Sakinah Bersama Mu

Sakinah Bersama Mu
Bab 56


__ADS_3

"Sayang aku hamil" jelas Sari.


"Apa hamil ?! kamu hamil dengan siapa ?" tanya tuan Rico, ia sangat terkejut dengan pengakuan sang istri


"Kenapa kamu bertanya seperti itu ?" Sari terkejut dengan pertanyaan tuan Rico. tak menyangka jika sang suami akan bertanya seperti itu. "Aku istri mu, tentu aku hamil dengan suami ku sendiri" jelas Sari.


"Tapi . . ".


"Tapi Apa ? kamu mau menuduh jika aku selingkuh seperti istri pertama mu ?" Sari sangat tersinggung dengan kata - kata sang Suami. "Dulu kamu ingin punya anak tapi sekarang aku hamil kamu tidak mau mengakuinya". Mata Sari sudah berkaca - kaca. ingin rasanya menangis sekencang - kencangnya.


"Bukan seperti itu, tapi kita sudah lama tidak tidur bersama" jelas tuan Rico.


Sari mencoba menjelaskan semuanya pada sang Suami, ia juga memperlihat kan hasil ultrasonography sang calon buah hatinya pada sang suami.


"Maafkan aku, jika kata - kata ku tadi melukai perasaan mu" Tuan Rico sangat menyesal telah menuduh yang tidak - tidak pada sang istri.


"Sekarang kamu percaya jika ini anak mu ?". Tuan Rico mengangguk pelan, Sari tersenyum bahagia kini sang suami telah mau mengakui bahwa itu adalah darah dagingnya.


"Kamu jaga calon anak kita baik - baik, aku janji sebentar lagi aku akan keluar dari sini" ujar tuan Rico.


Setengah jam, sudah berlalu, akhirnya Sari di antar ke hotel oleh supir sang pengacara, sedangkan sang pengacara masih berada di lapas karena ada yang harus di bicarakan penting antara dirinya dan tuan Rico.


...🌾🌾...


Waktu terus berlalu, Aisha semakin dekat dengan dokter Martin, banyak di antara mereka yang menjodohkan keduanya. namun bagi Aisha itu hanya candaan semata.


"Cieee makin lengket saja" goda Yuni.


"Apaan siih mbak !" Pipi Aisha berubah menjadi ke merah - merahan saat di goda oleh Yuni.


"Umi dan Abah pasti merestuin kalian" ujar Yuni.


"Abah dan Umi sudah ku anggap sebagai orang tua ku, dan aku denger - denger katanya dokter Martin sudah punya calon". jelas Aisha.


"Oh jadi kamu menyerah sebelum perang".


"Aku belum ada niatan untuk hal itu, aku sedang menikmati kesendirian ku" ujar Aisha.

__ADS_1


Ketika sedang ngobrol dengan Yuni, telepon Aisha berdering, ternyata Bayu yang menghubunginya.


"Bagaimana keadaan kamu ?" tanya Bayu.


"Aku baik - baik saja" jawab Aisha. "Tumben sekali kamu menghubungiku di jam segini ?" tanya Aisha.


"Aku hanya ingin memberi kabar, jika Tuan Rico sedang berusaha untuk keluar dari penjara. dia membayar orang dalam" jelas Bayu.


"Aku tidak peduli lagi, itu terserah dia, yang aku harapkan dia tidak mengganggu ku lagi, Jika dia berusaha keluar itu sudah ku duga dari sebelumnya, dia punya segalanya" ujar Aisha.


"Aku takut jika dia keluar dia akan mengganggu mu lagi".


"Kita berdoa saja" Aisha berusaha tenang, ia tak ingin menunjukan rasa khawatirnya pada Bayu, sejujurnya Aisha lebih panik saat tau jika tuan Rico akan segera bebas.


Setelah selesai menerima telepon dari Bayu, Aisha kembali berkumpul bersama para pengurus yayasan.


"Pasti pangeran yah yang menghubungi kamu ?" goda salah satu pengurus yayasan.


"Pangeran tak berkuda" jawab Aisha ngasal.


"Pak Dokter yah " tebak pengurus lainnya.


"Pak Dokter juga gak apa - apa kali".


"Apaan sih dari tadi yang di bicarakan Pak Dokter terus" protes Aisha. wajah Aisha berubah menjadi kemerahan akibat terus di goda oleh para pengurus yayasan.


Tak bisa di pungkiri jika Aisha memang tertarik dengan sosok seorang lelaki yang berprofesi sebagai dokter tersebut, punya paras yang ganteng dan tubuh atletis, membuat semua kaum hawa yang melihatnya akan tergoda, Termasuk Aisha. Namun Aisha harus sadar diri, ia merasa tak pantas jika harus berdampingan dengan sang dokter yang begitu terlihat sempurna di mata setiap perempuan. Aisha tak berharap lebih, jika dirinya memang berjodoh pasti Allah akan menyatukan mereka dengan cara yang indah.


Aisha selalu belajar dari pengalamannya untuk tidak mencintai seseorang secara berlebihan karena jika tidak berjodoh dirinyalah yang akan kesakitan. kejadian di masa lalu cukup membuat Aisha menjadi sosok yang lebih dewasa, ia berusaha melawan egonya yang besar agar tidak salah langkah dalam menjalani kehidupan.


Rentetan kejadian demi kejadian cukup membuat Aisha merasa trauma dalam menjalani kehidupan. pernah terlintas dalam benaknya untuk menyusul kedua orang tuanya dan juga sang adik, untung ada sang sepupuh Bayu yang selalu memotivasi Aisha agar punya semangat baru dan di yayasanlah Aisha mendapat banyak ilmu ke hidupan dari Abah Anom dan Umi Lilah. dari sanalah Aisha punya semangat hidup baru.


"Aisha, bisa bantu tolong Umi" ujar Umi.


"Tolong apa Umi ?".


"Tadi Martin minta di masakin makanan ke sukaannya, namun dia keburu berangkat ke rumah sakit, jadi Umi mau minta tolong antarkan ini ke Martin di rumah sakit untuk makan siangnya" jelas Umi Lilah.

__ADS_1


"Kenapa Umi menyuruh aku, kenapa tidak menyuruh yang lain saja, dan aku juga tidak tau di mana letak rumah sakitnya" gumam Aisha dalam hatinya.


"Gimana nak, mau kan kamu tolongin Umi ?" tanya Umi Lilah, lagi. "Umi bingung mau minta tolong siapa lagi, soalnya yang lainnya sedang sibuk" sambung Umi Lilah.


"Hmm tapi aku tidak tau di mana tempat rumah sakit itu berada" sahut Aisha dengan raut wajah yah kebingungan.


"Kamu tenang saja, dari sini kamu bisa naik ojek di pengkolan sana, bilang saja rumah sakit A, nanti ke petugas rumah sakitnya bilang saja mau mengantarkan makanan untuk dokter Martin" jelas Umi.


Aisha hanya mengangguk pelan, sejujurnya ada keraguan untuk mengantar makanan tersebut, namun Aisha juga tak punya keberanian untuk menolak permintaan Umi Lilah.


"Kalau begitu Aisha siap - siap dulu".


Sepuluh menit kemudian, Aisha sudah kembali ke rumah Umi Lilah.


"Ini makanannya" Umi Lilah menyerahkan dua tempat makanan pada Aisha.


"Ini saja Umi ?" tanya Aisha dan Umi pun hanya mengangguk seraya tersenyum.


"Ini ongkos untuk naik ojeknya" Umi Lilah menyerahkan satu lembar uang pecahan seratus ribu.


"Tidak usah Umi, Aisha masih ada kok buat ongkos" Aisha menolak uang tersebut.


"Ambil saja, ini rezeki kamu, gak baik menolak rezeki" Umi Lilah memasukan uang tersebut ke kantung baju milik Aisha.


"Terima kasih Umi" ujar Aisha. "Aku berangkat dulu Umi". sebelum pergi Aisha tak lupa mencium tangan Umi Lilah.


"Hati - hati di jalan" sahut Umi Lilah.


Aisha tiba di rumah sakit setelah menempuh perjalanan hampir tiga puluh menit.


"Pak di mana ruangan dokter Martin ?" tanya Aisha pada security yang berjaga di dalam rumah sakit.


"Pasti mbak ini ojek online yang mau mengantarkan makanan untuk dokter Martin ?" tebak sang security.


"Bukan, saya bukan ojek online" bantah Aisha. "Saya. . . ".


"Ah pasti ojek online, masa ia pacaranya Dokter Martin, tapi mbaknya cantik juga sih".

__ADS_1


...🌾🌾🌾🌾🌾...


__ADS_2