
'Huh bagaimana bisa aku melupakannya begitu saja' gerutu dokter Martin saat ia baru menyadari ponselnya tertinggal di rumahnya.
Tadi ia buru - buru berangkat karena akan bertemu dengan Zahra sebelum ia berangkat menuju rumah sakit tempatnya bekerja. dengan sangat terpaksa Dokter Martin kembali kerumahnya padahal ia sudah setengah perjalanan.
Dokter Martin mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena ia mengejar waktu, untung saja jalan tak begitu ramai karena jalan menuju rumah dokter Martin bukan jalan raya utama hingga jalanan cukup lengang.
Saat akan masuk ke dalam rumahnya, Ia mendengar Umi dan Abahnya sedang berbicara, Dokter Martin terkejut saat mendengar jika Aisha akan pergi karena Umi Fatimah ingin Aisha menjadi anak angkatnya.
'Kenapa Aisha tidak pernah bercerita tentang masalah ini ?' gumam dokter Martin dalam hatinya.
"Jadi Aisha akan pergi dari sini ?!" tanya dokter Martin, ketiganya kompak menengok ke arah sumber suara.
"Umi, Abah, apa benar Aisha akan meninggalkan Yayasan ini ?" tanya dokter Martin lagi karena ia belum juga mendapat jawaban.
"Nak bukannya kamu tadi sudah berangkat, kenapa kamu masih ada di sini ?" Umi Lilah malah balik bertanya dan tak mempedulikan pertanyaan sang putra.
"Iya tadi Martin memang sudah berangkat tapi ponsel Martin tertinggal jadi Martin putuskan untuk kembali kerumah lagi" jawab dokter Martin.
"Apa benar Aisha akan pergi Umi ?" tanya Dokter Martin lagi.
"Iya nak, Umi Fatimah ingin mengangkat Aisha menjadi anaknya" jawab Abah Anom.
'Kenapa kamu bersikap seolah - olah tak ingin aku pergi, bukannya sekarang kamu sudah tidak peduli lagi dengan ku karena sekarang sudah ada Zahra di hidup kamu' batin Aisha.
Dokter Martin berlalu menuju kamarnya dengan perasaan yang begitu kecewa terhadap Aisha yang tak memberi tahu kabar tersebut kepadanya.
'Kenapa kamu merahasiakan ini dari ku ?' batin dokter Martin.
banyak sekali pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada Aisha, namun hal itu harus di urungkan karena ia harus segera menemui Zahra perempuan itu pasti sudah menunggunya.
Dokter Mertin pamit untuk kembali berangkat, ia tak memperdulikan Aisha, Dokter Martin berlalu begitu saja dengan perasaan yang kecewa.
'Kamu masih hutang penjelasan pada ku Aisha' batin Dokter Martin.
__ADS_1
Aisha melihat kepergian dokter Martin dengan perasaan entah yang tak bisa di jelaskan.
'Kamu tak perlu berharap lebih, mereka sudah baik pada mu Aisha, mereka bersikap seperti ini karena mereka kasihan pada mu' batin Aisha.
"Bagaimana nak ?" tanya Umi Lilah sukes membuyarkan lamunan Aisha.
"Untuk soal anak kamu tidak usah khawatir, kamu bisa datang ke sini untuk mengajar mereka bisa setiap hari atau bisa seminggu dua atau tiga kali" sahut Abah Anom.
"Aku akan pikirkan terlebih dahulu Umi, Abah. Aisha minta waktu untuk memutuskan semua ini" pinta Aisha.
"Baiklah, ini memang bukan keputusan yang mudah, namun apa pun ke putusan mu nanti Umi dan Ahah akan mendukungnya, kamu bukan anak kecil lagi jadi Umi yakin kamu pasti tahu mana yang terbaik untuk kamu sendiri" jelas Umi Lilah.
...*****...
"Baiklah, aku akan segera ke sana, mungkin lima belas menit lagi akan sampai" jelas dokter Martin lalu menutup sambungan teleponnya.
Dokter Martin mengutak - ngatik ponselnya dengan serius, lalu ia menghubungi seseorang.
"Ayo angkat dong peting ini" gumam Dokter Martin.
"Hai Za, apa kamu sudah tiba di tempat ?" tanya dokter Martin.
"Iya aku baru tiba dan masih berada di parkiran, maaf jika aku datang telat dan membuat kamu menunggu lama".
"Za aku mau minta maaf sebelumnya karena aku tak bisa menemui kamu sekarang, aku masih di jalan namun barusan dapat panggilan jika aku harus segera datang ke rumah sakit karena Dokter Gilang tak bisa datang aku harus menggantikannya untuk jaga di ruang unit gawat darurat" jelas Dokter Martin.
Terdengar helaan napas berat dari sebrang telepon, Dokter Martin tahu pasti Zahra sangat kecewa dengan pembatalan tersebut apa lagi ia sudah tiba di tempat.
"Maaf yah" lanjut dokter Martin.
"Iya aku aku gak apa - apa kok".
Dokter Martin pun menutup teleponnya dan kemudian melanjutkan perjalanannya menuju rumah sakit.
__ADS_1
Sementara di sebuah parkiran Zahra harus menerima sebuah kekecewaan gagal untuk berbicara dari hati ke hati bersama dokter Martin. Zahra tak mampu menahan Dokter Martin untuk tidak pergi karena itu tugas dari dokter Martin yang menjadi pelayan kesehatan.
Zahra masuk ke sebuah cafe dengan langkah yang gontai, akhirnya ia memilih sebuah tempat duduk yang ada di pojokan dan memesan sebuah minuman vanilia Latte untuk menemaninya.
Setengah jam duduk di Cafe tersebut mampu mengusir kekecewaan Zahra yang gagal untuk bertemu dengan Dokter Martin, Zahra melajukan mobilnya meninggalkan Cafe tersebut untuk menuju sebuah tempat.
Sementara Aisha masih terus termenung memikirkan keputusan yang harus di ambilnya, ia kembali teringat pada sepupunya bergegas mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Bayu.
"Aisha kebetulan kamu menghubungi ku, aku mau kasih kabar ke kamu jika Papa ku sudah meninggal". ujar Bayu dari sebrang telepon dengan suara serak karena menahan tangisnya.
Deg
"Bay, Kamu serius ?" tanya Aisha setengah percaya.
"Iya aku serius. Papa meninggal setengah jam yang lalu di sebuah rumah sakit yang berada di luar negri. satu jam yang lalu Mama mengabarkan jika Papa jatuh di kamar mandi dan langsung kritis".
"Ya Allah, aku kesana sekarang ya !!" panggilan pun terputus.
Perasaan Aisha benar - benar kacau, dengan perasaan yang menentu ia langsung mengemasi beberapa pakaian karena rencananya Aisha akan menginap beberapa hari di sana untuk menghibur Bayu dan keluarganya.
Dengan setengah berlari Aisha langsung menuju rumah Abah Anom untuk memberi tahu kabar tentang kematian Papanya Bayu sekalian ia pamit untuk pergi ke sana beberapa hari.
"Aisha kamu mau ke mana kenapa bawa tas baju segala ?!" tegur salah satu pengurus yayasan.
Aisha tak memperdulikannya ia terus berjalan dengan tergesa - gesa menuju ke rumah Abah Anom walaupun beberapa rekannya terus bertanya tentang apa yang terjadi pada dirinya.
"Nak kamu mau kemana, jika keputusan mu memilih untuk ikut dengan Umi Fatimah, Umi dukung tapi perginya tidak secepat ini nak" ujar Umi Lilah saat melihat Aisha datang dengan membawa tas baju.
"Ini ada apa, kenapa Aisha membawa tas besar ?" tiba - tiba Abah Anom datang dan terkejut dengan Aisha yang membawa tas dan juga matanya sembab.
"Kamu duduk dulu, Umi ambilkan air untuk Aisha" titah Abah Anom.
Umi pun kembali dengan membawa segelas Air di tangannya lalu memberikannya kepada Aisha dan Aisha langsung meminum habis Air tersebut seperti orang ke hausan.
__ADS_1
"Ayahnya Bayu Meninggal Umi, Abah" Jelas Aisha.