
Aisha telah memantapkan pilihannya untuk menerima permintaan umi Fatimah, ini semua Aisha lakukan untuk menjaga perasaannya agar tak semakin dalam terhadap dokter Martin.
"Apa pun pilihan mu Umi dan Abah akan mendukung mu nak" ujar Umi Lilah saat Aisha menyatakan kesiapannya untuk ikut bersama Umi Lilah.
"Terima kasih buat Umi dan Abah yang telah merawat Aisha, bahkan menerima dengan baik Aisha di sini, Aisha Janji akan sering datang ke sini".
Setelah berbicara dengan Umi Lilah dan Abah, Aisha memilih duduk menyendiri di belakang yayasan, menurutnya ini tempat yang nyaman untuk mencari ketenangan.
Malam belum terlalu larut, mungkin karena efek setelah hujan jadi malam ini terasa begitu dingin hingga menusuk ke dalam tulang.
"Aisha, kenapa sekarang kamu berubah" ujar Seseorang mengejutkan Aisha.
"Ehh Dokter, ngapain di sini ?".
"Aku mau bicara sama kamu" ujar dokter Martin lalu duduk di samping Aisha.
"Bicara saja tak ada yang melarang kok" jawab Aisha ketus. dalam hatinya rasa bergejolak yang harus ia tahan.
"Aisha kenapa kamu tidak pernah membicarakan masalah ini dengan ku, apa sekarang keberadaan ku sudah tak berarti lagi ?".
Aisha menatap sekilas pada Dokter Martin, sungguh Aisha tak mengerti dengan maksud pembicaraan dokter Martin.
"Dokter bicara apa, saya tidak mengerti".
"Aisha__"
Dokter Martin baru membuka mulutnya untuk bicara namun Aisha berlalu meninggalkannya begitu saja membuat Dokter Martin menghela nafasnya panjang, kecewa itu yang dokter Martin rasakan karena keberadaannya sudah tak lagi di butuhkan oleh Aisha.
Sementara Aisha kembali ke kamarnya, sikap dokter Martin membuat dirinya merasa dilema dengan perasaan dokter Martin terhadapnya.
'Ya Allah jangan biarkan aku terjebak dalam perasaan yang salah' doa Aisha dalam hati.
__ADS_1
Tiba di kamar ia langsung membereskan seluruh barang miliknya tanpa terkecuali, setelah itu ia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, baru saja ingin memejamkan mata sekelebat bayangan antara dirinya dengan Tuan Rico dan juga Sari kembali hadir mengelilingi pikirannya.
Tiba - tiba ada rasa bersalah karena telah membuat tuna Rico masuk dalam jeruji besi hingga membuat tuan Rico dan sang istri hidup dalam kesulitan.
'Ini bukan salah kamu Aisha, ini adalah takdir ! hidup itu bagai roda yang terus berputar dulu kamu pernah berada di atas lalu Allah menurunkan mu hingga berada di titik paling terendah dan kini kamu kembali merangkak naik untuk mencapai puncaknya' batin Aisha mensugesti dirinya sendiri agar jangan terus menyalahkan dirinya sendiri atas yang terjadi pada tuan Rico dan juga keluarganya.
Pagi hari Aisha sudah sibuk di bagian dapur membantu membuatkan sarapan, Ia fokus pada pekerjaannya walaupun ia mendengar yang lain saling bisik - bisik membicarakannya, ia tak peduli lagi toh nanti siang juga ia akan pergi dari sini.
"Aisha memang benar kamu mau keluar dari yayasan ini ?" tanya salah satu juru masak.
"Bukan keluar hanya tidak tinggal di sini saja, seminggu dua atau tiga kali aku akan tetap ke sini untuk mengajar" jelas Aisha.
"Kenapa harus keluar sihh ? pasti gara - gara dokter Martin sudah punya calon yah dan kamu kecewa" ujar yang lain.
"Saya dan dokter Martin tidak ada hubungan apa - apa. saya keluar karena memang ingin mencari kehidupan yang baru saja". jelas Aisha.
"Ya kalian memang tak punya hubungan tapi aku lihat dari sorot mata mu yang memancarkan kekecewaan saat dokter Martin membawa Zahra ke sini beberapa hari yang lalu".
Aisha menghela nafasnya, kenapa mereka bisa tahu tentang perasaannya terhadap dokter Martin, apakah rasa kecewa yang Aisha rasakan begitu ketara sehingga mereka bisa dengan mudah mengetahui apa yang Aisha rasakan.
Sebelum dzuhur Umi Fatimah sudah datang, bahkan ia ikut shalat berjamaah dan makan siang bersama.
Ada rasa sedih ketika akan meninggalkan yayasan, bahkan Aisha sampai meneteskan air mata ketika berpamitan pada rekan - rekannya, terutama Yuni yang paling dekat dengannya.
"Umi maafkan Aisha, jika selama tinggal di sini banyak menyusahkan Umi dan juga yang lainnya, terima kasih sudah menerima Aisha dengan baik".
"Kamu selamanya akan menjadi anak perempuan Umi".
Keduanya saling berpelukan sebagai tanda perpisahan, Umi Lilah sejujurnya tidak rela jika Aisha pergi, namun ia tak ingin egois hingga akhirnya ia merelakan Aisha yang sudah di anggap ya seperti anak sendiri pergi untuk mencari kehidupan yang lebih luas lagi.
Aisha melambaikan tangannya sebelum mobil uang di tumpanginya benar - benar meninggalkan yayasan, bahkan ia tak mampu membendung air matanya yang mulai mengalir deras.
__ADS_1
'Semoga kamu bahagia dengan pilihan mu dan aku semoga cepat mendapat pengganti mu yang baik menurut sang pencipta' batin Aisha.
"Maaf karena permintaan Umi kamu harus pergi dari yayasan itu" lirih Umi Fatimah yang tak tega melihat Aisha yang masih terus menangis.
"Harusnya Aisha berterima kasih sama Umi karena sudah mau menerima Aisha dengan berbagai kekurangan yang Aisha miliki" Aisah menghapus air matanya dan perlahan tersenyum ke arah Umi Fatimah.
Empat puluh lima menit akhirnya Aisha tiba di rumah Umi Fatimah yang berada di komplek perumahan, rumah dua lantai dengan gaya minimalis terdapat banyak tanaman bunga - bunga di halaman depan membuat suasana terasa sangat asri.
"Ayo masuk" ajak Umi Umi Fatimah.
Aisha memandang kagum dengan suasana rumah Umi Fatimah yang terlihat sangat asri dan sangat nyaman.
"Min ini dia Aisha, yang semalam saya ceritain ke kamu" Umi Fatimah memperkenalkan Aisha pada Asisten rumah tangganya.
"Mimin, saya pembantu di sini jadi jika non Aisha perlu apa - apa bisa panggil saya" ujar Bi Mimin seraya mengulurkan tangannya.
"Saya Aisha bi, panggil saya Aisha aja" panggilan dengan embel - embel non membuat Aisha kembali teringat ketika masih tinggal bersama Tuan Rico dan kedua madunya.
"Ayo Umi tunjukan kamar kamu" ajak Umi Fatimah. Aisha menaiki lantai dua, karena Kamar yang akan Aisha tempati terletak di lantai dua.
"Bagaiman kamu suka dengan kamarnya, kalau gak suka kamu bisa pilih kamar sesuai kamu mau, di lantai dua ini ada dua kamar. Umi memilih kamar ini karena di rasa cocok karena kamar ini langsung menghadap kebagian depan rumah". jelas Umi Fatimah.
"Kamar Umi di mana ?" tanya Aisha.
"Kamar Umi di lantai bawah nak, Umi tak kuat jika harus naik turun tangga, maklum Umi sudah sangat berumur" jawab Umi Fatimah seraya tertawa.
"Aisha pilih kamar ini saja Umi".
Umi Fatimah pun memperlihatkan setiap ruangan di lantai atas pada Aisha hingga sebuah dering telepon membuat Umi Fatimah menghentikan aktivitasnya.
"Baik, saya akan segera datang ke sana" ujar Umi Fatimah, terlihat raut wajahnya menunjukan kepanikan.
__ADS_1