Sakinah Bersama Mu

Sakinah Bersama Mu
Bab 77


__ADS_3

"Umi apa Kabar maaf Aisha baru datang oagi ke sini, kata Umi maaf juga gak bisa okut karena hari ini pagi ada urusan".


"Alhamdulilah Umi baik - baik saja, Kamu tak perlu merasa bersalah seperti itu Umi ngerti kok, Umi juga kemarin sudah mendapat orang yang bisa menggantikan tugas kamu, jadi kamu tak perlu khawatir insya allah anak - anak akan tetap mendapatkan ilmu".


Setelah berbincang - bincang sebentar Umi Lilah meninggalkan Aisha di ruang tamu untuk mengambil di minuman dan makanan untuk di sajikan pada Aisha.


"Mentang - mentang sudah punya keluarga baru sampai lupa siapa yang telah membuatnya bangkit dari sebuah keterpurukan".


Aisha terdiam, dadanya begitu sesak seakan - akan napasnya terhenti dan lidahnya pun terasa kaku. entah apa maksud dokter Martin berbicara seperti itu saat melewati ruang tamu. Dokter Martin menatap Aisha dengan penuh kekecewaan.


"Kok malah bengong sihh" suara Umi Lilah membuat Aisha tersadar dari lamunannya.


"Ehh Umi".


"Ada masalah ?".


"Aisha baik - baik saja".


"Harusnya kalau mau ke sini tuh bilang dulu biar Umi ada di rumah, untung saja tadi kamu belum pulang".


"Iya Umi, maaf tadinya Aisha kira Umi ada di rumah".


Setengah jam berbincang dengan Umi Lilah, akhirnya Aisha pamit pulang. Umi Lilah meminta Dokter Martin untuk mengantar Aisha pulang, namun Aisha menolaknya ia tak ingin terjadi fitnah apa lagi dokter Martin akan segera melamar Zahra, begitu pun Dokter Martin yang menolak mengantar Aisha, ia beralasan ada janji sehingga ia langsung pamit pergi.


Aisha berjalan menuju tempat pangkalan ojek, karena di daerah sana sulit sekali mencari taksi, sementara ponselnya mati kehabisan batrai jadi tak bisa pesan taksi online. namun saat baru beberapa langkah ada sebuah mobil yang mengikutinya dari belakang, saat Aisha menengok ke belakang ternyata mobil itu milik dokter Martin.

__ADS_1


"Ayo masuk, saya mau bicara dengan kamu, penting !!". seru dokter Martin.


"Maaf saya bisa pulang sendiri" tolak Aisha.


"Saya tidak akan mengantar kamu pulang tapi sayang ingin bicara empat mata dengan kamu !" Seru dokter Martin dengan penuh penekanan.


"naiklah saya tidak punya waktu banyak, tenang saja setelah ini saya tidak akan mengganggu kamu lagi" lanjut dokter Martin.


Dengan terpaksa Aisha naik ke mobil dokter Martin, Aisha duduk di bangku belakang, awalnya dokter Martin keberatan namun Aisha menolak untuk duduk di depan, ia tak ingin di bilang sebagai pelakor lagi.


Dokter Martin membawa Aisha kesebuah cafe, selama perjalanan tak ada pembicaraan, keduanya fokus pada pikirannya masing - masing.


"Silahkan kamu mau pesen apa terserah kamu" ujar dokter Martin.


"Saya pesen minuman orange jus saja".


"Terima kasih, tapi saya masih kenyang".


setelah itu tak ada pembicaraan lagi hingga seorang pelayan datang membuyarkan lamunan keduanya.


"Kamu mau bicara apa ?" tanya Aisha memulai pembicaraan, Aisha tak ingin berlama - lama berduaan dengan dokter Martin selain takut terjadi fitnah Aisha juga khawatir tak bisa mengendalikan perasaannya.


"Apa alasan kamu mau menerima permintaan Umi Fatimah, kenapa kamu tidak pernah menceritakan permasalahan ini pada ku, kenapa kamu tidak pernah meminta pendapatku tentang semua ini ?" dokter Martin mengeluarkan pertanyaan yang sudah ia pendam berhari - hari.


"Saya tak punya alasan apa pun untuk menerima permintaan Umi Fatimah, kamu bukan siapa - siapa bagi saya jadi saya tak perlu bercerita atau pun meminta pendapat kamu".

__ADS_1


'Alasan utama aku menerima permintaan Umi Fatimah adalah kamu, aku tak sanggup melihat kamu bersanding dengan perempuan lain' batin Aisha.


"Ya memang aku adalah orang asing bagi kamu, satu hal yang harus kamu tahu aku telah menganggap kamu sebagai adik ku, sama seperti Umi dan Abah yang menganggap kamu sebagai anak mereka".


'Ternyata selama ini aku salah mengaritikan perhatian mu, selama ini aku kira kamu mempunyai perasaan terhadap ku tapi ternyata kamu menganggap ku tak lebih dari seorang adik' batin Aisha.


Dadanya terasa sesak, hatinya begitu sakit seperti ada pedang yang menusuk ke hati, ternyata selama ini Aisha salah mengartikan semua kebaikan dan perhatian Dokter Martin. mendapat kenyataan ini Aisha merasa beruntung dengan keputusannya sehingga ia bisa berhenti berharap pada cintanya dokter Martin.


"Aisha kamu tidak tahu betapa kecewanya Umi saat kamu memutuskan untuk menerima permintaan Umi Fatimah, Umi menangis setiap malam karena beliau sangat kehilangan kamu, aku baru kali ini melihat Umi sedih seperti ini". jelas Dokter Martin.


Deg


"Umi bilang mendukung apa pun keputusan ku, bahkan Umi juga menyarankan agar aku mencobanya terlebih dahulu".


"Kamu itu bodoh apa polos sih" gerutu Dokter Martin kesal. "Mana mungkin Umi terang - terangan melarang kamu untuk pergi, karena Umi sangat menyayangi kamu, Umi ingin melihat kamu bahagia".


"Di saat kamu terpuruk, tak ada satu orang pun yang ada di samping mu, hanya Umi dan Abah yang setiap hari selalu memberi mu motivasi tentang sebuah kehidupan, mereka setia menemani mu hingga kamu benar - benar bangkit kembali, namun di saat kamu sudah bangkit kenapa kamu malah pergi meninggalkan mereka yang rela dan setia menemanimu saat berada di titik terendah dalam hidup mu. Umi dan Abah tidak akan melarang kamu untuk menentukan jalan kebahagiaan mu tapi setidaknya kamu harus memiliki rasa balas budi pada mereka dengan tidak meninggalkan mereka dengan alasan apa pun".


Aisha terdiam, memang Umi dan Abah sangat berjasa untuk kehidupannya saat ini, mereka selalu ada di dalam kondisi apa pun. Aisha merasa bersalah dengan keputusannya yang menerima permintaan Umi Fatimah.


Namun Jika ia terus bertahan di sana apakah dirinya akan baik - baik saja, rasanya Aisha belum terlalu siap menerima kenyataan pahit dalam hidupnya, ia takut terluka dan kembali terpuruk sehingga ia menerima permintaan Umi Fatimah tanpa memikirkan perasaan Abah Anom dan juga Umi Lilah.


"Jujur aku sangat - sangat kecewa atas sikap kamu yang seperti ini seolah - olah aku, Abah dan Umi tidak berguna untuk kamu" ujar Dokter Martin.


Aisha Masih terdiam, ia bingung harus berbicara apa tentang permasalahan ini, haruskah Aisha jujur dengan perasaannya, namun ia tak punya nyali mengakui semua perasaannya apalagi mengingat dokter Martin akan segera melamar Zahra, rasanya tidak etis jika Aisha mengungkapkan semua perasaannya di tambah dokter Marin hanya menganggapnya sebagai adik tak lebih dari itu.

__ADS_1


Aisha bertekad untuk mengubur rasa yang ada di hatinya, memendam semua perasaanya sendiri sehingga perasaan itu hilang dengan sendirinya dari hatinya.


"Aku berbicara seperti ini bukan menyuruh mu kembali ke yayasan dan meninggalkan Umi Fatimah, aku hanya ingin memberi tahu kondisi Umi setelah kamu tinggalkan".


__ADS_2