Sakinah Bersama Mu

Sakinah Bersama Mu
Bab 65


__ADS_3

Aisha sedang bermain bersama anak - anak yatim piatu, tawa mereka merupakan obat untuk Aisha apalagi kini ia hidup sebatang kara, bahkan sampai sekarang ia tidak tahu mau di bawa ke mana arah hidupnya.


"Kak ayo kita nyanyi lagi" pinta salah satu anak.


Aisha pun menurutinya mereka bernyanyi dengan sangat riang gembira seolah - olah tak memiliki beban.


'Mereka begitu sangat bahagia padahal sejak kecil mereka tidak memiliki ibu dan bapak ataupun sanak saudara, sementara aku yang masih memiliki saudara kadang suka masih mengeluh dengan kondisi seperti ini, ya Allah aku malu banget' batin Aisha.


Bermain bersama dan tertawa bersama itulah kenapa Aisha merasa nyaman berada di yayasan tersebut sehingga memutuskan untuk tinggal dan mengabdi di sana.


Hati kecil Aisha masih mencintai cinta pertamanya, entah kenapa cinta itu sulit sekali hilang walaupun kini Aisha sering menyebut nama lain di setiap doanya.


'Ya Allah Maafkan aku yang masih menyimpan perasaan ini, entah kenapa perasaan ini tak pernah hilang' batin Aisha.


"Heii ko melamun di sini" tegur Umi Lilah ketika sore hari Aisha sedang menikmati pemandangan di halaman belakang yayasan.


"Umi kok di sini ?". Aisha terkejut dengan keberadaan Umi Lilah.


"Umi tadi cari kamu, kata Yani kamu di sini, makanya Umi susul ke sini".


"Ada apa Umi nyari Aisha ?".


"Umi cuma mau kasih ini" Umi Lilah menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat.


"Ini apa Umi ?" tanya Aisha penasaran.


"Buka saja, nanti kamu akan mengetahuinya".


Aisha membuka amplop tersebut, Mata Aisha membeliak, hampir saja matai loncat dari tempatnya, bagaimana Aisha tidak terkejut karena isi amplop itu ada uang.


"Maksudnya apa ini Umi ?" tanya Aisha bingung.


"Itu uang titipan dari Umi Fatimah untuk kamu" jelas Umi Lilah.


"Hah dari Umi Fatimah untuk aku, kenapa Ia memberi Aisha Uang sebanyak ini ?" Aisha kembali terkejut setelah mengetahui asal uang tersebut.


"Tujuan pastinya Umi tidak tahu, Namun menurut Umi Fatimah ia sangat sedih mendengar kisah kamu, ia teringat anaknya yang sudah almarhumah".

__ADS_1


"Innalillahi" lirih Aisha. "Apa Umi menceritakan semua kisah ku ?". kalau Iya sungguh Malu sekali Aisha karena dirinya yang merupakan mantan narapidana dan juga seorang janda.


"Tidak, Umi hanya menceritakan intinya saja, maaf Umi sudah lancang".


"Maaf Umi sepertinya Aisha tidak bisa menerima uang ini" tolak Aisha.


"Kenapa Nak ?".


"Entahlah Umi, tapi Aisha merasa tidak pantas untuk menerima uang tersebut apalagi Aisha tidak tahu atas dasar apa Umi Fatimah memberikan uang sebanyak ini untuk Aisha".


"Begini saja, Umi akan menghubungi Umi Fatimah, nanti kamu bicara langsung ya sama beliau".


Entah kenapa Aisha merasa jika Umi Fatimah merasa kasihan dengan hidupnya makanya ia memberi uang secara cuma - cuma, Aisha merasa sedikit kecewa pada Umi Lilah yang seperti menjual kisahnya karena langsung menerima uang tersebut tanpa ada pembicaraan terlebih dahulu.


Umi Lilah segera menghubungi Umi Fatimah, namun ternyata tiga kali panggilan masih tetap tak ada jawaban.


"Aisha Uang ini bisa kamu gunakan untuk modal usaha, apa selamanya kamu akan berada di sini, tidak kan, Umi Ingin kamu jadi perempuan yang sukses".


"Tapi uang ini___".


"Nanti Umi akan bicara lagi dengan Umi Fatimah, Aisha bukannya Umi tak mengingikan ke hadiran mu di sini, Umi dan Abah sudah menganggap kamu seperti anak kami sendiri, Umi ingin melihat kamu bisa bersosialisai berbaur dengan masyarakat, Uni tahu kamu pasti ada rasa takut tidak di terima di Masyarakat buang jauh - jauh pikiran tersebut Aisha". ujar Umi.


"Akan Aisha pikirankan kembali, tapi untuk sementara uangnya Umi simpan saja dulu sama Umi, Aisha percaya sama Umi" Aisha menyerahkan kembali uang yang di dalam amplop tersebut pada Umi Lilah. Aisha belum menghitung berapa banyak uang tersebut namun Aisha dapat memastikan jika uang tersebut di pastikan lebih dari lima juta.


"Baiklah".


***


"Bay Aku mau cerita sesuatu".


Malam hari setelah kegaiatan Yayasan selesai Aisha memutuskan untuk segera ke kamarnya, ia ingin menghubungi Bayu untuk meminta pendapat.


"Cerita apa ?".


Aisha menceritakan semuanya pada Bayu tentang asal usul uang tersebut dan Aisha juga menceritakan saran Umi Lilah yang menyuruhnya untuk membuka usaha dengan tersebut.


"Kamu kenal dengan Umi Fatimah tersebut ?".

__ADS_1


" Tidak Bay, aku baru tadi mengenalnya saat membantu Umi Lilah".


"Jujur ya, Aku juga merasa heran kenapa tiba - tiba Umi Fatimah memberi mu uang, tapi mungkin itu rezeki kamu Aisha".


"Ya tapi tetap saja aku merasa aneh saja, aku takut jika ada maksud tertentu".


"Kalau aku sih terserah kamu saja, tapi menurut ku apa yang di katakan Umi Lilah ada benarnya, kamu harus keluar dari zona nyaman kamu, karena tak selamanya kamu akan berada di sana".


"Entahlah Bay, aku sudah merasa nyaman di sini, mereka tak pernah membahas masa lalu ku".


"Aisha kamu bisa buka toko kue, bukannya kamu sangat hobi membuat berbagai aneka kue dan rasanya juga enak menurut ku" saran Bayu.


"Akan ku pikirkan lagi".


Setelah hampir satu setengah jam berbicara dengan Bayu lewat sambungan telepon, akhirnya Aisha mengakhiri panggilannya karena ia juga harus segera istirahat.


Esok pagi, Aisha masih belum punya keputusan pasti uang tersebut, pikirnya ia hari ini akan meminta pendapat pada Dokter Martin, Aisha yakin Dokter Martin akan memberinya solusi.


Namun sayang sejak kemaren setelah melihat dokter Martin pergi dengan pakaian rapih Aisha tidak melihat sosok orang yang di carinya biasanya di pagi hari akan melihat dokter Martin berolahraga namun hari ini ia tak melihatnya.


'Kemana dia, kenapa di seperti menghilang saat aku benar - benar membutuhkannya' batin Aisha.


"Hey pagi - pagi sudah melamun saja, pasti lagi mikirin dokter ganteng" tegur Yuni.


"Ishhh kamu ganggu saja" keluh Aisha.


"Chieee lagi mikirin dokter ganteng karena hari ini belum terlihat batang hidungnya ya kan hayo ngaku saja" ledek Yuni.


"Aisha tenang saja Dokter ganteng baik - baik saja, kenapa sekarang dokter ganteng belum terlihat karena dokter ganteng sedang sibuk dengan banyak pasien yang mengalami kecelakaan".


"So tahu kamu !" ketus Aisha.


"Kalau gak percaya lihat saja berita di televisi".


"Maksud ku itu kamu so tahu kalau aku sedang memikirkan atau menunggu dokter Martin" belas Aisha.


"Tuh kan kalau yang merasa mah di senggol dikit saja langsung berontak".

__ADS_1


"Ishhh lama - lama kamu nyebelin juga ya Yun, aku sedang memikirkan jika aku memulai sebuah usaha kira - kira usaha yang cocok untuk ku itu apa ?".


"Ya yang pasti harus sesuai kemampuan kita lah".


__ADS_2