
"Sembarangan saja kalau kamu bicara, Mana mau Dokter Martin dengan perempuan seperti ku".
"Dia tahu tentang kamu ?". Aisha pun menganggukan kepalanya.
Akhirnya Mereka tiba di makam Ayla, Aisha langsung menaburkan bunga dan Air yang ia beli tadi di pintu masuk pemakaman, makam sang adik terlihat bersih dan juga rapi karena seminggu sekali Bayu selalu datang untuk membersihkan dan juga merapihkan makan Ayla.
"Bay, Maksih ya sudah merawat dan juga menjaga makan Ayla".
"Jangan bicara seperti itu, bagaimana pun Ayla juga adik ku".
Mereka berempat merapalkan doa - doa dengan hidmat, bahkan sesekali Aisha terlihat meneteskan air matanya, di pikirannya lerlintas bayangan saat dirinya bertengkar dengan sang adik hingga sang adik mengalami kecelakaan yang mengakibatkan nyawanya melayang.
"Sayang, maafkan kakak" ucap Aisha lirih.
Selesai berdoa di makam Ayla, Bayu mengajak Aisha dan yang lainnya untuk mampir terlebih dahulu ke rumahnya.
Rumah Bayu memang tak jauh dari pemakaman, hanya membutuhkan waktu lima belas menit, mereka sampai di rumah kedua orang tua Bayu.
"Tante dan Om ada ?" tanya Aisha saat memasuki rumah Bayu.
"Mama dan Papa sedang berada di singapore, mereka sedang ada bisnis dan juga sekalian mengobati sakitnya Papa".
"Om sakit ?" Bayu pun menganggukkan kepalanya. "Maaf aku tidak Tahu jika Om sakit" ucap Aisha.
"Tidak Apa - apa" jawab Bayu.
Tak lama Asisten rumah tangga Bayu datang membawa minuman dan juga makanan.
"Ayo di Minum dulu pasti kalian haus" ujar Bayu. "Aisha kamu nginep saja di sini" pinta Bayu.
"Sepertinya tidak bisa, besok aku ada acara" jawan Aisha. "Mungkin lain kali" sambung Aisha.
"Ya sudah, tapi sebelum kalian pulang lagi, bagaimana kalau kita makan siang di luar, aku punya tempat makan yang asik banget" ajak Bayu.
"Hmmm . . boleh, tapi setelah makan siang aku langsung balik ke yayasan" ujar Aisha.
Mereka pergi menggunakan mobil Dokter Martin, Bayu duduk di belakang kemudi. Bayu memutuskan untuk tidak membawa mobil, masalah pulang nanti dia bisa memesan taksi online.
Jalanan terlihat macet karena ini jam makan siang, orang berlomba - loba keluar dari dalam rumahnya mencari makanan yang di inginkannya tak peduli lagi dengan cuaca yang panas dan juga macetnya jalan yang terpenting perut mereka terisi.
__ADS_1
"beginilah kota macet di mana - mana" gerutu Bayu.
"Kalau tidak macet rasanya ada yang kurang" Sahut Aisha.
Setelah melewati jalanan yang macet akhirnya mereka tiba di tempat tujan, karena mereka datang ketika jam makan siang restaurant tersebut pun ramai oleh pengunjung.
"Sepertinya tempat ini sangat terkenal, bisa di lihat dari pengunjungnya" ujar Dokter Martin.
Sementara Bayu terus melihat ke kiri dan ke kanan mencari meja yang masih kosong.
"Mau makan di sini ?" tanya seorang pelayan dan Bayu langsung menganggukan kepalanya. "Di dalam masih ada yang kosong pak, mari ikut saya" ujar pelayan dengan ramah.
Mereka semua memilih menu makanan mereka masing - masing, seraya menunggu makanan datang, mereka pun sedikit berbincang - bincang, Bayu menceritakan bagaimana Aisha kecil pada Dokter Martin dan juga Yani.
"Mbak Aisha !!" tegur seseorang perempuan membuat Aisha, Yani, Dokter Martin dan Bayu langsung menghentikan tawa mereka dan menoleh ke arah sumber suara.
"Kak Bani, Syifa !!" Seru Bayu.
"Syifa".
Aisha dan Syifa berpelukan, ia memang mereka telah lama tak bertemu setalah Aisha memutuskan untuk menetap di yayasan.
"Alhamduliah baik, kamu sendiri bagaimana ?" tanya Aisha balik. "Ini anak kamu kembar ?".
"Alhamdulilah baik juga, ia ini anak - anak aku".
"Masya allah" ucap Aisha.
Ada rasa canggung saat ingin menyapa Bani, karena bagaimana pun Bani merupakan masa lalu Aisha bahkan mereka pernah ada masalah.
"Makan bareng di sini saja, jarang - jarang loh kita kumpul" ajak Bayu.
"Terima kasih" jawab Syifa.
"Oh ini kenalin, yang ini temen Aisha, nama Yani mereka sama - sama pengurus di yayasan, kalau yang ini namanya Dokter Martin dia adalah anak tunggal pemilik yayasan". jelas Bayu.
Mereka semua berkenalan, awalnya Syifa mengira mereka sedang double date, tapi ternyata dugaan Syifa salah, namun di dalam hatinya Syifa berharap Aisha segera mendapat pendamping hidupnya.
"Kita duluan ya" ujar Bani, ya ada rasa tak enak hati jika berlama - lama di sama, Bani takut itu akan membuat sang istri merasa cemburu.
__ADS_1
"Ya sudah, semoga lain kali kita bisa kumpul bareng"bisa ujar Bayu.
"Insya Allah".
Aisha menatap kepergian Syifa dan juga Bani, dalam pikirannya terlintas andai perempuan yang ada di samping Bani adalah dirinya mungkin ia akan merasa menjadi perempuan paling sempurna dan juga beruntung, namun takdir tak membuat Dirinya dan Bani tidak berjodoh.
"Istighfar, kamu pasti menemukan yang terbaik menurut Allah". Batin Aisha.
Dokter Martin merasa penasaran dengan sosok pasangan tadi namun ia tak berani untuk bertanya tentang pasangan tersebut.
"Nanti saja di jalan ku tanyakan, di sini tak enak ada Bayu" batin Dokter Martin.
Setelah selesai makan, Aisha, Yani dan Dokter Martin langsung pamit pulang, sementara Bayu masih menikmati suasana restaurant tersebut.
Selama perjalanan pulang tak ada pembicaraan, mereka hanyut dalam pikiran masing - masih, niat dokter Martin untuk bertanya tentang Syifa dan Bani pun di urungkan setelah melihat Aisha tertidur dengan pulas.
Mereka tiba di yayasan sudah jam lima sore, Aisha langsung menuju kamarnya untuk membersihkan dirinya dan bersiap - siap untuk shalat magrib dan begitu pun Yani yang langsung menuju kamarnya.
"Apa perjalanan kalian lancar ?" tanya Abah Anom pada sang Putra.
"Lancar Abi, datang ke sana kita langsung menuju makam almarhum adiknya Aisha, di sana juga Aisha mengajak sepupunya bernama Bayu". jelas Dokter Martin.
"Nak Bayu sudah lama tak berkunjung ke sini, dia yang menitipkan Aisha ke sini pertama kalinya". sahut Abah Anom.
"Kita juga di ajak ke rumah Bayu, namun katanya kedua orang tua Bayu sedang tidak ada di rumah mereka sedang berobat di luar negri".
"Pantas Bayu sudah jarang ke sini, mungkin dia sibuk".
"Mungkin".
Setelah berbincang sebentar dengan orang tuanya, Dokter Martin langsung pergi untuk membersihkan badannya dan mempersiapkan diri untuk shalat magrib.
"Kamu serius ?" Dokter Martin sedang menerima telepon.
"Katakan padanya aku akan menjemputnya besok di bandara, kebetulan besok aku tak terlalu sibuk" jelas Dokter Martin, raut wajahnya langsung berseri - seri memancarkan sebuah kebahagiaan.
Setelah menerima telepon dokter Martin segera menuju mushola karena adzan magrib sudah berkumandang. susana hatinya yang sedang bahagia membuat Umi Lilah merasa heran melihat tingkah putra semata wayangnya.
"Semoga dugaan ku benar" batin Umi Lilah.
__ADS_1