
...Chapter 91. Cincin Aneh dan Senja (Revised)...
Beberapa saat kemudian, Tanya pun membuka matanya dan melihat ada Saga yang sedang menggenggam tangan Tanya sambil tertidur disamping Tanya.
Tanya yang melihat itu, dia pun memberikan senyuman. Lalu, mengelus-elus pipi Saga lantaran Tanya melihat keimutan Saga saat tidur.
Hal itu membuat Saga terbangun dan tersenyum bahagia lantaran Tanya yang sudah sadar. "Tanya, syukurlah! kamu sudah sadar!"
"Iya, Mas. Maaf, saya merepotkan mas untuk menunggu saya disini."
"Tidak, saya selalu ingin direpotkan oleh kamu."
"Dasar gombal!"
Saga dan Tanya pun saling bertukar senyum.
Sesaat kemudian, Tanya pun ingin bangun dan dibantu oleh Saga, "Pelan-pelan!"
"Iya," jawab Tanya yang bangun dari rebahannya namun, dirinya dikejutkan dengan kondisi fisiknya yang lebih ringan dibandingkan sebelumnya. Tanya pun menatap bingung badan dan kosong. "Ada yang aneh?"
"Ada apa?" Saga pun jadi penasaran dibuatnya.
Disaat memeriksa tubuhnya, Tanya melihat sebuah cincin antik yang memiliki berlian biru. Lalu, Tanya pun mencoba melepaskan nya namun tidak berhasil. "Aku tidak bisa melepaskan cincin ini!"
"Coba ku lihat!" ucap Saga dan dia pun memeriksanya.
Melihat cincin yang dikenakannya Saga mengambil kesimpulan bahwa cincin itu bukan berasal dari Bumi melainkan dunia lain. Mungkin, para guru atau Operator bisa menjelaskan nya.
Namun, sebelum itu Saga pun mencoba menenangkan nya. "Tenang Tanya, Aku yakin ini bukanlah cincin yang berbahaya!"
"Baiklah, aku percaya kepada mu."
Saga dan Tanya pun saling bertukar senyum.
"Oiya, Rizal sudah menyelesaikan pengurusan dokumennya. Ayo kita ambil!" seru Saga.
"Iya," Tanya pun menganggukan kepalanya dan beranjak dari kasur.

Ditempat yang berbeda ...
__ADS_1
Seorang wanita cantik bernama Senja yang baru saja menyelesaikan tugasnya. Dia menghela nafas berkali-kali.
"Oke, Saya tidak bisa diginiin," gumam Senja.
Sesudah memutuskan itu Senja beranjak dari kursinya dan pergi ke ruangan Rizal yang dimana saat itu, Rizal masih sibuk dengan dokumen-dokumennya.
Melihat kedatangan Senja, Rizal menghentikan aktifitasnya dan menatap Senja dengan penuh senyuman.
"Ada apa, Senja?"
Senja tidak menjawab, dia mengunci pintu. Lalu, menghampiri Rizal dan mengebrak meja.
Bukk!
Suara gebrakan itu membuat Rizal sedikit terkejut.
"Wow, kenapa kamu marah-marah?" ucap santai Rizal sambil memegang dadanya.
"Kenapa katamu? Kamu pikir saya wanita murahan yang ditinggal begitu saja dan hanya memberikan surat. Setelah itu dari Tokyo, bapak akan menemui Saya. Saya ingatkan Saya bukanlah pengemis!" ucap kesal Senja.
"Ohh, jadi kamu ada rasa buatku," ledek Rizal. Dia pun beranjak dari kursinya dan menghampiri Senja.
Rizal pun tersenyum lalu, menarik dagu Senja dan memaksanya untuk melihat dirinya. Wajah Senja pun memerah lantaran melihat Rizal dari dekat.
"Bapak mau apa? jangan disini! Saya mohon," pinta Senja.
Rizal menaikan satu alisnya, "Kenapa memang disini? ini kantor milik ku jadi tidak ada yang melarang."
Senja terdiam dan tersipu malu.
Sesaat kemudian, Rizal mendekatkan wajahnya ke wajah Senja dan mencium bibirnya. Senja yang awalnya terkejut dengan membuka matanya lebar-lebar berubah sayu dan menutup matanya seraya menikmati permainan lidah Rizal didalam mulutnya serta secara reflek Senja mengalungkan tangannya dileher Rizal.
Hingga suara ketukan pintu terdengar.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan itu membuat mereka melepaskan ciumannya dan merapihkan diri mereka seakan-akan tidak terjadi apa-apa.
"Siapa?!" sahut Rizal.
"Tuan Saga dan Nona Tanya ingin bertemu dengan anda," jawab suara pria dari balik pintu.
__ADS_1
Senja pun bersikap biasa dan membuka pintu itu lalu, mempersilahkan Saga dan Tanya untuk masuk.
"Mas Rizal. Bagaimana tugasmu?" sapa Tanya saat memasuki ruangan.
"Beres, semua dokumen sudah on. Sekarang, kamu bebas ingin menjual atau menyewakan unit," jawab Rizal sambil melangkah kembali ke kursinya.
"Cepat nya! Lawyer jenius memang beda," puji Saga.
"Aga terlalu memuji."
Saga, Rizal dan Tanya pun saling bertukar tawa.
Beberapa saat kemudian, Senja ingin meninggalkan ruangan namun, Rizal menghentikan nya.
"Senja, tunggu sebentar!" seru Rizal.
Senja pun menghentikan langkahnya dan menghadap Rizal.
"Mumpung kamu disini Tanya, Aga! Siapkan satu unit kamar tiga untuk nama Senja! Aku yang akan membelinya!"
Saga tersenyum sendiri seraya melihat Rizal dan Senja.
"Mungkinkah kalian ..." ledek Saga.
"Kepo aja. Pokoknya siapin aja!" ucap Rizal.
"Iya. Oke." jawab Tanya
"Tapi, pak ..." tolak Senja saat mendengar ucapan Rizal.
"Senja, ini perintah dari atasanmu!" seru Rizal.
"Iya, Senja tidak apa-apa. Kalo Mas Rizal macem macem nanti Saya yang akan memukulnya!" ucap Tanya.
Mendengar itu, membuat semua orang disana tertawa kecil.
Seusai percakapan itu, Saga juga ingin membeli apartemen berkamar dua dan meminta bantuan Rizal untuk pengurusan pindahan nya. Rizal pun tidak masalah Lalu, dalam beberapa hari transaksi dan menguruskan selesai dengan mudah.
Bagi Rizal membeli rumah bagaikan membeli cabai dipasar.
Dalam seminggu, Tanya sudah mendapat tabungan bersih 2,5 Milliar rupiah dari hasil penjualan unit dan sesudah dipotong untuk biaya gaji, perbaikan apartemen dan pembelian beberapa barang yang rusak.
__ADS_1