Sakinah Bersama Mu

Sakinah Bersama Mu
Bab 64


__ADS_3

"Calon Mantu ya" bisik seorang ibu - ibu pada Umi Lilah.


"Ini namanya Aisha, dia baru bergabung di yayasan sini, Aisha ini anak yatim piatu" Umi Lilah memperkenalkan Aisha pada tamunya.


"Saya kira calonnya Martin" perempuan tersebut terkekeh.


"Doakan saja". ujar Umi Lilah seraya tersenyum. "Aisha kenalin ini temen Umi namanya Umi Fatimah dan ini Abi Abdullah".


"Aisha" ujar Aisha seraya bersalaman pada Umi Fatimah, namun pada Abi Abdullah Aisha tak bersalaman karena mereka bukan muhrim.


"Kamu cantik sekali" puji Umi Fatimah.


"Terima kasih".


Aisha kembali ke belakang setelah selesai menyajikan berbagai sajian makanan dan Minuman untuk tamu Umi Lilah. di ruangan belakang tepatnya di dapur Aisha kembali terngiang ucapan Umi Lilah yang minta di doakan setelag Umi Fatimah mengatakan dirinya sebagai calon menantunya.


'Aisha kamu jangan terlalu berharap banyak, kamu harus sadar diri siapa kamu dan Dokter Martin' batin Aisha.


Sejujurnya Aisha sudah menyukai Dokter Martin sejak lama, sikap dokter Martin yang selalu peduli padanya kadang membuat Aisha merasa yakin jika dokter Martin juga mempunyai perasaan yang sama.


Setiap dalam sujudnya Aisha selalu menyebut Nama dokter Martin, berharap lelaji yang berprofesi sebagai dokter sersebut merupakan jodohnya yang allah kirimkan untuknya.


Setiap hari Aisha selalu menanti pernyataan dokter Martin mengutarakan perasaan ke padanya namun sampai sekarang dokter Martin tak pernah mengutarakannya walaupun sikapnya masih tetap peduli padanya, kadang Aisha merasa malu ketika para pengurus Yayasan mengoda dirinya, mereka begitu antusias menjodohkan dirinya dengan dokter Martin namun entah apa yang akan terjadi jika mereka tahu bagaimana kehidupan Aisha sebelumnya, masa lalu yang begitu kelam.


"Loh kok malah melamun !" tegur Umi Lilah.


"Ehh Umi" ucap Aisha menjadi salah tingkah.


"Ayo gabung di depan, kamu bukan pembantu" ajak Umi.


"Tapi Umi. . ".


"Sudah ayo, mereka itu teman Umi".


****


Dokter Martin tak lagi dapat menyembunyikan kebahagiaannya saat perempuan yang selalu ia sebut dalam doanya kini sudah berada di hadapannya.


"Terima kasih sudah mau ikut menjemput ku" ucap perempuan tersebut.


"Sama - sama, Bagaimana kabar mu ?".

__ADS_1


"Aku baik - baik saja, kamu sendiri bagaimana ?".


"Aku juga baik - baik saja".


Perempuan itu bernama Azahra, ia baru saja menyelesaikan pendidikan ke dokterannya di luar negri Azahra dan Martin merupakan teman satu kampus, namun mereka terpisah saat Zahra harus melanjutkan S2 nya di luar negri.


"Terima kasih, sudah mau meluangkan waktu untuk menjemput ku, aku tahu kamu pasti sibuk. " ucap Zahra.


Tiba - tiba bayangan saat Zahra saat mengatakan akan kuliah di luar negri berputar di otaknya, dari mulai saat itu Dokter Martin menjadi orang pendiam bahkan akan bersikap dingin pada setiap perempuan yang mendekatinya.


*


"Aku mau bicara sesuatu" ucap Zahra ketika mereka sedang makan siang di sebuah restoran.


"Bicara apa ?".


"Ayah dan ibu ku ingin aku melanjutkan s2".


"Bagus itu, aku sangat mendukung mu".


"Tapi mereka ingin aku melanjutkan kuliah di luar negri, jika itu terjadi mungkin kita akan terpisah" lirih Zahra.


"Kenapa harus ke luar negri, apa di sini tidak ada universitas yang bagus ?".


"Lalu bagaimana dengan hubungan kita ?".


"Entahlah, aku pergi kurang lebih tiga atau empat tahun, tapi jika kamu tak bisa menunggu ku kembali ke tanah air mungkin kita memang tidak berjodoh" lirih Zahra.


"Aku ingin fokus pada kuliah ku tanpa ada pikiran tentang hubungan yang kita terhalang jarak dan waktu, akan banyak kecurigaan dan kekhawatiran jika kita menjalin hubungan jarak jauh hal itu akan membuat aku tak konsentarsi dalam belajar, jadi aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kita untuk sementara waktu, aku tak akan meminta kamu untuk menunggu ku tapi jika memang kita berjodoh pasti akan bersatu kembali, aku juga bebaskan kamu untuk mencari cinta yang lain pilihlah perempuan yang sesuai hati kamu" lanjut Zahra.


"Apa kamu ragu jika aku akan setia menunggu mu sampai kembali ?".


"Bukan ragu tapi ini demi masa depan kita, bagaimana jika nanti kamu menemukan perempuan yang membuat mu jatuh cinta, apa kamu akan menduakan ku atau menahan keinginan mu demi aku ? oleh sebab itu aku tak ingin mengekang mu, jika kamu menemukam perempuan sesuai kriteria yang kamu inginkan sebelum aku kembali kamu boleh menghalalkan nya tanpa rasa bersalah pada ku" jelas Zahra.


*


"Ayo jalan bro jangan melamun di sini di tabrak orang baru tahu rasa !" tergur Aiman.


"Apaan sihh" kilah Dokter Martin, ia jadi salah tingkah apa pagi saat pandangannya secara tidak sengaja saling beradu dengan Zahra.


"Za, Aku ingin bicara terlebih dahulu tapi hanya berdua apa bisa ?" tanya Dokter Martin.

__ADS_1


"Hmmm sepertinya gak bisa, kedua orang tua ku sudah menunggu" jawab Zahra, ada rasa tak enak hati kala harus menolak permintaan dari Martin.


"Hanya sebentar saja kok".


"Hmm baiklah, tapi kita bicara di mana ?".


"Kita bicara di sana saja" Dokter Martin menunjuk sebuah bangku yang kosong, di sana juga tak terlalu banyak orang yang duduk di sana.


"Lah gue gimana ?" tanya Aiman


"Kamu tunggu saja di mobil" jawab Dokter Martin.


"Nasib . . nasib" ujar Aiman seraya berlalu meninggalkan Zahra dan Dokter Martin.


Sementara Zahra dan Dokter Martin langsung berjalan ke arah tempat yang sudah di tunjuk tadi mereka duduk berdampingan dengan mengosongkan satu tempat duduk agar mereka duduk berjarak.


"Kamu mau bicara apa ?" tanya Zahra membuka pembicaraan mereka.


"Za, kini kamu sudah kembali, apa kamu siap jika aku membawa keluarga ku silaturahmi ke rumah mu ?".


"Maksud mu ?".


"Aku ingin me_____".


Dokter Martin belum selesai berbicara namun pembicaraannya harus terhenti ketika ponselnya berdering.


"Lihat dulu, siapa tahu penting" ujar Zahra.


"Ini dari Roy".


"Angkat saja dulu".


Dokter Martin langsung menjawab panggilan dari Roy. Ia tak banyak biacara namun di lihat dari raut wajahnya ia terlihat panik.


"Baiklah aku akan segera datang" ucap Dokter Martin lalu menaruh kembali ponselnya ke dalam saku celananya.


"Za, aku harus segera pergi di depan rumah sakit tempat ku bekerja terjadi kecelakaan beruntun aku di minta segera datang untuk membantu menangani para korban".


" Pergi lah, karena itu sudah menjadi tugas mu sebagai Dokter".


Dokter Martin segera berlalu meninggalkan Zahra begitu saja, Sementara Zahra hanya menatap sendu kepergian Dokter Martin.

__ADS_1


"Maafkan aku" lirih Zahra saat Dokter Martin sudah hilang dari pandangannya, Cairan bening meluncur begitu saja dan segera ia menghapusnya karena takut ada yang melihatnya, setelah perasaannya cukup baik Zahra pun berlalu menuju tempat Aiman menunggunya.


__ADS_2