
Tiba di rumah sakit, Tante Rena langsung di bawa ke ruang unit gawat darurut, Aisha dan Bayu menunggu di luar dengan perasaan yang tak mampu di jelaskan. apa lagi Bayu yang baru saja kehilangan sang Papa dan sekarang di hadapkan dengan menurunnya kondisi Tante Rena.
"Aku seperti mengenal lelaki itu, mukanya tidak asing tapi siapa ya" gumam Aisha saat melihat seorang lelaki tergolek lemah di atas blangkar sedang di dorong oleh beberapa suster dan juga dua anggota kepolisian.
Aisha terus menatap ke arah lelaki yang tergolek lemah di atas blangkar, Aisha merasa tak asing dengan lelaki tersebut namun pikiran Aisha tak mampu menebak siapa lelaki tersebut.
"Keluarga ibu Rena" kata dokter. Bayu dan Aisha pun langsung berlari mendekat kearah dokter.
"Saya anaknya dok" sahut Bayu. "Dok bagaimana keadaan Mama saya ?".
"Keadaan ibu Rena baik - baik saja, demamnya sudah mulai turun, bu Rena hanya perlu istirahat yang cukup, setelah ini anda bisa langsung urus administrasi bu Rena, kami akan memindahkan bu Rena kebagian ruang perawatan" jelas Dokter.
"Baik dok".
Bayu menuju bagian resepsionis untuk membayar tagihan rumah sakit sementara Aisha menemani Tante Rena di ruang perawatan,keadaannya masih lemah.
'Harusnya malam aku menemani tante Rena tidur, jika semalam aku tidur bersamanya mungkin keadaanya tidak akan separah ini' batin Hana.
Sementara di tempat lain, Umi Fatimah berniat untuk mengunjungi Aisha di yayasam bermaksud untuk menanyakan tentang permintaannya. sejak kemaren Umi telah beberapa kali mengirim pesan pada Aisha namun tak ada satu pun pesan yang di balas oleh Aisha.
"Pak ke Yayasan ya" pinta Umi Fatimah pada sopir pribadinya.
Umi Fatimah harus hidup seorang diri di usianya yang sudah setengah abad, Suami dan anak semata wayangnya pergi untuk selama - lamanya setelah kejadian yang membuat dirinya begitu hina di para warga.
Anaknya menjadi korban pemerkosaan pacarnya sendiri, namun sang pacar tak mau tanggung jawab dan malah pergi entah ke mana. anaknya defresi karena terus - terusan dapat tekanan dari keluarga dan juga warga sekitar hingga akhirnya merenggut nyawanya.
Kondisi sang suami terus menurun saat mengetahui putri semata wayangnya menjadi korban pemerkosaan dan puncaknya setelah sang anak Tiada sang suami semakin drop hingga menghembuskan nafas terakhirnya.
Kesedihan Umi Fatimah belum berakhir setelah kepergian kedua orang tercintanya, Umi Fatimah harus rela kehilangan sebuah perusahaannya yang menjadi sumber keuangannya karena keserakahan dari kakak iparnya. mereka mengambil alih perusahaan yang selama ini di kelola sang suami secara paksa sehingga Umi Fatimah kehilangan sumber ke uangannya.
Demi bertahan hidup, Umi Fatimah harus rela menjual rumah megahnya yang telah meninggalkan sejuta kenangan untuknya. rumah terjual, Umi Fatimah menyewa sebuah ruko berlantai dua, di sana Umi Fatimah mulai membuka usaha toko sembako dengan uang hasil penjualan rumahnya. lantai satu di jadikan warung sembako sementara lantai dua di jadikan tempat tinggalnya.
Tak ada usaha yang menghianati hasil dari hati ke hari usahanya mulai ramai dan memiliki pelanggan tetap, Umi Fatimah mulai kewalahan dalam melayani para pembeli sehingga Umi Fatimah memperkejakan satu orang laki - laki dan satu orang perempuan untuk membantunya di toko.
__ADS_1
Satu tahun toko sembako Umi Fatimah berkembang dengan pesat bahkan kini Umi Fatimah mulai membuka lagi toko baru sehingga kini Umi Fatimah mempunyai dua toko sembako.
Umi Fatimah pun kembali membeli rumah yang tak sebesar rumahnya dulu, namun rumah itu cukup nyaman buat ia tinggali. di rumah tersebut Umi Fatimah memperkerjakan seorang asisten rumah tangga da seorang supir untuk mengantarnya ke mana pun ia pergi.
Umi Fatimah sudah tak peduli dengan keluarga suaminya yang mengambil alih perusahaan, ia sudah ikhlas dengan semua yang terjadi dan mencoba membuka lembaran baru.
Umi Fatimah tiba di yayasan kedatangannya langsung di sambut Umi Lilah dan Abah Anom yang kebetulan sedang berada di depan rumahnya.
"Ayo masuk, kita bicara di dalam saja" ajak Umi Lilah.
"Aku ke sini ingin bertemu dengan Aisha" Umi Fatimah langsung menyampaikan tujuannya datang ke sana.
"Tapi Maaf Umi Aishanya sedang pergi ke kota" jawab Abah Anom.
"Ke kota ? apa itu artinya Aisha menolak permintaan saya" terlihat gurat kekecewaan di wajah Umi Fatimah.
"Aisha ke kota karena Omnya meninggal dunia, bukan karena menolak permintaan Umi" jelas Umi Lilah yang baru kembali dari dapur membawa makanan dan minuman untuk di hidangkan di meja ruang tamu.
"Iya dia Masih memiliki Om dam Tante, Aisha pertama kali di bawa ke sini oleh sepupunya, namun Aisha memutuskan tinggal di sini karena tak ingin menjadi beban orang lain, dan menurut cerita Aisha juga jika mereka tak begitu dekat karena mempunyai masalah keluarga".
"Oh seperti itu, Jadi kapan Aisha akan kembali ?"
"Saya kurang tahu, karena sampai saat ini Aisha belum memberi kabar" jelas Umi Lilah.
Sudah satu jam Umi Fatimah berada di rumah Umi Lilah, mereka asik mengobrol hingga akhirnya Umi Fatimah harus pamit karena ia harus mengontrol toko sembakonya.
"Nanti jika Aisha sudah pulang kabari aku" pinta Umi Fatimah.
****
Dua hari di rawat keadaan Tante Rena mulai membaik, dan nanti sore Tante Rena sudah di perbolehkan pulang.
Aisha dan Bayu silih bergantian untuk menjaga tante Rena, kebanyakan Aishalah yang menunggu tante Rena karena Bayu harus mengurus perusahaan dan juga acara tahlilan yang di selenggarakan di rumahnya.
__ADS_1
"Aisha ?".
"Iya Tante, Tante mau sesuatu ?".
Tante Rena menggelengkan kepalanya. "Terima Kasih sudah sudi merawat tante padahal selama ini tante gak pernah peduli dengan kamu" lirih Tante Rena.
"Tante tak boleh bicara seperti itu, yang terpenting tante harus sembuh dan kembali seperti biasa karena masih ada Bayu yang membutuhkan Tante".
"Iya, Maafkan Tante".
"Tante mau makan apa ?" tawar Aisha.
"Tante masih kenyang nak".
"Kata dokter Tante harus makan banyak biar ada tenaga, tante mau Jus gak ?" tawar Aisha.
"Boleh jika tidak merepotkan kamu".
"Tidak merepotkan kok, Aisha keluar dulu sebentar".
Aisha berjalan menyusuri lorong rumah sakit, bau khas rumah sakit menyeruak di setiap sudut rumah sakit, orang berlalu lalang dengan tujuannya masing - masing.
Aisha menuju kantin rumah sakit, berharap di sana ada yang jual jus, hingga mata Aisha tertuju pada sebuah kedai yang di carinya.
"Pak jus alpukat satu dan jus mangganya satu" ujar Aisha pada pedagang jus buah.
Tak berapa lama pesanan Aisha jadi dan ia kembali ke ruangan tempat di mana Tante Rena di rawat.
Namun di lorong rumah sakit tanpa sengaja Aisha menabrak seorang perempuan yang tengah menggendong seorang bayi, untung saja jus yang Aisha tidak tumpah.
"Maaf" ucap Aisha pada Seseorang yang di tabraknya.
"Aisha, iya kamu Aisha kan ?".
__ADS_1