Ruang Kekayaan Milik Saga

Ruang Kekayaan Milik Saga
Chapter 62. Pengobatan Alternatif


__ADS_3

Chapter 62. Pengobatan Alternatif.


Saga yang berhasil dalam percobaan pemindahan barang Chamber maka, Saga pun memperkenalkan Chamber kepada Rizal.


Reaksi yang sama seperti Raya ditunjukan Rizal. Dia terkagum-kagum apalagi dengan sifat dirinya yang sangat menyukai game RPG.


Saat Saga, Raya dan Rizal berkunjung ke panti asuhan Kerajaan. Rizal membuka matanya dan mempercepat langkahnya menghampiri Agitta yang sedang menyirami bunga.


Rizal yang sudah berjarak dekat dengan Agitta. Dia langsung memberikan tangan dan menundukkan kepalanya.


"Salam kenal, Aku Rizal Candrawinata. Jadilah, pacarku!" ucap Rizal.


Sikap Rizal itu tentu mengejutkan Agitta dan sedikit ketakutan. Namun, rasa kaget dan takutnya terobati oleh kedatangan Saga.


Tanpa mempedulikan Rizal, Agitta melangkah menghampiri Saga.


"Tuan Saga," ucap Agitta.


"Hei, Agitta," jawab Saga.


Rizal menyadari itu, dia mengembalikan posisi badannya dan menoleh kebelakang.


"Aku dicuekin," gumam Rizal sambil memasang wajah cemberut.


Saga dan Raya yang melihat itu, mereka pun tersenyum.


Sesudah itu, Saga pun kembali memperkenalkan Rizal kepada Agitta. Saat itulah, Agitta menyambut hangat Rizal dan meminta maaf atas sikapnya yang tidak sopan. Rizal pun juga meminta maaf karena mendadak menghampiri nya.


Selain kepada Agitta, Saga memperkenalkan guru nya, Aritoteles. Tentu itu juga membuat senang Rizal yang juga menyukai pelajaran filsafat.


Lalu, beberapa saat kemudian mereka pun tiba di tempat taman obat dan racun yang merupakan tempat penelitian dari guru Avicenna.


Saat disana, Saga pun menjelaskan maksud dan tujuan dirinya diajak ke Chamber.


"Rizal, ada sesuatu yang ingin aku katakan?" ucap Saga.


"Ada apa sih? kayak yang serius?" jawab Rizal.


Saga pun melihat kearah Avicenna dan memberikan isyarat kepada Guru Avicenna. Beliau pun mengerti, Lalu diambilnya lah sebuah ramuan yang dimaksudkan oleh Saga.


"Rizal, Aku dan guru Avicenna telah melakukan riset untuk mencari obat mati otak dan ..." Saga menghampiri Rizal dengan sebuah botol ramuan, "Ini obatnya. Aku harap bisa menyembuhkan paman Cahya. Meski, belum ada yang mencobanya tapi aku jamin ini aman," ucap Saga sambil memberikan sebotol ramuan.

__ADS_1


Rizal yang mendengar itu, dia pun menitihkan air mata nya.


"Terimakasih, Aga. Apapun itu, aku percaya kepadamu!" ucap Rizal yang diakhiri dengan memeluk Saga.


"Sama-sama," jawab Saga yang menerima pelukan Rizal.


Sesaat kemudian, Saga dan lainnya memasukan ramuan itu kedalam kotak kaca adapun benda lainnya di kotak itu. Sesudah itu, mereka keluar dari Chamber.


Setelah keluar, Saga mengehentikan langkah.


"Guys, tunggu sebentar!" seru Saga.


Rizal dan Raya pun menghentikan langkahnya.


"Ada apa?" tanya Rizal.


Saga tidak menjawab dan dia mengambil kantong kulit yang ada di dekat ramuan.


"Aku takut tidak keburu waktu maka dari itu, aku mencoba ini," ucap Saga sambil memamerkan kantong kulit.


"Benda apa itu?" tanya Rizal yang menghampiri Saga karena penasaran dengan kantong kulit yang dipegang Saga.


"Ini serbuk portal," jawab Saga seraya senyuman.


Saga pun langsung mencoba benda itu dengan mengambil sebuah serbuk dari dalam kantong. Lalu, Saga menutup matanya sambil mengepal serbuk itu.


Saga pun membayangkan kamar rawat dari Paman Cahya yang tidak lama serbuk itu bersinar putih. Saga yang menyadari itu, dia sontak melemparkan nya di udara.


Saat serbuk itu diudara, tiba-tiba serbuk-serbuk itu membuat formasi lingkaran dan ditengahnya terbentuk genangan air.


Saga yang melihat itu, dia tersenyum lebar. Sedangkan, Rizal dan Raya terbujur kagum.


"Wow, udah kaya di film-film aja. Keren!" ucap kagum Rizal.


"Yups, walau itu hanya durasi 30 menit," jawab Saga lalu, dia pun berjalan melewatinya lingkaran itu.


"What?! 30 menit? apa maksudnya?" heran Rizal.


Raya pun tersenyum kecil kepada Rizal lalu, menyusul Saga.


"Oi, tunggu! Aga, jelaskan kepadaku!" ucap Rizal sambil berlari menyusul Saga.

__ADS_1


Sesaat Rizal melewati gerbang. Secara otomatis, gerbang itu menghilang dan Rizal yang ingin bertanya menjadi terdiam bahwasannya dirinya sudah ada di ruang rawat ayahnya.


"Ini berhasil!" gumam Rizal.


"Ayo, sekarang kita obati! waktu, kita tidak banyak!" seru Saga.


Saga pun mengambil ramuan dari kotak dan berjalan menghampiri paman Cahya dan ingin menyuapi nya tapi, Rizal menghentikannya dan dia pun ingin mengambil alih untuk memberikan ramuan tersebut.


Saga pun mengizinkan.


Rizal pun menyuapi ramuan itu dan sebuah butiran cahaya muncul mengelilingi paman Cahya namun tidak lama.


Tidak lama kemudian, paman Cahya menunjukan reaksinya dengan pergerakan kecil dari tangannya.


Rizal yang melihat itu sontak memegang tangan paman Cahya.


"Ayah!" seru Rizal.


Tidak berlangsung lama juga, paman Cahya membuka matanya dan melihat ke samping.


"Rizal?" gumam pelan paman Cahya.


Rizal yang melihat itu sontak memeluk ayahnya, "Ayahhhh!"


Paman Cahya pun juga menyambut pelukan anaknya itu.


Sedangkan, Saga dan Rizal yang sudah membuka gerbang. Mereka tersenyum dan masuk kembali ke gerbang.


Dan, membiarkan Rizal temu kangen dengan ayahnya.


Lingkaran itu bukanlah ke rumah Saga melainkan ke ruang rawat Jaka.


Setibanya disana, Saga juga memberikan ramuan yang sama kepada Jaka yang membuat Jaka juga menunjukkan reaksi kesadaran.


Saga pun menyadari itu. Lalu, dia menekan tombol pemanggil dokter dan kembali melintasi gerbang.


Saat itu, Jaka yang masih setengah sadar melihat Saga yang melintas ke gerbang.


"Saga?" ucap pelan Jaka.


Setibanya dirumah, berlahan-lahan serbuk itu menjadi pasir karena durasi 30 menit sudah lewat.

__ADS_1


Meski begitu, Saga bernafas lega karena masih bisa mengobati Paman Cahya dan Jaka.



__ADS_2