
'Kalau bukan karena kamu kaya sudah ku tinggalkan kamu !' batin Rizal.
Rizal adalah Adik ipar dari Umi Fatimah, dia juga yang telah mengambil seluruh harta peninggalan suami Umi Fatimah. hidupnya yang sering poya - poya dengan banyak perempuan membuat Rizal tak mampu mengelola perusahaan kakaknya dengan baik sehingga perusahaan itu kini sedang dalam bayang - bayang ke hancuran.
Pertemuannya dengan Lala terjadi saat Rizal sedang mencari investor di Bali dan kini Lala merupakan investor terbesar yang di miliki oleh Rizal.
Demi memajukan kembali perusahaannya, Rizal rela meninggalkan istri dan kedua anaknya tanpa kepastian demi bisa menikah dengan Lala dan rencananya pernikahan itu akan di gelar tiga bulan lagi.
"Sayang kamu kenal tidak perempuan yang bersama kakak ipar kamu ?" tanya Lala.
"Katanya sih itu anak angaktnya, tapi saya baru melihatnya sepertinya baru mbak Imah mengangkat anak" jelas Rizal.
"Aku merasa tidak asing melihat perempuan itu apa lagi dari sorot matanya".
"Itu perasaan kamu saja".
"Mas kapan kita ke jakarta ?".
"Nanti setelah semua urusan perusahan sudah beres" jawab Rizal.
Nyatanya Rizal tak begitu sangat mencintai Lala ia hanya mengincar kekayaan yang di miliki oleh Lala.
'Sudah lama aku tak mendengar kabar mereka, apa kah mereka masih hidup atau sudah mati kelaparan' batin Lala penuh tanda tanya.
****
Aisha masih kepikiran sosok perempuan yang bersama Rizal, perempuan itu sangat mirip sekali dengan mantan istri tuan Rico, Mika, namun perempuan itu terlihat sangat lebih muda bahkan bisa di katakan lebih muda dari Aisha.
"Umi, Apa perempuan tadi adalah istrinya Rizal ?" tanya Aisha.
"Bukan, Istrinya Rizal bernama Nilam, dia perempuan solehah dan penampilannya tidak seperti perempuan tadi pakai baju saja seolah kurang bahan".
"Jadi Rizal menduakan istrinya ?".
"Umi juga kurang tahu nak, karena sudah lama sejak kematian suami, Umintak lagi berhubungan dengan keluarganya".
***
Tak terasa sudah tiga bulan Aisha tinggal bersama dengan Umi Fatimah, Aisha masih aktif membantu mengelola toko sembako milik Umi Fatimah, sementara Aisha belum membuka toko kuenya, ia masih mencari beberapa orang untuk di jadiakan karyawan yang akan membantunya dalam membuat kue nantinya.
__ADS_1
Kesibukan Aisha membuat Aisha belum kembali mengunjungi Yayasan, entah kenapa ada sebuah keraguan untuk datang kesana karena ancaman yang dokter Martin berikan padanya selalu terngiang di pikiran Aisha saat ada rasa rindu terhadap yayasan.
'Kenapa sampai sekarang aku belum menerima kabar tentang pernikahan dokter Martin dan Zahra, apa sebegitu marahnya Dokter Martin sehingga ia tak mengundang aku ke acara pernikahannya' batin Aisha.
Seiring berjalannya waktu Aisha mampu menghilangkan semua rasa terhadap dokter Martin yang ternyata cintanya hanya bertepuk sebelah tangan.
"Masih pagi udah ngelamun saja nih !" tegur seseorang.
"Ahh enggak kok" jawab Aisha seperti salah tingkah.
"Umi Enggak ke toko ?" tanyanya lagi.
"Umi kurang enak badan jadinya di rumah saja" jawab Aisha. "Mau beli apa nihh ?" tanya Aisha.
"Nggak beli apa - apa, kebetulan tadi lewat sini habis nganter Naya sekolah, mampir kirain ada Umi" jawab pria tersebut yang di taksir usianya sekitar tiga puluh lima tahun.
"Mau minum apa ?" tawar Aisha.
"Nggak usah repot - repot aku mau langsung pulang saja, lagian aku juga harus segera berangkat kerja" tolak pria tersebut yang di ketahui namanya Fatur.
Selepas kepergian Fatur, Aisha beranjak pergi ke bangunan sebelah, bangunan yang rencananya akan di buat menjadi toko kue miliknya.
'Ternyata butuh modal yang banyak' batin Aisha.
Untuk menekan biaya, Aisha berencana akan membeli beberapa yang penting saja dan sisanya nanti setelah tokonya berkembang, Aisha juga tak akan merekrut orang banyak untuk membantunya cukup satu orang saja dulu.
Setelah di rasa semua cukup Aisha kembali ke toko sembako, Aisha sengaja menyewa toko di sebelah Toko Umi Fatimah agar nantinya mudah untuk memantau kedua toko tersebut.
"Yan aku pulang dulu yah" ujar Aisha pada Yana salah satu pegawai di toko tersebut.
"Iya Mbak".
Aisha pulang dengan menggunakan ojek online agar cepat sampai, ia tak tenang meninggalkan Umi Fatimah lama - lama apa lagi dalam keadaan sakit.
Setengah jam perjalanan Aisha tiba di rumahnya ke datangannya langsung di sambut oleh Bi Mimin.
"Bi, Umi bagaimana keadaannya ?".
"Masih lemas dan pusing, dari tadi Umi tiduran saja di kamar bahkan beliau menolak untuk makan".
__ADS_1
"Bibi siapkan saja makanan untuk Umi, Aisha Mau mandi dulu, biar nanti Aisha yang bujuk Umi untuk makan".
Aisha segera membersihkan badannya setelag itu ia segera ke meja makan untuk mengambil makanan untuk di bawa ke kamar Umi Fatimah.
Umi terlihat sedang berbaring di tempat tidurnya, wajah terlihat sangat pucat membuat Aisha semakin di buat khawatir melihat kondisi sang Umi.
"Umi makan dulu ya, biar Aisha suapin".
"Umi gak lapar".
"Umi harus makan, kata bi Mimin Umi belum makan dari tadi. Umi memangnya gak mau sembuh, Umi memangnya mau seperti ini terus, Ya sudah kalau Umi gak mau makan kita ke rumah sakit saja biar Umi di rawat".
"Umi baik - baik saja, Umi gak sakit, Umi hanya kecapean saja".
"Kalau Umi gak sakit, Umi harus makan sekarang" pinta Aisha.
Akhirnya Umi Fatimah luluh, ia mau makan setelah Aisha membujuk rayu dengan berbagai macam cara.
"Terima kasih nak, sudah mau merawat Umi".
"Ini sudah ke wajiban. Aisha mohon Umi jangan sakit lagi ya".
Aisha merasa hatinya begitu sakit melihat Umi Fatimah jatuh sakit, satu yang Aisha takutkan adalah kepergian Umi Fatimah, entah kenapa Aisha mempunyai pikiran seperti itu.
Melihat satu persatu orang yang di cintainya pergi meninggalkan dirinya membuat Aisha merasa trauma dengan sebuah kematian, apa lagi kematian sang adik membuat benar - benar merasa menjadi kakak yang tak berguna karena tak mampu menjaga sang adik dengan baik.
Selesai menyuapi Umi Fatimah, Aisha meminta Umi Fatimah untuk beristirahat agar kondisinya cepat pulih, Aisha beranjak menuju kamarnya untuk mengambil ponselnya, ia ingin melihat harga peralatan membuat kue di toko online.
Baru saja berselancar di toko online tiba - tiba sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak di kenal, Aisha terus menatap ponselnya ia bimbang antara di jawab apa tidak. akhirnya panggilan pun berakhir.
'Mungkin orang iseng' batin Aisha.
Namun tiba - tiba ponselnya kembali berdering panggilan masuk dari nomor yang sama dengan tadi, karena rasa penasarannya Aisha menjawab panggilan tersebut.
"Asalamualikum, ini Aisha kan ?" tanya seorang perempuan.
"Iya dengan saya sendiri".
"Aisha Ini Aku Yuni dari Yayasan, apa kamu sudah tahu kabar tentang Umi Lilah ?".
__ADS_1