Sakinah Bersama Mu

Sakinah Bersama Mu
Bab 71


__ADS_3

Banyaknya pasien hari ini membuat Dokter Martin harus pulang telat. jam sembilan malam ia baru saja sampai di rumahnya, keadaan sekitar masih terasa ramai karena sebagian orang sedang mengikuti ceramah yang di laksanakan setelah shalat isa.


Dokter Martin langsung membersihkan dirinya, setelah itu tujuannya adalah danau buatan yang berada di belakang yayasan. Dokter Martin berniat untuk menemui Aisha untuk meminta penjelasan tentang permintaan Umi Fatimah.


"Besok kerjaan semakin banyak, itu si Aisha main pergi - pergi saja tanpa mencari dulu penggantinya" gerutu salah satu pengurus yayasan dan tanpa sengaja Dokter Martin mendengarnya.


"Jadi Aisha pergi !!" Seru dokter Martin terkejut.


Dokter Martin mengurungkan niatnya untuk ke danau buatan di belakang Yayasan, ia memilih kembali ke rumahnya, dokter Martin akan bertanya pada kedua orang tuanya karena dokter Martin yakin kedua orang tuanya mengetahui alasan Aisha pergi.


'Kenapa kamu pergi tanpa memberi tahu ku, bukannya kamu punya nomor aku kenapa kamu tak mengirim pesan hanya untuk sekedar berpamitan, Aisha kenapa kamu sekarang seperti berubah, kenapa kamu tak pernah meminta pendapat ku lagi' batin Dokter Martin.


Tak berselang lama, kedua tua Dokter Martin pun datang dan dokter Martin terburu - buru langsung menghampiri mereka.


"Nak kamu baru pulang ?" tanya Umi.


"Udah dari tadi Umi, maaf hari ini banyak pasien jadi Martin pulang telat".


"Tidak apa - apa nak, Umi sangat mengerti tugas kamu sebagai pelayan kesehatan masyarakat".


"Umi tadi Martin gak sengaja mendengar orang - orang bilang jika Aisha pergi dari sini, apa itu benar ? Umi apa Aisha menerima permintaan Umi Fatimah ? tapi kenapa secepat ini dia memutuskankannya ?" cecar dokter Martin.


"Duduk nak, tidak baik bicara sambil berdiri" titah Abah Anom.


"Apa benar Aisha pergi ikut Umi Fatimah ?" tanya Dokter Martin lagi saat dirinya sudah duduk.


"Tidak, Aisha tidak pergi ikut Umi Fatimah tapi Aisha pergi ke kota" jelas Abah Anom.


"Ke kota ?". Dokter Martin benar - benar tidak paham dengan apa yang terjadi dengan Aisha.


'Kenapa harus pergi ke kota apa Aisha menolak permintaan Umi Fatimah lalu pergi ke kota untuk menghindari Umi Fatimah' batin Dokter Martin bertanya - tanya.


" Aisha ke kota karena tadi Aisha dapat kabar jika Papanya Bayu meninggal dunia sehingga ia terburu - buru pergi dan mungkin akan menginap beberapa hari di sana" jelas Umi Lilah.


"Innalillahi, Jadi Aisha tidak kabur seperti yang orang - orang bilang ?!".


"Untuk apa Aisha kabur kamu ini ada - ada saja. ya mungkin yang lain tidak tahu apa yang terjadi dengan Aisha sehingga ia mengira jika Aisha kabur. saat tadi mau pergi mata Aisha sembab karena menangis, lalu ia juga membawa tas lumayan besar dan berjalan dengan terburu - buru, mungkin itu yang menyebabkan orang - orang menganggap Aisha akan kabur" jelas Umi Lilah.

__ADS_1


"Aisha ke kota sendirian Umi ?" Umi Lilah pun menganggukan kepalanya. "Kenapa Umi tidak menghubungi Martin dan kenapa Umi membiarkan Aisha pergi sendiri ?".


"Umi gak kepikiran sampai situ nak, lagian tadi Aisha buru - buru perginya, dari sini dia naik ojek mungkin dari jalan besar baru ia naik taksi" jelas Umi.


Lagi dan lagi dokter Martin harus merasakan sebuah kekecewaan yang teramat dalam, entah kenapa akhir - akhir ini Aisha tak pernah melibatkan dirinya lagi dalam setiap Masalah yang Aisha hadapi.


'Apa aku sudah tidak ada gunanya lagi untuk kamu Aisha' batin Dokter Martin.


"Nak jangan dulu pergi, Umi dan Abah mau bicara" ujar Umi Lilah saat melihat Dokter Martin bangkit dari tempat duduknya hendak pergi.


"Iya Umi".


"Nak, bagaimana tentang niatan kamu bersilaturahmi ke keluarga Zahra ?" tanya Abah Anom.


"Soal itu Martin belum bicara lagi dengan Zahra, Karena Ayahnya Zahra masih di luar negri".


"Tapi kamu harus segera membicarakan ini sama Zahra agar Ayahnya bisa segera pulang, tidak baik mengulur - ngulur niat baik".


"Iya Abah".


"Apa Kamu yakin dengan pilihan kamu nak ?" tanya Umi Lilah.


"Umi hanya ingin kamu tidak kecewa".


"Kenapa harus kecewa Umi ?".


"Tidak usah di hirawkan ucapan Umi kamu nak, Abah tunggu kabar secepatnya" sahuta Abah Anom.


"Iya Abah, Martin izin ke kamar mau istirahat".


"Nak untuk menyakinkan pilihan kamu coba kamu shalat istikharah" ujar Umi saat Martin melangkah pergi ke kamarnya.


"Iya Umi".


...*****...


Suasana pagi hari sangatlah sepi di rumah Bayu, Tante Rena masih tertidur pulas begitu pun dengan Bayu mungkin mereka kelelahan.

__ADS_1


Dari pagi Aisha sudah terbangun dan membantu Asisten rumah tangga untuk membuat sarapan.


Jam sudah menunjukan pukul setengah sembilan namun Tante Rena mau pun Bayu belum keluar kamar juga.


"Bi mereka biasanya bangun siang ya ?" tanya Aisha.


"Enggak kok".


Aisha mencoba mengetuk pintu kamar Bayu dan mencoba membangun kan sepupunya itu, tak berselang lama Bayu keluar dengan mata yang membengkak, apa Bayu menangis semalaman pikir Aisha.


"Kenapa kamu baru membangunkan ku ?!".


"Aku takut mengganggu istirahat kamu, apa kamu menangis semalaman ?".


"Aku tak menangis, semalaman aku tak tidur, baru bisa tidur tadi setelah shalat subuh" jelas Bayu. "Apa Mama sudah bangun ?".


"Tante Rena juga belum bangun, aku ingin mencoba membangunkannya tapi takut menganggu istirahatnya, pasti dia lelah dengan rangkaian acara kemarin".


"Aku mau mandi dulu, nanti kita ke kamar Mama bareng - bareng" ujar Bayu.


Setengah jam kemudian Bayu keluar dengan tampilan yang lebih segar, kemudian keduanya berjalan menuju kamar Tante Rena.


Aisha mengetuk pintu tersebut, namun tak ada jawaban dari dalam.


"Tante ini Aisha, apa tante sudah bangun ?" hening tak ada jawaban. "Tante Ini Aisha dan Bayu apa kami boleh masuk ?" tanya Aisha lagi namun masih hening tak ada jawaban.


"Bay bagaimana ini ?" Aisha mulai gelisah mengkhawatirkan kondisi tante Rena.


Bayu memutar handle pintu dan untungnya pintu tak terkunci sehingga Bayu dan Aisha dapat masuk ke kamar tante Rena.


Terlihat perempuan paruh baya tengah tertidur, kondisinya begitu berantakan, Bayu dan Aisha mendekat ke arah tempat tidur.


"Tante Bangun" Aisha menggoyangkan tubuh tante Rena. "Astagfirullah badan tante Rena panas banget" Aisha panik saat menyentuh tubuh Tante Rena yang terasa sangat panas.


Bayu menempelkan punggung tangannya di kening sang Mama ikut mengecek kondisi sang Mama.


"Bay, kita harus segera bawa tante ke rumah sakit !!" Seru Aisha yang panik.

__ADS_1


Tanpa banyak bicara lagi, Bayu langsung membopong tubuh perempuan yang telah melahirkannya untuk di bawa ke mobil. sepanjang perjalanan Aisha terus saja merapalkan doa - doa agar Tante Rena baik - baik saja.


"Aku seperti mengenal lelaki itu, mukanya tidak asing tapi siapa ya" gumam Aisha saat melihat seorang lelaki tergolek lemah di atas blangkar sedang di dorong oleh beberapa suster dan juga dua anggota kepolisian.


__ADS_2