Sakinah Bersama Mu

Sakinah Bersama Mu
Bab 58


__ADS_3

"Aku mau minta tolong sama kamu" ujar tuan Rico saat sang istri datang berkunjung.


"Tolong apa ?" tanya Sari.


"Tolong hubungi pengacara, suruh datang sekarang !" pinta tuan Rico.


"Baiklah" jawab Sari, karena di ruang kunjungan di larang menggunakan ponsel akhirnya Sari izin terlebih dulu keluar sebentar. tak lama kemudian Sari kembali ke ruang kunjungan.


"Lima belas menit lagi dia tiba di sini" ujar Sari.


"Kapan kamu kembali ke bali ?" tanya tuan Rico.


"Kemungkinan Lusa, sebenarnya aku ingin lebih lama tinggal di sini, namun kamu menyuruh ku untuk mengecek keadaan kantor".


"Maafkan aku jika aku membuat kamu kerepotan, pesan ku hanya satu jangan terlalu cape, jaga calon anak kita, soal kantor kamu hanya mengontrolnya saja, biarkan asisten ku yang bekerja" jelas tuan Rico.


Tak terasa dua puluh menit berlalu, sang pengacara baru saja tiba di ruang kunjungan.


"Maaf saya telat, jalanan macet sekali" ujar sang pengacara.


"Sayang aku ingin bicara penting dengan pengacara, kamu boleh keluar sebentar" ujar tuan Rico.


"Kenapa, apa aku tidak boleh mengetahuinya, apa ada sesuatu yang kalian sedang sembunyikan dari aku ?!" selidik Sari.


"Tidak sayang, hanya saja aku takut nanti ada yang curiga saja" jelas tuan Rico.


Akhirnya Sari mengalah, ia pamit untuk pulang, perutnya juga sudah minta di isi, karena sedang hamil membuat Sari sering merasa cepat lapar.


Di dalam ruangan tuan Rico menatap tajam ke arah sang pengacara, hal itu membaut sang pengacara merasa terheran - heran.


"Kenapa saya belum keluar juga ?" tanya tuan Rico.


"Soal itu, saya mohon maaf ternyata beberapa sertifikat yang tuan miliki itu ternyata palsu jadi saya tidak bisa menjual tanah tersebut". jelas pengacara.


"Apa palsu kamu bilang !!" Seru tuan Rico.


"Iya tuan, di tempat tuan Rico tunjukan saya menemukan lima sertifikat, dan ternyata semuanya palsu, lalu menurut tuan di sana terdapat uang dan juga emas batangan, namun untuk uang dan juga emas batangan tersebut tidak ada hanya ada Sertifikat palsu ini saja" jelas sang pengacara seraya menyodorkan sertifikat tersebut.


"Ini gak mungkin !!" Seru tuan Rico marah. "Siapa yang melakukan ini semua !!" bentak tuan Rico, sertifikat tersebut di lempar ke sembarang tempat.


"Mohon maaf di larang berisik nanti menganggu yang lainnya" tegur petugas lapas.


Tuan Rico menatap tajam pada sang pengacara.

__ADS_1


"Jangan - jangan kamu telah menyalah gunakan kepercayaan saya, lalu kalau bukan kamu siapa lagi, hanya kamu yang masuk keruangan tersebut selain saya" tuduh tuan Rico.


"Saya hanya menjalankan tugas dari tuan saja, saya bekerja bertahun - tahun untuk tuan, pasti tuan sudah kenal saya seperti apa" ujar sang pengacara.


"Lalu siapa yang melakukan ini semua ?".


"Bisa jadi istri tuan" sahut Sang pengacara.


"Maksud anda Sari ?".


"Siapa lagi istri anda selain Sari, Mika sudah resmi jadi mantan istri tuan, dan hanya Sari yang selalu berada di rumah tersebut".


"Tapi dia tidak mungkin melakukan ini semua". Tuan Rico tidak yakin jika sang istri yang melakukan ini semua.


"Kamu kembali ke rumah, cek cctv di sana" titah tuan Rico.


...๐ŸŒพ๐ŸŒพ...


Hidup itu adalah sebuah pilihan, dimana kita memilih yang satu dan harus mengorbankan yang lainnya. Seperti pilihan Aisha yang ingin mengabdikan dirinya untuk yayasan tersebut, dan Aisha rela melepaskan kebebasannya, Aisha memilih hidup dilingkungan yayasan dari pada harus berdampingan dengan masyarakat. Aisha memilih untuk mengabdikan diri pada anak - anak yatim piatu dari pada harus mengejar masa depannya.


Satu persatu kehidupan Aisha berubah, Aisha kembali berpenampilan tertutup, dan pelan - pelan ia bercerita siapa dia sebenarnya.


"Maaf jika aku terlalu ingin mengetahui tentang kamu di masa lalu" ujar Dokter Martin.


"Tidak Apa - apa, mungkin ini saatnya kamu tau siapa aku sebenarnya" sahut Aisha seraya tertunduk.


Aisha dengan ragu - ragu mengungkapkan statusnya kini yang merupakan seorang janda, hal itu membuat dokter Martin sangat terkejut, pasalnya ia mengira Aisha adalah seorang perawan.


"Mungkin setelah ini pak dokter akan menjaga jarak dengan saya" ujar Aisha seraya tertunduk.


"Kenapa harus menjaga jarak, apa kamu sudah mempunyai calon lagi ?".


"Untuk calon saya belum ada bahkan untuk membangun rumah tangga lagi belum ada ke pikiran" jelas Aisha. "Karena dokter tahu kalau saya adalah seorang janda, gelar tersebut selalu di pandang sebelah mata oleh orang - orang bahkan ada yang menyebutnya dengan sebutan wanita tidak benar karena status tersebut" sambung Aisha.


"Maaf jujur aku memang terkejut dengan status kamu, namun kamu juga punya alasan tersendiri kenapa kamu menyandang status tersebut".


Aisha mulai menceritakan kisah pernikahan dan semakin membuat dokter Martin merasa kasihan dengan Aisha.


"Maaf aku malah membuka luka lama kamu".


"tidak masalah, aku pelan - pelan belajar ikhlas dengan apa yang telah menimpa ku, semoga dengan cara ini allah bisa menghapus dosa - dosa yang pernah saya perbuat" ujar Aisha.


Karena sebentar lagi adzan magrib, Aisha pun memutuskan kembali ke kamarnya untuk persiapan shalat magrib berjamaah.

__ADS_1


"Jika kamu butuh teman curhat aku siap kok jadi temen curhat kamu" ujar Dokter Martin.


"Terima kasih". jawab Aisha seraya berlalu.


Malam yang begitu sunyi, dokter Martin tak bisa memejamkan matanya, rasa ngantuk itu hilang begitu saja, di pikirannya masih terngiang - ngiang tentang status Aisha.


"Nak apa kamu sudah tidur ?" tanya Umi Lilah dari balik pintu kamar dokter Martin.


"Belum Umi" jawab dokter Martin seraya membuka pintu kamarnya.


"Abah mau bicara !" Seru Umi Lilah.


Tanpa banyak tanya, Dokter Martin mengikuti sang Umi menuju ruang tamu yang menyatu bersama ruang keluarga.


"Ada apa Abah ?".


"Sini duduk, ada yang ingin Abah tanyakan ke kamu" pinta Abah Anom, Dokter Martin pun duduk di samping Abah Anom. "Nak, Usia Abah dan Umi semakin bertambah, Abah dan Umi ingin sekali melihat kamu menikah, siapa pun wanita pilihan kamu, Abah dan Umi pasti merestui" ujar Abah Anom seraya menatap sang putra.


Dokter Martin terdiam sejenak, dia bingung harus bicara apa pada orang tuanya, karena ia belum memiliki calon sama sekali.


"Nak, apa kamu sudah punya calon untuk di kenalkan pada Umi dan Abah ?" tanya Umi Lilah.


"Jujur Martin belum ke pikiran sampai ke sana, dan untuk calon pun Martin belum punya" ujar Dokter Martin seraya tertunduk, ia sadar jika ucapannya pasti akan membuat kedua orang tuanya kecewa.


"Nak, Usia kamu sudah cukup untuk membina sebuah rumah tangga, Abah dan Umi tidak memaksa untuk kamu cepat - cepat menikah, tapi Umi dan Abah berharap kamu segera menemukan jodohnya". ucap Abah Anom.


"Teman - teman Umi rata - rata sudah punya cucu, Umi juga sudah gak sabar ingin menggendong cucu" sahut Umi Lilah.


...๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ...


Hai. . Hai . .


Mungkin dari sebagaian reader banyak yang bertanya kenapa Author tidak Update dalam beberapa hari ke belakang, jadi jawabannya.


Di tanggal 8 Author merasakan kontraksi, dan tepat tanggal 9 Author melahirkan putra pertama Author, waktunya begitu singkat namun penuh dengan drama yang membuat jantung terasa berhenti berdetak. sekarang Author masih dalam proses pemulihan. jadi mungkin untuk sekarang Ini Author akan jarang update, jadi mohon pengertiannya.


Jangan lupa baca juga karya author yang lainnya.


๐Ÿ“Aku Memilih_Mu


๐Ÿ“Bertemu Jodoh Di pesantren


๐Ÿ“Hujan Kemarin

__ADS_1


Jangan Lupa Like dan Vote juga agar author semakin semangat dalam melanjutkan cerita ini. berikan juga saran dan kritikannya juga di kolom komentar


__ADS_2