Sakinah Bersama Mu

Sakinah Bersama Mu
Bab 80


__ADS_3

Sebelum masuk area pemakaman Elisa menyempatkan terlebih dahulu untuk membeli air dan juga bunga untuk di tabur di pemakaman sang adik.


"Aisha, kamu di sini !" tegur seorang penjual bunga yang lapaknya Aisha datangi.


"Hah, mbak kok di sini juga ?!" Aisha terkejut dengan penjual bunga tersebut karena Aisha mengenalnya.


"Inilah pekerjaan saya sekarang mbak, awalnya saya jadi buruh cuci dari rumah kerumah namun hal itu tak pernah saya lakukan lagi karena hampir semua pelanggan ku menolak aku kerja membawa anak, mereka takut kerjaan bu berantakan karena aku bawa anak". jelas penjual bunga tersebut.


"Akhirnya aku mencoba berjualan seperti ini karena berjualan seperti ini aku bisa membawa anak ku, walaupun untungnya tak seberapa tapi cukup untuk makan dan juga memenuhi kebutuhan anak ku". lanjut Sari, perempuan penjual bunga itu adalah Sari istri dari tuan Rico.


"Mbak aku minta bunganya empat bungkus bunga dan empat botol airnya ya" ujar Aisha.


"Ngomong - ngomong kamu mau ziarah ke makam siapa, bukannya kedua orang tua kamu di makamkan di Bali ya ?".


"Aku mau Ziarah ke makam adik ku Ayla" jawab Aisha seraya tersenyum getir.


"Jadi Ayla ?".


"Ayla sudah tiada hampir satu tahun yang lalu karena sebuah kecelakaan". jelas Aisha.


"Inalillahi, turut berduka cinta, jujur saya gak tahu soal ini".


"Tidak apa - apa mbak, ini uangnya, kembaliannya buat mbak saja itu sudah rezeki anak mbak".


"Tapi ini kebanyakan Aisha".


"Itu sudah rezeki Mbak dan juga anak Mbak yang Allah kasih lewat saya".


"Aisha apa kamu sekarang sudah menikah lagi ?".


"Saya tidak kepikiran soal itu, saya masih menikmati kesendirian saya".


"Apa kamu taruma dengan prilaku mas Rico hingga kamu memutuskan tak menikah lagi ?".


"Taruma sih enggak, cuma ya belum mau saja mbak".

__ADS_1


'Bukan aku trauma namun di kecil ku masih bertengger nama cinta pertama ku, setelah nama itu hilang oleh seseorang ternyata cinta ku bertepuk sebelah tangan, kini aku sedang berusaha nenghapus nama itu' batin Aisha.


Setelah berbincang - bincang dengan Sari, Aisha pun berlalu menuju tempat Bayu memarkirkan mobilnya, di sama Umi Fatimah, Bayu dan Tante Rena menunggunya.


"Kamu kenal penjual bunga itu ?" tanya Bayu, ternyata Bayu memperhatikan Aisha dari kejauhan.


"Itu Mbak Sari, istri kedua tuan Rico" jelas Hana.


"Jadi benar sekarang taun Rico sudah bangkrut ?" Hana mengangguk lemah.


Akhirnya mereka sampai di depan kuburan Ayla, mereka membacakan Ziarah kubur yang di pimpin oleh Bayu, setelah itu penaburan bunga dan juga air.


"De, besok kakak mau ke pemakaman Ibu dan Ayah, pasti kamu sudah bersama mereka yah, sekarang kakak sudah gak sedih lagi" ujar Aisha sebelum ia pergi meninggalkan area pemakaman.


****


Jam lima pagi Aisha dan yang lainnya sudah siap untuk berangkat ke bandara, jauh hari sebelum memesan tiket, Aisha sudah mewanti - waniti Bayu agar membeli tiket dengan jam penerbangan pagi, supaya Aisha bisa langsung berziarah hari itu juga.


Satu jam penerbangan akhirnya Rombongan Aisha tiba di bandara Bali, pikiran Aisha kembali terkenang saat di mana dia diam - diam meninggalkan Bali untuk mengejar cinta pertamanya.


Bayangan saat kedua orang tuanya meminta Aisha menikah dengan Tuan Rico pun kembali hadir, tekanan demi tekanan yang di berikan Tuan Rico menghiasi pikiran Aisha, apa lagi saat dimana Tuan Rico meminta Aisha untuk melayani pria hidung belang.


"Aisha baik - baik saja Umi" jawan Aisha seraya tersenyum.


Taksi yang di pesan oleh Bayu pun datang, mereka menyewa tiga kamar hotel yang letaknya hanya berjarak tiga kilometer dari tempat pemakaman ke dua orang tua Aisha.


"Kita istirahat dulu, nanti setelah makan siang baru kita ke pemakaman" ujar Bayu.


Aisha dan Umi Fatimah memasuki kamar mereka, sengaja mereka memilih satu kamar untuk berdua, Umi langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, sementara Aisha memilih membersihkan tubuhnya.


Di bawah guyuran air shower Aisha menangis, ia tak menyangka akan menginjakan kakinya di Bali, sebuah kota yang banyak menorehkan luka, Kota yang telah mengahancurkan masa depannya dan Kota yang telah merenggut nyawa kedua orang tuanya.


'Apa aku akan bertemu dengan Mbak Mika di sini' batin Aishan.


Selesai mandi Aisha membaringkan tubuhnya di samping Umi Fatimah yang tengah asik dengan ponselnya.

__ADS_1


"Umi gak Mandi ?" tanya Aisha.


"Mandi dong, bentar Umi lagi balas chat pegawai toko katanya hari ini ada pengiriman barang lagi" jelas Umi Fatimah.


"Maaf gara - gara Umi nemenin Aisha ke Bali, jadi toko gak ada yang urus".


"Kamu ngomong apa sih nak, kan di toko ada pegawai, kamu tenang saja mereka sudah biasa menangani hal ini" ujar Umi Fatimah seraya berlalu menuju kamar mandi.


Tak berapa lama pintu kamarnya di ketuk, pas di buka ternyata Bayu mengajak makan siang, namun karena Umi Fatimah masih di kamar mandi, Aisha meminta waktu sepulu menit lagi.


Aisha dan yang lain makan siang di restoran hotel, mereka menikmati setiap suapan makanan yang masuk ke mulut mereka, terkecuali Aisha, ia tak begitu berselera makan walaupun makanan kali ini sangat lah menggugah selera.


Bayang - bayang berbagai peristiwa yang ada di kota ini menghiasi pikiran Aisha sejak awal menginjakan kakinya di Bali.


"Makanannya di makan jangan di mainkan saja !" tegur Tante Rena.


"Iya tante" jawab Aisha kikuk.


"Tante sudah gak sabar ingin ke pemakaman Ibu dan Ayah kamu" ujar Tante Rena.


"Sama tante, Aisha juga sudah gak sabar".


"Makan dulu saja, sebentar lagi juga kita akan ke sana" sahut Bayu.


Tak terbayang sebelumnya jika Aisha akan menginjakan kakinya lagi di kota ini, kota yang penuh kenangan, Aisha pernah berjanji untuk tak lagi datang ke sini karena banyak luka di kota ini, namun rindu terhadap orang tuanya membuat Aisha mengesampingkan perasaannya.


Umi Fatimah izin ke toilet karena tak bisa menahan rasa ingin buang air kecil, awalnya Aisha menawarkan dirinya untuk mengantar ke toilet, namun Umi Fatimah menolak karena ia tak ingin mengganggu waktu makan siang Aisha.


Umi Fatimah bertanya pada salah satu pelayan restoran tentang keberadaan toliet, setelah di tunjukan di mana letak toilet, Uni Fatimah pun dengan setengah berlari menuju toilet.


"Alhamdulilah" ucap Umi Fatimah setelah menuntaskan hasratnya untuk buang air kecil.


Umi Fatimah segera kembali,Takut yang lainnya pada menunggu namun karena buru - buru tanpa sengaja Umi Fatimah menabrak seorang perempuan.


"Aduh bu, kalau jalan itu hati - hati kenapa sih, maen tabrak - tabrak saja".

__ADS_1


"Maaf mbak, Maaf" ujar Umi Fatimah.


"Maaf, Maaf sakit tahu !" gerutu perempuan yang tanpa sengaja ke tabrak oleh Umi Fatimah.


__ADS_2