa ke ruang rawat kelas ekonomi. Sesaat kemudian, nenek itu tersadar dan menoleh kesamping dilihatlah seorang suster sedang merawat pasien disebelahnya.
Nenek itu pun menganalisa bahwa dirinya sedang berada dirumah sakit dan ingatan, dia mendadak jatuh di pinggir jalan.
"Suster, siapa yang membawa ku kesini?"
Suster yang sedang merawat menghentikan aktifitasnya dan teralih kepada Nenek.
"Nenek, ada sudah lebih baik?"
"Iya, tapi bagaimana aku bisa disini?"
"Oh, begitu. Terimakasih," ucap ramah Nenek.
Setelah itu, suster itu pun meninggalkan ruangan dan berpapasan dengan Angela yang masuk keruangan. Mereka pun saling bertukar senyum.
Tidak lama, Tanya dan lainnya menghampiri nenek itu.
"Nenek, anda sudah lebih baik?"
Nenek itu pun tersenyum dan ingin bangun namun, Tanya menghentikan nya. "Nenek, istirahat saja dahulu."
"Terima kasih Cu atas semuanya."
"Sama-sama. Yang penting nenek sehat saja dahulu."
"Iya. Cu, siapa namamu?"
__ADS_1
"Tanya."
"Nama panjang?"
"Tanya Dwi Saravati."
"Dimana orangtuamu?"
"Ayah dan ibu ku tinggal di Amerika karena aku tinggal berdua saja dengan kakak laki-laki ku."
Nenek itu tersenyum dan mengelus-elus Angela. "Maaf, nenek bicara yang tidak-tidak."
"Tidak apa nek. Aku juga sudah terbiasa."
"Kamu wanita yang kuat."
Angela tersenyum lebar, "Hihihi, terimakasih. Nek. Oiya, Nek. Aku ingin melanjutkan pekerjaan jadi aku tinggal ya. Nenek istirahat saja disini, Aku sudah membayar semua biaya rumah sakit."
"Terima kasih. Nak Tanya. Selamat melakukan aktifitas dan hati-hati dijalan!"
"Iya, kami pamit dulu."
Tanya pun mengencup pipi nenek itu. Hal itu merupakan kebiasaan dirinya terhadap neneknya. Setelah itu, Tanya pun pergi meninggalkan ruangan dan nenek itu tersenyum melihat kepergian Tanya dan lainnya.
Sejak saat itu, setiap Tanya bersama Ayu, Jaka dan Boim secara bergantian mengunjungi nenek itu. Tanya yang suka bercerita membuat nenek itu tertawa senang hingga suatu hari nenek itu mengambil sebuah keputusan.
Disaat Tanya dan lainnya sudah pergi, Nenek itu melihat suster yang lain. "Sus, boleh saya pinjam ponsel sebentar?"
Suster itu pun menghampiri nenek dan meminjam kan ponselnya. Lalu, nenek itu menghubungi seseorang.
"Halo, Pengacara Rizal. Ini Saya Lee Fang Wu. Saya telah memutuskan untuk mewariskan gedung Menara Imperium kepada putri angkat ku, Tanya Dwi Saravati Wu. Tolong urus!"
Sesudah mengatakan itu, Nenek Wu mengembalikan ponselnya dan tersenyum sendiri serta melihat keluar dari balik jendela.
__ADS_1