Sakinah Bersama Mu

Sakinah Bersama Mu
Bab 63


__ADS_3

Aisha merasa sedikit tenang setelah berziarah ke makam sang adik namun, kini pikirannya terganggu oleh bayang - bayang keharmonisan Bani dan Istrinya.


Tak bisa di pungkiri rasa cinta untuk Bani masih ada di dalam hati Aisha, namun ia harus menguburnya dalam - dalam, biarkan dirinya dan Allah yang tahu perasaan tersebut, kejadian di masa lalu di jadikan Aisha sebagai pelajaran, selalu berpikir sebelum bertindak.


"Sudah lama aku tak mendengar kabar tentang Tuan Rico dan juga istri - istrinya, tadi mau bertanya tentang itu pada Bayu tapi tak enak ada Dokter Martin". Gumam Aisha.


Ingin menghubungi Bayu tapi tidak enak karena waktu sudah larut malam, akhirnya Aisha memutuskan mengirim chat saja berharap besok Bayu membalas pesannya.


(Bay, Bagaimana kelanjutan kasus tuan Rico, apa dia sudah bebas ?).


Setelah mengirim pesan, Aisha pun memejamkan matanya, beristirahat agar besok siap beraktivitas kembali.


Di sepertiga malam Aisha selalu terbangun dan melakukan shalat malam, sudah beberapa hari ia selalu menyelipkan sebuah nama dalam rangkaian doanya, berharap mendapat jawaban yang pasti agar dirinya tak lagi terjebak dalam sebuah perasaan.


Sejak pagi Yayasan tersebut sudah ramai dengan kegiatan masing - masing, pagi ini Aisha membantu rekan - rekannya di dapur untuk mempersiapkan sarapan pagi.


"Chieee makin deket aja nih sama pak dokter" goda salah satu rekannya.


"Ia nih sampai - sampai kemarin ke kota juga di temenin pak Dokter". sahut yang lainnya.


"Itu si Yani kasian jadi orang ketiga".


Aisha hanya tersenyum di goda oleh para rekan - rekannya, tak di pungkiri kedekatan Aisha dan dokter Martin sudah menjadi pembicaraan orang - orang yayasan.


Dokter Martin sudah rapih menggunakan celana jeans dan kemeja membuat siapa saja yang melihatnya akan terpana.


"Kamu sudah rapih mau ke mana ?" tanya Umi ? penasaran karena setahu Umi Lilah anaknya hari ini mendapat jadwal tugas siang hari.


"Martin ada janji Umi"


"Janji, dengan siapa ?".


"Ahh Umi ini terlalu kepo sekali dengan kegiatan anaknya" entah kenapa Dokter Mertin menjadi tersipu malu saat Umi menanyakan dirinya punya janji dengan siapa.


"Ishhh kamu ini di tanya sama orang tua kok jawabannya seperti itu".


"Nanti juga Umi bakalan tahu kok, Ya sudah Martin izin pergi dulu ya" tak lupa Dokter Martin mencium tangan sang Umi dengan takzim.


Satu jam setengah perjalanan akhirnya Dokter Martin tiba di sebuah bandara, ia langsung bergegas menuju ruang tunggu kedatangan, hatinya begitu berdebar saat melangkah ke ruang tunggu.


"Aku kira kamu tak akan datang !" Seru seorang pria bernama Aiman.

__ADS_1


"Kan sudah ku katakan semalam jika hari ini aku tidak banyak kegiatan sehingga aku mampu meluangkan waktu untuk datang ke sini".


"Ya ya ya terserah bapak Dokter saja lah".


"Jam berapa dia akan mendarat ?".


"Sudah tak sabar rupanya" goda Aiman.


"Bukan begitu".


"Lalu".


"Ahhh terserah lah".


Hati Dokter Martin bergemuruh, bahkan Dokter Martin tampak sangat gelisah terlihat dari dirinya yang tak bisa duduk dengan tenang, sesekali pandangannya terarah ke pintu ke kedatangan.


"Sabar bro, dia pasti datang kok" ujar Aiman yang mengerti tentang kegelisahan temannya.


setengah jam berlalu, namun orang yang di tunggu - tunggu belum juga menampakan batang hidungnya membuat Dokter Martin semakin gelisah.


Pandangannya terus berpusat pada pintu kedatangan, sesekali dokter Martin melirik jam di tangannya dan juga mengecek ponselnya untuk mengurangi kegelisahannya.


Sementara Aisha sedang sibuk membantu Umi Lilah di rumahnya untuk memasak, karena memang hanya Aisha yang tak ada kegiatan hari ini sehingga Umi Lilah meminta bantuan pada Aisha karena hari ini akan ke datangan temannya.


"Oh, terima kasih ya nak sudah bantu Umi".


"Iya Umi, Aisha izin kembali kekamar sebentar ya, nanti balik lagi ke sini".


"Iya silahkan".


Sejak tadi memasak ponsel Aisha terus saja berdering, saat akan menjawab panggilan telepon tersebut ada rasa tak enak sehingga Aisha terpaksa mengabaikannya.


Tiba di kamarnya Aisha segera menghubungi nomor yang sejak tadi menghubunginya namun dirinya abaikan, nomor tersebut adalah nomor Bayu.


"Halo Bay, Maaf tadi aku gak bisa menjawab panggilan dari kamu, tadi aku lagi membantu Umi masak, mau jawab panggilan tapi rasanya gak enak".


"Maaf kalau aku ganggu".


"Enggak kok, ada apa Bay, tumben sepertinya ada yang penting ?".


"Ini soal tuan Rico".

__ADS_1


"Kenapa dengan dia, apa sekarang dia sudah bebas ?".


"Belum, menurut informasi yang aku dapatkan sekarang dia jatuh miskin, istri pertamanya pergi meninggalkannya dengan membawa banyak aset milik tuan Rico, rumah tuan Rico pun berhasil di jual istri pertamanya".


"Bagaimana dengan istri keduanya ?".


"Ia masih bertahan karena katanya istri keduanya sedang hamil".


"Hmm sepertinya dugaan ku benar jika mbak Mika hanya mengincar hartanya saja, kalau mbak Sari sepertinya memang tulus mencintai tuan Rico".


"Menurut informasi yang aku dapatkan juga katanya perusahaan miliknya pun di ambang ke bangkrutan, Mika menghilang tanpa jejak setelah memberikan surat cerainya".


"Aku pernah lihat mbak Mika tengah jalan dengan seorang lelaki, awalnya aku mengira itu hanya mirip saja tapi setelah mendengar berita ini aku yakin bahwa itu mbak Mika apalagi dulu Mbak Mika sering keluar malam dengan alasan kumpul bareng geng sosialitanya, aku jadi merasa kasihan terhadap tuan Rico".


"Jangan bilang kamu mau balik lagi sama tuan Rico".


"Ya Allah Bayu kenapa kamu punya pemikiran sampai situ, aku cuma merasa kasian saja tak ada pikiran sedikit pun untuk kembali padanya".


"Bagus kalau begitu, oh iya sekarang kamu sudah punya dokter Martin".


"Ishhhh mana mungkin Dokter Martin mau Janda plus mantan narapidana seperti ku".


"Aku lihat dia sangat perhatian dengan mu".


"Dokter Martin memang seperti itu pada semua orang, udah ahh aku harus kembali membantu Umi Lilah lagi".


"Chieee bantuin calon mertua".


Panggilan pun terputus, Ada rasa kasihan terhadap tuan Rico setelah mendengar cerita dari Bayu, bahkan di hati kecilnya ada rasa ingin menjenguknya ke penjara.


"Biar nanti aku bicarakan kembali pada Bayu, lagian sekarang aku masih sibuk" gumam Aisha.


Aisah kembali ke rumah Umi Lilah, ternyata tamu Umi Lilah sudah datang terlihat di ruang tamu sudah banyak orang yang sedang duduk.


"Aisha tolong bawa minuman dan cemilan ini ke depan yah" pinta Umi Lilah.


"Baik Umi".


Aisha membawa satu tampan penuh berisi minuman, lalu ia menyajikannya di atas meja, lalu Aisha kembali dengan membawa berbagai cemilan yang tadi ia buat bersama Umi.


"Calon Mantu ya" bisik seorang ibu - ibu pada Umi Lilah.

__ADS_1


"Ini namanya Aisha, dia baru bergabung di yayasan sini, Aisha ini anak yatim piatu" Umi Lilah memperkenalkan Aisha pada tamunya.


__ADS_2