
Chapter 32. Cahya Candrawinata dan Tim Army Sunshine.
Saga dan Rizal telah berhasil mendapatkan Apartement Matahari. Itulah nama yang diberikan oleh Saga untuk apartemen yang dibelinya itu.
Sesudah transaksi usai, Saga menyarankan untuk Gunawan beserta keluarganya pindah rumah ke luar negeri dengan segala biaya yang ditanggung oleh Saga.
Gunawan pun menerima saran itu dan hari itu juga, Gunawan memutuskan untuk menjual rumah beserta perabotnya dan pergi pindah hanya membawa baju dan gadget serta barang-barang berharga lainnya.
Sedangkan, Saga dan Rizal pergi ke suatu tempat. Awalnya, Rizal ingin mengajak Saga untuk pergi ke sebuah tempat namun, dia mengurungkan niatnya itu dengan pergi menjenguk ayahnya yang sedang tidak sadarkan diri di rumah sakit.
Setibanya dirumah sakit, Saga melihat kondisi ayahnya Rizal yang sudah kurus tidak sadarkan diri dengan infus tangannya.
Lalu, Rizal memegang tangan ayahnya.
"Ayah, akhirnya aku berhasil mendapatkan Apartement yang ayah perjuang oleh ayah," ucap Rizal.
Saga yang berdiam diri di samping dan merasa perihatin dengan keadaan ayahnya Rizal.
Sesaat kemudian, Rizal memperkenalkan Saga kepada ayahnya.
"Ayah kenalkan, dia Saga sahabat ku dari kecil sejak tinggal di panti asuhan Mentari."
Saga pun maju selangkah mendekati ayahnya Rizal.
"Halo, om. Saya Rizal," ucap Saga seraya senyum kearah ayahnya Rizal.
Setelah itu, Saga dan Rizal pergi ke kantin rumah sakit. Saga mentraktir makan siang Rizal disana. Sambil menyantap makanan, Rizal menceritakan kronologis penyebab ayahnya mati otak.
Dua tahun yang lalu, Pak Cahya dipecat oleh kejaksaan karena dirinya yang tidak mau membela petinggi dari Prima Group. Setelah itu, Cahya menjadi pengacara dan membuka praktek hukum di apartemen tua tersebut.
Semua penghuni apartemen sangatlah ramah dan dekat dengan pak Cahya hingga suatu ketika Mirage Group datang untuk membeli apartemen itu dengan memberikan biaya kompensasi yang kecil sehingga penghuni disana tidak mau menerima kompensasi itu dan lebih memilih untuk tinggal.
__ADS_1
Cahya pun berusaha keras untuk memperjuangkan apartemen agar tidak dibeli oleh Mirage Group hingga Cahya mengetahui alasan mengapa perusahaan besar seperti Mirage Group namun sesaat setelah itu, Cahya mengalami kecelakaan mobil dan mengakibatkan Cahya tidak sadarkan diri.
Tidak hanya itu, bukti tentang kebenaran Mirage Group yang dibawa oleh Cahya menghilang. Meskipun, Rizal berusaha mencari bukti-bukti itu lagi. Semuanya nihill bahkan sampai saat ini.
Saga yang mendengar itu, dia pun memahaminya.
Beberapa saat kemudian, Saga dan Rizal pun meninggalkan rumah sakit seusai berpamitan dengan ayahnya.
Selama perjalanan, Saga terpikir sesuatu namun rencana itu mungkin memiliki resiko terkuaknya Chamber. Maka, Saga akan membicarakan nya dengan Aritoteles.
Lalu, Saga dan Rizal pun sampai di apartemen matahari.
"Welcome, Aga. Di Apartemen matahari!" ucap Rizal yang memperkenalkan lokasi yang saat ini berhenti.
Saga pun melihat apartemen itu memanglah apartemen tua berlantai 10. Ini terlihat dari cat tembok yang memudar serta beberapa peralatan yang berkarat.
Rizal pun memarkirkan mobilnya disana yang membuat beberapa penghuni apartemen yang berada di luar melihat kehadiran Saga dan Rizal.
Terlihat dari itu, Rizal memang orang yang cukup dikenal oleh penghuni apartemen.
Saat masuk kedalam apartemen, Rizal berhenti di pos satpam.
"Sore, pak Rizal. Bagaimana kabar anda?" sapa satpam.
"Sore juga, Pak Somat. Saya ingin mengumpulkan semua kepala keluarga apartemen ini. Ada sesuatu yang ingin ku sampai kan!" seru Rizal.
"Baik, Pak!" jawab Satpam.
Seusai itu, Saga dan Rizal masuk kedalam dan mereka pun pergi ke lantai 10 dan masuk ke kamar 1001.
Pada pintu kamar itu terlihat berbeda dari kamar lainnya karena pintu menggunakan pengunci digital dengan password.
__ADS_1
Rizal pun memecet password nya sambil mengatakan password itu dengan pelan.
"Saga, ingat password kamar ini 110111," ucap pelan Rizal.
"Iya, aku ingat tapi, kamar apa ini?" tanya Saga.
"Kamu akan tahu," jawab Rizal sambil tersenyum dan membuka pintu.
Setibanya didalam, suasana kantor terasa hingga Saga dan Rizal tiba di tengah kamar yang dimana terdapat beberapa orang yang sedang duduk di kursi dengan komputer canggih dihadapan nya terlihat ruangan itu seperti warung internet namun, mereka bukanlah bermain atau browsing melainkan Saga melihat gerakan grafik saham.
"Ini ruangan apa?" tanya Saga.
Rizal tersenyum dan memberi tahu kepada orang-orang disana, "Semua hentikan aktifitas kalian!"
Sekitar 6 orang menghentikan aktifitasnya dan berdiri menghadap Saga dan Rizal.
"Semua perkenalkan, dia Saga. Pemimpin dari Tim Army Sunshine ini," ucap perkenalan Rizal.
Saga pun memperkenalkan dirinya, "Saya Saga, Salam kenal!" ucap Saga sambil tersenyum.
Semua orang di sana meyambut hangat kehadiran pemimpin mereka. Ditengah perkenalan itu, seseorang masuk dan Saga mendengar suara yang tidak asing.
"Guys, sorry. Boba coklatnya abis!"
Sesaat kemudian, Saga melihat Boim yang ternyata juga ada disana.
"Boim?!" sapa Saga.
Langkah Boim terhenti dan melihat Saga, "Bro, akhirnya kita bertemu lagi disini." Boim pun langsung menaruh belanjaan nya dibawah dan memeluk Saga, "Wuaa, wanginya ... Saga, aku merindukanmu," ucap Boim didalam pelukan Saga.
Saga hanya tertawa kecil dan membiarkan Boim memeluknya. Tidak hanya Saga, semua orang dibuat tertawa kecil oleh tingkah laku Boim.
__ADS_1
Sejak saat itulah, Saga mengenal tim Army Sunshine. Sebuah kelompok hacker yang membantu pekerjaan Saga.