
Chapter 75. Suprise Performance.
Pesta masih berlanjut, Saga yang sudah menyatakan lamaran kini dia terus berdiri disamping Rachel sambil memegang pinggangnya.
Rachel dan Saga pun berbincang kecil. Disisi Saga, Rizal juga bisa ikut berbincang serta ucapan selamat dari para tamunya. Saga pun saat itu menyadari kedekatan Rachel, Sofie dan Jonathan dari cerita mereka saat masih dibangku sekolah.
Beberapa saat kemudian, Saga memisahkan diri dari para tamu dan menyindiri di sisi ruangan dekat jendela ruangan sambil menikmati wine ditangannya.
Sesaat kemudian, Rizal dan Raya.
"Aga, akting mu luar biasa. Bisa-bisa kamu dapat piala Oscar!" ledek Rizal.
"Bisa saja," jawab Saga.
"By the Way, bagaimana dengan Tanya?" sambung Rizal.
Saga melihat ponselnya dan membayangkan kebersamaannya dengan Tanya.
"Aku akan menjelaskan semuanya dan walaupun, aku sudah bertunangan ataupun menikah. Aku ingin tetap bersamanya. Semoga dia mengerti."
Rizal dan Raya menatap Saga dengan pandangan prihatin. Bagaimana tidak, sahabat dan saudara angkat mereka sedang berada di kutukan asmara?
Rizal pun merangkul Saga, "Apapun itu, kita selalu bantu, iya gak Ray?!"
Raya tersenyum dan menganggukan kepalanya.
Sesaat kemudian, Rachel mendatangi Saga.
"Sang Ratu, datang!" ucap pelan Rizal.
Melihat Rachel datang, Rizal dan Raya pergi meninggalkan Saga seorang diri. Mereka membiarkan Rachel dan Saga berbicara empat mata.
__ADS_1
"Hei, kamu tidak apa-apa?" tanya Rachel yang tersenyum serta memasang wajah khawatir melihat wajah Saga yang sedikit pucat.
"Aku tidak apa-apa. Mungkin, hanya kelelahan."
Rachel menghela nafas panjang, "Terima kasih ya atas kejutan yang kamu berikan."
Sebenarnya, itu merupakan jebakan dari ayahnya. Namun, Saga tidak tega untuk berkata jujur yang nantinya akan menyakiti hati Rachel. Jujur saja, Saga menyukai Rachel namun, dia belum sampai ke tahap cinta. Sedangkan, Saga sudah menumbuhkan perasaan cinta kepada Tanya. Maka dari itu, Saga memutuskan untuk berbohong kepadanya.
"Apa kamu bahagia dengan kejutanku?"
"Sangat bahagia!"
Saga dan Rachel pun saling bertukar senyuman.
Tidak lama kemudian, seorang tamu menghentikan nyanyian dan Sandra pun naik ke panggung mengucapkan terima kepada tamu yang mau menyumbangkan suaranya itu.
"Sekarang, mari kita sambut! putra dari Liliana. Seorang wanita yang cantik, kaya bahkan pandai bermain piano. Saga, silahkan sumbangkan performa mu!"
Sandra menatap remeh dan lagi-lagi ingin mempermalukan Saga. Sebagai mana dia tahu, Saga besar di panti asuhan dan tidak akan mungkin bisa bermain piano. Hal itu bisa membuat Saga malu didepan umum.
Rachel yang mendengar itu, dia merasa kesal.
"Apa sih? nenek itu!"
Saga memegang bahu Rachel dan menenangkan nya.
"Tidak masalah, Rachel. Aku bisa sedikit sedikt."
"Semangat. Apapun alunannya, aku pasti tetap mendukung."
"Terima kasih, Rachel."
__ADS_1
Dengan iringan tepuk tangan, Saga berjalan ke panggung bagian musik. Tatapan remeh dari Sandra dan Andreas terlihat oleh Saga. Namun, Saga harus menahan emosinya dan selalu menunjukan senyuman.
Sampai Saga didekat alat musik grand piano. Sebelum duduk, Saga mengatakan sepatah dua katanya.
"Permainan ini aku persembahkan untuk ulang tahun dan tunanganku, Rachel Prima."
Ucapan Saga itu membuat para tamu bertepuk tangan kembali. Setelah itu, barulah Saga duduk.
Saga menarik nafas dalam-dalam dan suasana menjadi hening.
"Tanya, lagu ini juga ku persembahkan untukmu," batin Saga dan barulah Saga memainkan nya.
Instrumen yang dimainkan oleh Saga ialah Beethoven - Moonlight Sonata.
Permainan piano Saga itu membuat semua orang terpukau dan terkagum. Dalam Alunan itu, Saga mengingat semua momen bersama Tanya begitu juga Rachel.
Saga belajar musik dari guru Aritoteles serta lagu yang dimainkan oleh Saga merupakan lagu kesukaan dari ibu kandungnya, Liliana Indraguna.
Maka dari itu, Sandra yang mendengar nya menjadi semakin kesal dengan Saga namun, berbeda dengan Andreas. Dia tersenyum senang lantaran Andreas melihat sosok Liliana yang bermain piano bukanlah Saga.
Disisi pintu juga, Niken menyaksikan perfoma Saga dan membuatnya terpesona.
"Njing! beruntung banget kakak gue!" dumel pelan Niken.
Tidak hanya Niken, Rachel pun terpesona bahkan sampai menitihkan air matanya.
Beberapa saat kemudian, permainan Saga berakhir yang membuat seluruh ruangan gemuruh dengan suara tepuk tangan dan kegembiraan serta kekaguman terhadap Saga.
Saga pun berdiri dari kursi piano dan memberikan salam melipatkan tangan serta membungkukkan kepala seperti layaknya seorang pangeran.
Sesudah itu, Saga melihat kearah kedua temannya yang sedang mengacungkan jempol lalu, pandangan teralih pada Rachel yang tersenyum bahagia.
__ADS_1
Sebuah performa yang tidak akan dilupakan oleh Saga dan Rachel.