
Chapter 59. Tragedi Jaka.
Perjalanan malam Saga dan lainnya tidak memakan waktu lama bahkan perjalanan pulang dimalam hari lebih cepat dari 40 menit menjadi 30 menit dengan mengunakan jet pribadi meski jet itu masih harus menyewa.
Setibanya di Jakarta, Saga mendapatkan sebuah notifikasi yang masuk.
Saga yang menyadari itu, dia membuka pesan itu yang ternyata isinya Jaka masuk rumah sakit dan mengalami pendarahan yang dalam. Saat ini, Boim dan Ayu sedang menunggu hasil operasi nya.
Saga yang melihat pesan itu sontak terkejut hingga membuat lainnya menyadari kagetnya Saga.
"Aga, ada apa? keliatannya ada yang serius?" tanya Rizal.
"Mas, ada apa?" sambung Tanya yang merasa khawatir dengan sikap Saga.
Saga pun melihat Tanya dan Rizal dengan ekspresi yang serius.
"Jaka, masuk rumah sakit dan saat ini, dia sedang dioperasi," jawab Saga.
"Apa?!" kaget Rizal.
Tanya yang mendengar itu, dia sontak menutupi mulut dengan kedua tangannya.
"Apa yang terjadi?" tanya Rizal.
"Aku juga tidak tahu. Yang jelas, aku akan kesana sekarang," ucap Saga.
"Jangan membuang-buang waktu lagi, Ayo! kita bergegas!" seru Rizal.
Lalu, mereka pun pergi ke rumah sakit.
Setibanya di sana, Saga melihat Boim dan Ayu yang sedang menunggu dengan gelisah di pintu masuk ruang Operasi.
"Ayu?!" sapa Tanya.
Saat Tanya mengatakan itu, Ayu dan Boim melihat kearah Saga dan lainnya. Terutama Ayu, dia sontak beranjak dari kursi dan berlari menghampiri Tanya yang juga berlari kearah Ayu.
Lalu, mereka pun berpelukan dan Ayu menangis di pelukan Tanya. Sedangkan, Saga menghampiri Boim.
Boim pun berdiri dan menundukkan kepalanya.
"Boim, apa yang terjadi?" tanya Saga.
Boim yang mendengar itu, dia menghela nafas dan sepertinya dia sulit untuk menceritakan nya.
__ADS_1
Namun, Boim mengumpulkan tekad dan menenangkan dirinya.
"Awalnya ..."
Boim pun mulai bercerita, saat tadi Boim dengan biasanya berkumpul di cafe Jaka dan Ayu pun ada disana.
Awalnya berjalan biasa saja sampai beberapa saat kemudian, sekelompok orang berjaket hitam mendatangi cafe.
Hal itu tentu membuat para pengunjung risih dengan kehadiran mereka. Tidak hanya penampilan preman mereka tapi juga omongan yang kasar, menepuk pntat pelayan disana dan tertawa keras.
Boim dan Ayu serta pengunjung lainnya hanya terdiam ada juga yang lebih memilih pulang. Jaka sebagai pemilik cafe juga hanya bisa berdiam diri.
Namun, beberapa saat kemudian. Salah satu preman menghampiri Ayu dan menggoda nya bahkan sampai bersikap kurang ajar dengan memegang pyudaranya. Ayu pun sontak menamparnya.
Preman itu pun menjadi kesal begitu pun juga teman-teman. Mereka beranjak dari kursi dan ingin membantu temannya itu.
Namun, preman yang ditampar itu tidak membutuhkan nya dan dia pun melesatkan tamparan lagi ke pipi ayu hingga membuatnya terjatuh.
Jaka pun tidak bisa membendung kemarahan nya lagi. Lalu, perkelahian pun terjadi. Meski begitu, Jaka tidak bisa menang melawan enam preman yang ada di cafe bahkan serangan terakhir preman menusuk Jaka hingga dia tidak sadarkan diri.
Untungnya saat itu, ada polisi yang datang dan membubarkan perkelahian. Boim juga yang melihat keadaan Jaka, dia bergegas menelepon ambulan dan membawa Jaka ke rumah sakit.
Itulah cerita dari Boim. Mendengar itu, Ayu menangis kencang lagi.
Tanya yang rangkul Ayu mencoba menenangkan nya . Namun, dia mengelengkan kepala dan menghela nafas panjang.
Beberapa saat kemudian, pintu ruang operasi terbuka dan seorang dokter bersama satu suster keluar dari ruangan dalam kondisi pakaian hijaunya.
Saga dan lainnya sontak menghampiri nya.
"Bagaimana, dok?" tanya Saga.
"Syukur kepada Tuhan, operasi berhasil dan masa krisis nya sudah lewat. Namun, saat ini pasien masih belum stabil dan harus dirawat secara intensif," ucap Dokter.
Mendengar itu, Saga dan lainnya menghela nafas lega.
"Terima kasih, dok," ucap Saga.
"Sama-sama dan Saya pamit undur diri!" ucap dokter.
"Silahkan, dok!" jawab Saga.
"Siapa keluarga atau walinya yang akan mengurus administrasi nya?" tanya suster.
__ADS_1
"Saya... mari, Sus! " jawab Rizal yang mengajukan diri.
Rizal dan suster itu pun pergi.
Meski Jaka sudah melewati masa kritis namun, Saga tidak bisa menerima temannya diperlakukan seperti itu dan dia juga menahan rasa amarahnya hingga dia memutuskan untuk melakukan sesuatu.
"Raya, ayo lakukan!" ucap Saga dengan nada dingin.
"Baik," jawab Raya sambil menundukkan kepala.
Boim pun mengerti dengan sikap Saga itu dan dia menghampiri Saga.
"Ketua, apa perintah ada?" ucap pelan Boim.
Mendengarkan dan melihat sikap Boim. Ayu dan Tanya menatap heran dan tidak mengerti dengan maksud temannya itu.
Saat Boim mengatakan itu, Saga memerintahkan dirinya untuk tetap disini dan menghubungi Dina agar melacak keberadaan preman-preman tersebut.
Tanpa ada penolakan, Boim melaksanakan nya.
Tanya yang masih bingung, dia pun menghampiri Saga.
"Mas Saga, ada apa?" ucap Tanya.
Saga pun tersenyum lebar dan memegang kedua bahu Tanya.
"Tanya, Mas ada urusan. Kamu pulang saja dahulu biar diantar oleh Rizal atau Boim. Oiya, satu hal lagi. Tanya, tolong temani Ayu! Dan, bawa dia ke rumahmu. Kamu mengerti?" ucsp Saga.
"Baik, Mas," jawab Saga.
Saga pun melihat kearah Ayu, "Ayu, kamu pulang saja dahulu, ya. Jika kamu begini, Aku akan dimarahi oleh Jaka nanti, ya!" ucap Saga.
"Baik, Mas Saga," jawab pelan Ayu.
Setelah itu, Saga dan Raya pun meninggalkan rumah sakit.
"Mas Saga!" seru Tanya.
Saga pun menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang.
"Berhati-hatilah! Dan, Jangan pulang pagi!" seru Tanya.
Saga pun tersenyum dan menganggukan kepalanya. Lalu, Saga dan Raya melanjutkan langkah keluar dengan wajah yang dingin.
__ADS_1