Sakinah Bersama Mu

Sakinah Bersama Mu
Bab 21


__ADS_3

Aisha berjalan menelusuri kompleks tempat tinggal Bani, Ia menanyakan kepada satu persatu warga di mana pernikahan Bani di gelar.


"Permisi bu, mau numpang tanya" ucap Aisha sopan.


"Mau tanya apa ya ?" tanya warga.


"Apa ibu tau dimana tempat pernikahan Bani ?".


"Maksudnya ustaz Bani, kalau gak salah di hotel" jawab warga tersebut.


"Nama hotelnya apa ya ?" tanya Aisha lagi.


"Nama hotelnya saya lupa, maaf neng saya lagi buru - buru" ucap warga tersebut seraya meninggalkan Aisha.


Aisha tak patah semangat, ia pun kembali bertanya pada warga yang berhasil ia temui. setelah setengah jam akhirnya Aisha berhasil mendapatkan informasi di mana tempat pernikahan Bani.


Aisha pun bergegas menuju sebuah hotel tempat Bani melangsungkan pernikahannya, Aisha kembali menggunakan ojek Online agar cepat sampai ketempat tujuannya.


Perjalanan kali ini sangat terasa lama sekali bagi Aisha, apalagi dengan cuaca yang sangat terik.


"Pak bisa lebih cepat lagi gak bawa motornya" ucap Aisha pada pengemudi ojek online tersebut.


"Ini sudah cepat mbak, kalau saya naikkan kecepatannya takut di tilang polisi" jawab sang pengemudi ojek online.


Aisha pun mendengus kesal, ia sangat kecewa dengan jawaban dari sang pengemudi ojek online tersebut.


Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam setengah akhirnya Aisha sampai di sebuah hotel tempat di mana Bani melangsungkan pernikahan. Aisha pun menatap gedung tersebut. gedung itu terlihat sangat sepi sekali tak ada satu pun orang yang terlihat ingin menghadiri pesta.


"Apa bener ini hotelnya, tapi kok sepi sekali" gumam Aisha seraya memperhatikan gedung hotel.


"Maaf ada yang bisa di bantu !" tegur satpam yang bertugas di sana, ia sengaja menegur Aisha karena seperti terlihat sangat kebingungan.


"Oh iya, saya mau tanya apa di dalam ada pernikahan ?" tanya Aisha.


"Ada mbak".


Aisha pun berlalu untuk masuk ke dalam hotel tersebut, namun karena curiga satpam tersebut kembali menghentikan langkah Aisha.


"Ada apa lagi ?" tanya Aisha yang terlihat sangat kesal.

__ADS_1


"Mbak tidak di izinkan masuk ke dalam karena bagi setiap tamu yang datang harus menunjukan kartu undangannya" ujar satpam tersebut.


"Saya ini temennya, jadi gak perlu pake kartu undangan segala !!" Seru Aisha karena ia merasa di halang - halangi untuk masuk ke dalam.


"Tapi ini sesuai protokol yang ada".


"Kalau bapak gak percaya silahkan tanyakan langsung pada Bani !!" Seru Aisha lagi.


"Hah Bani, siapa dia ?" tanya Satpam tersebut.


"Bani, dia adalah pengantin yang nikah di sini".


"Hahaha mbak suka ngaco yang nikah di sini adalah pak Beni pemilik hotel ini, lihat saja karangan bunga yang berjejer di sana" ucap satpam seraya menunjuk ke pada dereratan karangan bunga.


"Kenapa jadi begini, ibu tadi bilang di hotel ini" gerutu Aisha.


"Apa di sini ada dua pernikahan ?" tanya Aisha lagi.


"Yang nikah di sini adalah pemilik hotel yang otomatis nikah di sini hanya pemilik hotel, dan waktu nikahnya juga nanti pukul empat belas" jelas satpam tersebut.


"Apa iya ibu yang tadi membohongi ku" gumam Aisha.


Dengan perasaan yang campur aduk, Aisha meninggalkan hotel tersebut, harapan satu - satunya untuk menghentikan pernikahan Bani telah gagal, harapan memiliki Bani pun sudah tak ada lagi.


Usut punya usut ternyata Aisha salah dengar, karena ibu tersebut lupa nama hotel tempat acara Bani lalu ibu itu pun menyebutkan jika hotel tempat Bani menikah berada di sebrang hotel tempat Beni menikah. namun karena saking bahagianya mendapatkan info tempat Bani menikah, Aisha tidak begitu mencerna setiap kata yang di ucapkan ibu - ibu tersebut.


Aisha pergi ke sebuah taman, ia menangis sejadi - jadinya, harapan untuk bahagia bersama pujaan hatinya pun seakan telah sirna.


"Apa salah ku, kenapa sepertinya tuhan tidak pernah mengizinkan aku untuk bahagia, padahal aku sudah sangat taat akan perintah mu" gumam Aisha dalam hatinya.


Aisha merasa bahwa tuhan itu tidak adil, kenapa ia selalu gagal dalam meraih sebuah kebahagiaan. dirinya baru saja bangkit namun kini ia harus merasakan sebuah kejadian yang membuat dirinya semakin terpuruk ke dalam sebuah jurang yang dalam. kalau bukan karena sang adik mungkin ia telah nekad untuk mengakhiri hidupnya.


Aisha kembali ke rumahnya, setelah puas menangis di taman seorang diri, ia tak ingin adiknya mengetahui tentang ke sedihannya itu.


"Kenapa dengan mata kakak, apa kakak habis menangis ?" tanya Ayla.


"Oh ini, tadi di jalan kakak kena debu" jawab Aisha.


"Kakak tidak sedang berbohongkan ?".

__ADS_1


"Tidak adik kakak yang paling bawel" jawab Aisha, ia berusaha menyunggingkan senyumannya walau terasa berat.


"Aku gak mau kakak kenapa - kenapa, karena hanya kakak yang ku punya saat ini" ucap Ayla seraya tertunduk sedih.


"Kakak baik - baik saja, kamu juga harus pinter jaga diri, kamu adalah satu - satunya kekuatan kakak" keduanya berpelukan


"Aku tau kakak sedang sedih, tapi kenapa kakak tidak cerita" Batin Ayla.


"Maafkan kakak ya dek, kakak gak bisa jujur sama kamu. kamu itu terlalu kecil untuk mengetahui apa yang sedang terjadi pada kakak mu ini" gumam Aisha dalam hatinya.


"Kakak mau istirahat sebentar ya, kalau kamu lapar tinggal masak mie instan saja atau gak goreng telor" ucap Aisha seraya melepaskan pelukannya.


"Iya kakak" ucap Ayla.


Aisha masuk ke dalam kamarnya, tangisnya pun kembali pecah namun ia berusaha agar tak mengeluarkan suara yang akan membuat sang adik curiga.


"Ayah, Ibu, kenapa berat sekali ujian hidup ini, aku ingin ikut bersama mu, tapi aku masih memiliki tanggung jawab terhadap Ayla. Ayah, Ibu aku lelah dengan situasi seperti ini, aku ingin merasakan kebahagiaan seperti yang orang lain rasakan, Tapi kenapa tuhan itu sekan - akan tidak mengizinkan aku untuk bahagia" gumam Aisha seraya menatap foto kedua orang tuanya.


"Apa takdir ku harus jadi yang ke dua atau ketiga" ucap Aisha lirih.


"Jika memang takdir ku seperti itu, aku rela jadi istri keduanya Bani yang terpenting Bani menerima semua kekurangan ku, berpoligami itu tidak di larang, banyak kok yang sudah berpoligami dan hidup mereka bahagia - bahagia saja" sambung Aisha.


Kini tekadnya adalah harus bisa menemui Bani, dan bicara baik - baik, Aisha siap jika dirinya di jadikan yang kedua. cintanya yang besar membuat Aisha tak memikirkan perasaan istri Bani, dalam pikirannya, mereka sama - sama wanita yang mencintai satu laki - laki ya itu Bani.


"Besok aku harus kembali menemui Bani, aku harus datang lagi ke pesantren kemaren" gumam Aisha.


"Ya Allah jika ini takdir ku, mudahkan lah jalannya, hamba ikhlas jika harus jadi yang ke dua" doa Aisha.


...🌾🌾🌾🌾🌾...


Jangan lupa baca juga karya author yang lainnya.


📍Aku Memilih_Mu


📍Bertemu Jodoh Di pesantren


📍Hujan Kemarin


Jangan Lupa Like dan Vote juga agar author semakin semangat dalam melanjutkan cerita ini. berikan juga saran dan kritikannya juga di kolom komentar.

__ADS_1


__ADS_2