
"Itu seperti Aisha".
"Mungkin itu hanya mirip saja, mana mungkin dia berkeliaran malam - malam bukannya dia sedang di sekap ?!".
"Iya betul juga kata kamu, mana mungkin dia bisa kabur, dia hanya perempuan lemah dan juga bodoh".
...๐พ๐พ...
Aisha menuju rumah orang tuanya dengan menggunakan sebuah taksi, selama perjalanan Aisha terlelap tidur karena ia kelelahan.
"Non, ini kita sudah sampai di alamat yang non tadi sebutkan" ujar sang sopir taksi.
"Maaf pak, saya ketiduran" sahut Aisha seraya mengucek - ngucek kedua matanya. Aisha segera turun dari taksi tersebut. "Tunggu sebentar ya pak, saya ambil uang dulu ke dalam rumah" ujar Aisha.
Ia mengetuk pintu rumah kedua orang tuanya, tak lama keluarlah wanita paruh baya dari dalam rumah tersebut.
"Nak, kenapa kamu ada di sini, kenapa dengan wajah kamu, ko pucat sekali" Ibu Ima sangat terkejut dengan dekatan sang anak pada jam empat pagi.
"Nanti Aisha ceritakan, Ibu boleh Aisha pinjam uang buat bayar taksi, kasian bapakanya nunggu" ujar Aisha.
"Bentar".
Wanita paruh baya tersebut berlalu untuk mengambil beberapa lembar uang untuk membayar taksi, setelah di bayar Ibu Ima kembali melontarkan beberapa pertanyaan kepada Aisha.
"Bu Aisha mau makan dulu lapar, insya allah nanti Aisha cerita ko" ujar Aisha, ia masih berusaha menyembunyikan rasa ketakutannya.
Aisha pergi ke dapur, ia memakan beberapa lembar roti dan segelas susu hangat untuk mengisi tenaga dan juga menghilangkan rasa laparnya.
Ibu Ima secara diam - diam memperhatikan wajah sang anak yang terlihat pucat dan ada beberapa lebam di tangannya.
"Ayah mana bu ?" tanya Aisha.
"Ayah lagi tidur, bentar lagi juga bangun" jawab ibu Ima. "Nak sekarang jujur sama ibu, sebenarnya apa yang terjadi dengan kamu, kenapa kamu datang ke sini jam segini, lalu kenapa tangan kamu seperti banyak lebamnya, wajah kamu juga pucat sekali ?".
Deg . .
Aisha terdiam sesaat, ia bingung harus dari mana ia mulai bercerita, tiba - tiba air matanya mengalir begitu saja.
__ADS_1
"Apa kamu ada masalah dengan suami mu ?" tanya Ibu Ima lagi.pertanyaan Ibu Ima membuat tangis Aisha semakin pecah.
"Nak ceritalah !" pinta Ibu Ima.
Aisha memeluk sang ibu dengan serat, selama satu tahun ia telah berhasil menyembunyikan semua permasalahan hidupnya kepada keuda orang tuanya,dan kali ini ia sudah tak bisa memendam semua permasalahannya seorang diri.
"Ada apa ini ?" Pak Danu terbangun dari tidurnya saat mendengar suara tangis di dalam rumahnya, namun ia belum menyadari kehadiran Aisha si anak sulung.
Aisha melepaskan pelukannya, kemudian berlari ke arah sang ayah.
"Ayah maafkan Aisha, maaf Aisha tidak bisa jadi anak yang baik, Aisha nyerah ayah" ucap Aisha seraya bersimpul di kaki sang ayah.
"Kenapa kamu berbicara seperti itu, ini ada apa sebenarnya ?" tanya pak Danu yang kebingungan. "Aisha kenapa kamu ada di sini, mana suami mu ?" tanya Pak Danu lagi.
Aisha tak mampu menjawab semua pertanyaan sang ayah, ia terus menangis seraya bersimpuh di hadapan sang ayah.
"Nak ceritalah, jangan buat kami pemasaran" ujar Ibu Ima. ia mencoba mengajak Aisha untuk duduk di ruang tamu.
Ibu Ima mencoba menenangkan sang anak, sedangkan pak Danu terus mondar - mandir seraya berpikir dan menerka - nerka apa yang terjadi pada putri sulung mereka.
"Jangan bilang jika kamu di usir oleh suami mu" tebak Pak Danu.
"Ibu, Ayah, maaf jika keputusan Aisha akan membuat kalian kecewa" ujat Aisha memulai pembicaraannya.
"Maksud kamu apa, jangan bicara setengah - setengah" sahut pak Danu yang memang sudah sangat penasaran.
"Sabar yah, biarkan Aisha bicara pelan - pelan" ujar Ibu Ima menenangkan sang suami.
"Ayah, Ibu, Aisha sudah buat keputusan untuk bercerai dengan tuan Rico" ujar Aisha dengan suara gemeter dan bercucuran air mata.
Plakk . .
Sebuah tamparan mendarat di pipi mulus Aisha.
"Dasar anak tak tau diri, lihat hidup kita kini sejahtera kembali, tanpa kekurangan apa pun, ini semua berkat tuan Rico" pak Danu sangat marah saat mendengar anaknya ingin minta cerai dari tuan Rico.
"Yah sabar, dengarkan dulu alasan Aisha" sahut Ibu Ima.
__ADS_1
"Aku tau, kenapa dia minta cerai pasti dia mau kembali dengan pria yang anak ustad itu kan, apa hebatnya si pria itu, lihat sejak kamu menikah dengan tuan Rico selain kamu yang hidup enak, kita juga bisa hidup enak, ayah tak perlu kerja lagi, biaya sekolah adikmu sudah ada yang nanggung, lalu kalau kamu cerai dengannya siapa yang akan membiayai keluarga kita dan bagaimana dengan nasib adik kamu" ujar pak Danu, ia sangat kecewa dengan Aisha.
"Tapi ayah tidak tau apa yang selama ini terjadi dengan Aisha, ayah tidak tau kan kenapa sampai sekarang Aisha tak kunjung hamil" ujar Aisha dengan intonasi yang agak tinggi.
"Mungkin itu karena tuan Rico yang tidak subur, lihat saja kedua istrinya, mereka juga tak kunjung hamil padahal sudah lama menikah" jawab pak Danu dengan entengnya.
"Salah ayah, itu semua salah" Aisha sudah tak bisa mengontrol emosinya. "Aisha tak kunjung hamil karena selama menikah kita tidak pernah tidur bareng, yang lebih kejinya lagi tuan Rico malah menyewakan tubuh Aisha kepada teman - temannya, Aisha sering di kurung di gudang, gak di kasih makan dan juga minum" ujar Aisha jujur membuat Ibu Ima sangat terkejut dengan pengakuan sang anak, namun berbeda dengan pak Danu.
"Ayah tidak percaya jika tuan Rico seperti itu, buktinya dia baik kepada Ayah, ibu dan juga adik mu, jangan - jangan itu hanya akal - akalan kamu saja agar bisa pisah dengannya" entah kenapa pak Danu tidak langsung percaya dengan pengakuan sang anak.
"Lalu ngapain jam segini Aisha datang kerumah ayah dan Ibu, bahkan Aisha tidakembaya tas atau pun ponsel, untuk membayar taksi saka tadi Aisha pinjam sama ibu" jelas Aisha.
"Sudahlah, Ayah akan menghubungi suami mu, pasti dia akan sangat cemas mencari kamu".
"Ayah, aku mohon jangan kasih tau Tuan Rico jika Aisha ada di sini" ujar Aisha.
"Jangan bilang kalau kamu kabut dari rumah suami mu". tebak pak Danu.
"Iya memang Aisha kabur, Aisha sedang di sekap di gudang belakang rumah, itu gara - gara Aisha kabur saat akan di sewakan kepada temannya" ujar Aisha.
"Ayah tidak percaya, ayah akan tanyakan langsung pada suami mu" ucap pak Danu tegas.
Sedangkan Ibu Ima hanya terdiam, Ia melihat gurat sedih dan juga ketakutan di wajah sang anak, dan ia sangat yakin jika anaknya tidak sedang berbohong.
"Ayah, Gimana kalau yang di katakan Aisha bener" ujar Ibu Ima.
"Kita tidak boleh langsung percaya begitu saja, kita sebagai orang tua harus menjadi penengah, kita juga harus mendengarkan penjelasan dari suaminya" ujar pak Danu.
...๐พ๐พ๐พ๐พ๐พ...
***Jangan lupa baca juga karya author yang lainnya.
๐Aku Memilih_Mu
๐Bertemu Jodoh Di pesantren
๐Hujan Kemarin
__ADS_1
Jangan Lupa Like dan Vote juga agar author semakin semangat dalam melanjutkan cerita ini. berikan juga saran dan kritikannya juga di kolom komentar***.