
...Chapter 89. Perundingan Heritage (Revised)....
Keesokan harinya, Tanya bersama Ayu, Jaka dan Boim pergi ke firma nya Rizal untuk membahas lebih lanjut tentang wasiat nenek Lee Fang Wu.
Setiba Tanya dan lainnya disana, mereka bertemu dengan seorang wanita cantik yang memakai baju blazer.
"Perkenalkan, Dia Miranda Kerr. General Manager yang akan membantu Mu untuk pengurusan menara Imperium." ucap Rizal memperkenalkan Miranda.
"Salam kenal, aku Miranda Kerr." ucap Miranda yang memberikan tangannya.
"Aku Tanya, salam kenal!" jawab Tanya yang menerima tangan itu.
Tidak hanya Tanya, Ayu, Jaka dan Boim juga memperkenalkan dirinya. Terutama Boim, dia malah terpesona dengan sosok Miranda.
Sesudah perkenalan, Rizal pun membacakan kembali wasiat lalu, dilanjut kan dengan Miranda yang menghitung sejumlah nilai untuk pengurusan hukum atau pun gedung yang membuat Tanya sedikit ada keraguan.
"Tunggu itu saja. Jika aku mewarisi Gedung sebesar itu tanpa ada modal. Bagaimana aku bisa merawat nya?!" panik Tanya sambil memegang kepala dengan kedua tangannya.
Rizal dan Miranda pun tertawa kecil melihat sikap dari Tanya itu.
Saat Tanya panik dengan hal itu, seseorang pun datang.
"Aku yang akan memberikanmu modal!"
__ADS_1
Suara yang tidak asing untuk Tanya dan ternyata itu Saga.
Tanya pun memberikan senyuman senang, " Mas Saga, kamu datang."
Saga menghampiri Tanya dan mencium keningnya lalu, duduk disampingnya.
"Baik, nona Miranda. Kita lanjutkan!"
"Baik, Presidir Saga." jawab Miranda.
Lalu, pembicaraan rinci pun dilakukan oleh Saga, Miranda dan Rizal. Sedangkan, Tanya tidak mengerti apa-apa. Dia malah terus memandangi Saga dari samping.
"Kalau begitu, Nona Miranda. Mohon kerja samanya!" ucap Saga yang mengakhiri perundingan.
Saga dan Miranda pun berdiri dan bersalaman. Tanya pun sontak ikut berdiri dan bersalaman. Kesepatakan dan pengaturan pun selesai.
Saga melihat kesamping, "Baik, Tanya. Sekarang, kamu mau kemana?"
"Kemana pun aku mau?" jawab Tanya fengan senyuman lebar.
Saga pun memberikan tangannya untuk digandengkan. Tanya menerima nya dengan suka cita.
__ADS_1
Siang mentari menyinari dua insan yang sedang berkencan menuju ke sebuah tempat yang belum dikunjungi nya. Selama ini Saga selalu mengajak Tanya kencan di kota Jakarta tapi tidak dengan hari itu.
Saga mengajak Tanya untuk pergi ke Bogor yang dimana melihat pemandangan gunung salak dan air terjun disana. Suka cita pun mereka rasakan yang mereka abadikan melalui sebuah gambar. Tanpa terasa waktu cepat berlalu, matahari mulai terbenam dan bulan sudah menujukan sinarnya.
Saat itu, mereka sedang berada di restoran yang berada di puncak gunung. Sambil melihat pemandangan perkebunan teh, mereka menyantap dan berbincang-bincang disana.
Setelah beberapa lama berbincang, ekpresi Tanya berubah dan mengubah topik menjadi lebih serius.
"Mas Saga, Kamu akan menikah dengan kak Rachel. Apakah aku juga akan menikah denganmu? Atau di jadikan simpanan?" ufap Tanya yang memainkan sendok nya serta menundukan kepalanya.
Saga pun menghela nafas panjang. Lalu, memegang tangan Tanya.
"Tanya, mas berjanji. Aku akan nikahkan kamu setelah menikah dengan Rachel."
"Iya. Tapi, kapan?!" ucap Tanya yang menaikan nada bicara nya namun, menitihkan air matanya.
"Sabar, Tolong percaya sama Mas, ya!" ucap Saga yang mengusap air matanya.
Dengan sikap Saga itu, Tanya pun menegakan kepalanya dan melihat Saga dengan senyuman.
"Iya, Mas. Aku percaya dan selalu menunggu."
Setelah makan, Saga pun mencari penginapan yang dimana saat itu, Saga menyadari hasrat Tanya kepada dirinya lagi tinggi maka dari itu, kedua insan itu bermain badan untuk menghabiskan malam mereka ditambah hasrat Tanya yang ingin memiliki Saga sepenuhnya dan anak dari dirinya.
__ADS_1