
"Ayo jika kita pergi" ajak Umi Fatimah.
Sekarang Aisha di sibukan dengan membantu Umi Fatimah mengelola toko sembakonya yang kini sudah memiliki tiga cabang, semua ini di lakukan Aisha atas permintaan Umi Fatimah.
"Nak sudah satu bulan lebih kamu gak datang ke yayasan, Umi Lilah pasti sangat menunggu kedatangan kamu nak" ujar Umi Fatimah ketika mereka berada di dalam mobil.
"Iya Umi, sekarang Aisha masih sibuk dengan rencana Aisha yang ingin membuka toko kue Umi" ujar Aisha mengutarakan keinginannya.
"Jadi kamu serius ingin membuka toko kue lalu bagaimana dengan toko sembako Umi, nanti kamu pasti cape harus mengurus toko kue dan juga toko sembako Umi".
"Kan ada yang bantu - bantu, Insya Allah Aisha bisa menghandle semuanya".
"Kamu mau buka toko kue di mana ?".
"Rencananya sih mau buka toko kue di samping toko sembako Umi yang di jalan Kayangan, itu ada ruko yang di sewakan".
"Masa sih kok Umi baru tahu kalau ruko yang samping toko di sewakan".
"Kan kemaren selama seminggu Umi gak datang ke toko, jadi gak tahu kalau toko itu sekarang di sewakan".
"Berapa setahun ?".
"Setahun tiga puluh juta Umi" jawab Aisha.
"Besok bagaimana kalau kita ke yayasan, sekalian Umi mau memberikan uang buat keperluan yayasan".
"Hmm terserah Umi saja Aisha sih ikut saja".
Sejujurnya Aisha ingin menolak ajakan Umi namun ada rasa tak enak karena pasti Umi juga akan bertanya tentang alasan ia menolak pergi ke yayasan.
sesuai rencana, jam sembilan Aisha dan Umi Fatimah berangkat ke yayasan, Aisha membawa beberapa kotak kue buatannya sebagai buah tangan.
Selama perjalanan Aisha terlihat begitu gelisah, ia takut jika harus bertemu dokter Martin, ia juga belum siap mendengarkan tentang lamaran yang telah di langsungkan antara Dokter Martin dan Zahra.
"Ayo turun, kita udah sampai" ajak Umi Fatimah membuyarakan semua lamunan Aisha.
"I_iya Umi".
__ADS_1
Mereka berdua berjalan beriringan ke arah rumah Umi Fatimah dan juga Abah Anom, rumah tersebut pintu depannya terbuka itu artinya Umi atau Abah berada di rumah.
"Asalamualikum".
"Walaikumsalam" jawab si pemilik rumah. "Ya Allah Asiha, Fatimah ini kalian .!!" Umi Lilah sepertinya terkejut dengan kedatangan Aisha dan Umi Fatimah apa lagi mereka hampir sebulan tidak datang berkunjung.
"Umi . . " Aisha berlari dan langsung memeluk Umi Lilah, ia sangat merindukan sosok perempuan yang ia panggil Umi tersebut, perempuan yang sudah ia anggap sebagai ibunya.
"Maaf Umi Aisha baru datang lagi" lirih Aisha dalam pelukan Umi Lilah.
Umi Lilah mempersilahkan kedua tamunya untuk masuk, tak berapa lama Abah Anom pun tiba di ruang tamu.
"Aisha, apa kabar ?".
"Aisha baik Abah, kalau Abah sendiri bagaimana ?".
"Sama Abah juga baik, kamu kenapa baru datang ke sini ?".
"Maaf Abah, Umi, Aisha bukannya tidak mau datang ke sini tapi sekarang Aisha sibuk membantu usaha toko sembako saya dan rencananya Aisha juga akan membuka toko kue" jelas Umi Fatimah.
"Ini kue buatan Aisha" lanjut Umi Fatimah.
'Umi sudah mendapat pengganti kamu untuk mengajar anak - anak, jadi saya harap kamu jangan terlalu sering datang ke yayasan agar Umi terbiasa tanpa kamu' kata - kata dokter Martin kala mereka berbicara empat mata terngiang kembali di pikiran Aisha.
Sakit dan kecewa, entah atas dasar apa Dokter Martin berbicara sepertu itu padanya, karena pembicaraan dengan Dokter Martin kala itu sehingga membuat Aisha menerima permintaan Umi Fatimah untuk membantu mengelola usaha toko sembakonya agar Aisha mempunyai kegiatan.
"Ini kuenya enak, Umi yakin jika nanti kamu buka toko kue pasti laris nak" ujar Umi Lilah setelah mencicipi kue yang di bawa oleh Aisha.
"Amin Umi".
"Martin ke mana kok gak kelihatan apa lagi tugas di rumah sakit ?" tanya Umi Fatimah.
Aisha celingukan mencari sosok yang di tanyakan Umi Fatimah, dalam hatinya berharap jika dokter Martin tidak ada di rumahnya.
"Martin lagi mengikuti seminar di luar kota selama seminggu, baru dua hari yang lalu dia berangkat" jawab Umi Lilah.
Aisha bernafas lega, ternyata benar dokter Martin tak ada di rumah. Aisha masih menunggu Umi Lilah menceritakan soal lamaran dokter Martin dan juga Zahra.
__ADS_1
"Umi, Aisha mau ketemu anak - anak dulu ya bentar" ujar Aisha.
"Iya silahkan".
Aisha menemui anak - anak yang sedang bermain, mereka baru saja selesai mengikuti pembelajaran, Setelah puas melepas rindu dengan anak - anak Aisha pun langsung memasuki ruang kepengurusan yayasan.
"Assalamualikum".
"Waalaikumsalam" jawab mereka kompak.
"Aisha" Yuni berlari menghampiri Aisha, keduanya langsung berpelukan, begitu pun dengan yang lainnya, saling bersalaman dan berpelukan.
"Sibuk apa nih, sampai - sampai lama gak ke sini ?" tanya bu Titi.
"Sibuk bantu Umi di toko saja, Oh iya ini saya bawakan kue buat kalian semua" ujar Aisha. sengaja ia menyisakan dua kotak kue untuk para pengurus yayasan.
Aisha berbincang - bincang seputar yayasan, banyak kejadian yang terjadi ketika Aisha tak ada di sana, satu yang Aisha tunggu dari berbagai macam kejadian yang di ceritakan mereka, Aisha menunggu mereka bercerita tentang lamaran Dokter Martin dan Zahra. hingga Aisha di panggil Umi Fatimah, tak ada satu pun yang menceritakan tentang lamaran tersebut.
"Aku pamit dulu, insya Allah kapan - kapan main lagi ke sini" ujar Aisha pamit pada pengurus Yayasan.
Aisha juga berpamitan pada Umi Lilah dan Abah Anom, saat Aisha pamit Umi Lilah terlihat begitu sedih hingga ia meneteskan Air mata.
"Umi kok nangis, kenapa ada masalah ?" tanya Aisha penasaran.
"Umi baik - baik saja" jawab Umi Lilah seraya menghapus Air matanya.
"Umi, Aisha ini akan Umi, jadi Umi tak perlu menyembunyikannya dari Aisha, begini saja Aisha tak jadi pulang asal Umi mau cerita sama Aisha".
"Umi Fatimah bagaimana ?".
"Umi akan pulang sendiri, Umi pasti akan ngerti kok".
"Umi baik - baik saja kok nak, kamu tak perlu mengkhawatirkan Umi".
"Apa Umi sekarang sudah tidak menganggap Aisha sebagai anak lagi sehingga Umi tidak mau berbagi cerita pada Aisha, apa semua ini karena sekarang Aisha gak tinggal di sini lagi" ujar Aisha yang kecewa karena ia merasa jika Umi Lilah seperti menjaga jarak pada dirinya.
"Tidak seperti itu nak, tapi Umi. . ".
__ADS_1
Umi Lilah menghentikan pembicaraannya,ia seperti ragu untuk menjelaskan alasan kenapa ia enggan bercerita pada Aisha.