Sakinah Bersama Mu

Sakinah Bersama Mu
Bab 67


__ADS_3

"Maaf aku bukan perempuan baik - baik, aku gagal melindungi adik ku, aku yang membuat hidup ku menjadi sebatang kara" lirih Aisha dalam pelukan Umi Fatimah.


Aisah melepaskan pelukannya dari Uni Fatimah di saat tangisannya mulai terhenti, ia berusaha mengontrol emosinya, mengingat kejadian itu membuatnya kadang merasa jadi seonggok sampah yang tak berguna.


"Aku di penjara karena aku mengganggu rumah tangga seseorang yang teramat aku cintai, orang itu aku tinggalkan demi menikah dengan pilihan orang tua, saat aku kembali ternyata orang itu telah menikah, aku berusaha mengambil kembali apa yang harus aku miliki bahkan aku rela jadi yang ke dua namun ternyata tindakan ku salah dan akhirnya aku mendekam di balik jeruji. aku mantan narapidana apa Umi tidak malu jika mengangkat aku sebagai anak, bagimana dengan tanggapan keluarga Umi jika Umi mengangkat aku sebagai anak" lirih Aisha.


"Umi hidup sendiri, mereka meninggalkan Umi ketika Umi terpuruk, mereka datang ketika Umi sudah bangkit kembali, apa orang seperti itu pantas di sebut keluarga ?".


Aisha terdiam, pikirannya seakan buntu untuk berpikir secara jernih. Ada rasa bahagia saat ada yang mau menganggap dirinya keluarga namun apa lingkungannya akan menerimanya dengan baik, itulah yang menjadi sebuah ketakutan yang menghantui Aisha.


Satu jam mereka bercerita tentang masa lalu masing - masing membuat Aisha perlahan mengerti tentang kondisi Umi Fatimah sekarang.


"Jika nanti kamu sudah siap, hubungi Umi saja ya, salam buat Umi Lilah dan juga Abah anom, Umi langsung pulang saja karena udah mau sore juga" ujar Umi Fatimah ketika mobil yang mereka tumpangi sudah tiba di depan gerbang yayasan.


"Iya Umi" jawab Aisha, tak lupa sebelum turun Aisha mencium tangan perempuan paruh baya tersebut dengan takzim.


Aisha langsung berjalan ke arah kamarnya, rasanya badan sudah lengket dengan keringat sehingga ia harus segera mengguyur tubuhnya agar terlihat kembali segar.


"Baru pulang Han ?!" tegur salah satu pengurus yayasan yang kebetulan mereka berpapasan.


"Iya nih, aku duluan yahh mau bersih - bersih dulu" jawab Aisha.


Adzan Ashar berkumandang dari mushola yayasan, Aisha yang baru selesai mandi langsung siap - siap ke mushola untuk ikut shalat Ashar berjamaah.


Dari Kejauhan Aisha melihat Umi sedang berjalan menuju mushola nampak seorang perempuan cantik juga beriringan berjalan dengan Umi, perempuan itu usianya hampir sama dengan Aisha.


'Mungkin saudara Umi yang sedang bertamu' gumam Aisha langsung masuk ke dalam mushola.


"Iya cantik banget".


"Lulusan luar negri tahu".

__ADS_1


"Kalau itu bener calonnya bagaimana dengan Aisha, bukanya selama ini mereka itu dekat ?".


Terdengar kasak kusuk dari mereka yang tengah berkumpul di dalam mushola, Entah mereka sedang membicarakan siapa namun langkah Aisha terhenti saat namanya di sebut - sebut dalam pembicaraan mereka.


"Syuuuttt ada Aisha" ujar salah satu dari mereka yang menyadari kehadiran Aisha.


Mereka kompak melirik pada Aisha, Sementara yang di lirik tampak kebingungan hingga hanya mampu tersenyum untuk membalas lirikkan mereka.


"Kamu sudah pulang Nak ?" tanya Umi Lilah yang duduk di samping Aisha begitu pun dengan perempuan yang bersama Umi ia duduk di samping Umi.


"Udah Umi, tadi Umi Fatimah gak sempat mampir karena udah sore juga katanya, oh iya Umi nanti ada sesuatu yang ingin Aisha bicarakan dengan Umi" ujar Aisha.


"Iya nak, nanti kamu kerumah saja" ujar Umi Lilah. "Nak, kenalin ini namanya Zahra temannya Martin" ujar Umi Lilah memperkenalkan perempuan yang sejak tadi bersamanya.


"Zahra" perempuan cantik dan senyum yang manis itu mengulurkan tangannya memperkenalkan dirinya.


"Aisha".


Aisha menyambut uluran tangan perempuan yang bernama Zahra tersebut, ada rasa sakit di hatinya saat Umi memperkenalkan dirinya sebagai teman Dokter Martin.


Selesai shalat Aisha langsung ke kamarnya, di dalam kamar Aisha menumpahkan seluruh tangisnya, hatinya kembali hancur saat harapan tak sesuai kenyataan, ternyata orang yang selalu di sebut dalam setiap doanya telah memiliki tambatan hati tapi bukan dirinya.


'Apa aku tak pantas untuk bahagia kenapa aku selalu seperti ini, kenapa setiap orang yang aku inginkan selalu di miliki orang lain' gumam Aisha dalam hatinya.


Aisha berkali - kali menurtuki kebodohannya karena telah berharap pada sesuatu yang tak mungkin ia sanggup menggapainya.


'Kamu itu janda dan dia itu perjaka jadi kamu harus sadar diri inget itu Aisha' Aisha membatin.


Sudah satu jam Aisha mengurung diri di dalam kamarnya, bahkan ia melupakan janjinya yang akan menemui Umi Lilah setelah shalat Ashar.


Desas - desus tentang sosok perempuan bernama Zahra terus menjadi topik pembicaraan para pengurus yayasan, mereka tak henti - hentinya memuji kecantikannya dan juga sikapnya yang ramah.

__ADS_1


"Pasti Umi dan Abah senang banget dapat menantu seperti Zahra". ujar salah satu pengurus yayasan.


"Iya lah, Zahra itu cantik, pintar, ramah dan yang pasti anak orang kaya" sahut yang lainnya.


"Dokter Martin dan Zahra sama - sama anak tunggal" ujar yang lainnya.


"Aisha bagaimana ya, kan selama ini mereka terlihat dekat".


"Iya juga ya, kasian Aisha".


Aisha tersenyum getir mendengarnya dan segera berlalu agar hatinya tak terlalu semakin sakit mendengar tentang Dokter Martin dan Zahra.


Di sebuah bangku di tepi kolam Aisha termenung seorang diri di malam yang makin larut, menatap langit yang gelap hanya ada gemerlap bintang Aisha berharap di beri kekuatan hati untuk melewati setiap masalahnya, ia tak ingin kembali terpuruk seperti dulu lagi.


'Apa aku harus terima permintaan Umi Fatimah, tapi bagaimana dengan lingkungannya ?' batin Aisha.


Aisha merasa nyaman tinggal di lingkungan yayasan tersebut karena mereka tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, mereka juga mengerti tentang sopan santun sehingga tak ada yang berani mempertanyakan tentang masa lalu Aisha.


Aisha mengutak - ngatik ponselnya, lalu menghubungi Bayu karena hanya Bayu saudara satu - satunya yang masih peduli dengan Aisha.


Setelah menunggu beberapa menit ternyata Bayu tak menjawab panggilan dari Aisha. di coba kembali menghubungi Bayu namun sama saja tetap tak ada jawaban.


"Melamun saja !" Suara seseorang sukses membuat Aisha terkejut dan membuyarkan semua lamunanya.


"Ini udah malam, kenapa masih di sini ?" tanya seseorang tersebut.


"Emang ada larangan jika sudah malam tak boleh di sini !" ketus Aisha.


"Lagi sensi nih, senggol dikit langgung ngegas".


"Bukan urusan kamu !" ketus Aisha.

__ADS_1


Seseorang tersebut adalah dokter Martin, melihat Aisha sedang termenung seorang diri akhirnya dia mencoba menghampirinya.


"Kenapa dokter juga ada di sini malam - malam, calon dokter sudah pulang ? nanti dia marah loh kalau lihat kita berduaan di sini, aku gak mau di bilang pelakor !" ketus Aisha dengan perasaan yang sesak di dada.


__ADS_2