Sakinah Bersama Mu

Sakinah Bersama Mu
Bab 59


__ADS_3

Matahari telah menyambut pagi, sinar bulan telah berganti, semua mahluk hidup memulai aktivitasnya. Riuh suara kendaraan dan Asap kendaraan sudah menjadi pemandangan biasa di ibu kota. semua ingin sampai ke tempat tujuan masing - masing dengan tepat waktu.


Sari dan sang pengacara terjebak kemacetan ibu kota, pagi ini mereka akan melakukan penerbangan menuju Bali.


"Jika seperti ini terus kita akan terlambat !" Seru Sari.


"Kita sudah terjebak, maju tak bisa apalagi mundur" sahut sang pengacara.


"Lebih baik kita cari ojek saja" usul Sari.


"Apa Nyonya yakin mau naik ojek ?".


"Ya bagaimana lagi, dari pada kita terlambat" jawab Sari pasrah.


Sang pengacara pun turun dari dalam mobil, ia berjalan menyelinap di antara mobil - mobil, dan tak lama ia kembali masuk ke dalam mobil.


"Ayo Nyonya saya sudah dapat tukang ojeknya, tapi Nyonya harus jalan kaki terlebih dahulu" ujar sang pengacara.


Sari dan sang pengacara di antar tukang ojek pangkalan menuju ke bandara. Sari yang tak biasa menaiki kendaraan bermotor pun merasa tak ada kenyamanan saat menaiki motor tersebut, namun ia tak bisa berbuat banyak karena hanya dengan kendaraan bermotorlah mereka akan cepat sampai ke bandara.


Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit melewati jalan alternatif, Sari dan pengacaranya sudah sampai di bandara. untung saja pesawat yang mereka tumpangi belum berangkat hingga mereka tak ketinggalan pesawat.


...๐ŸŒพ...


Udara sejuk pedesaan membuat betah siapa saja yang berkunjung ke sana, seperti hal nya Aisha, ia merasa tenang ketika berada di sana, bayang - banyak masa lalu seakan sirna di telan bumi dan hanya menyisakan sebuah kebahagiaan.


Aisha sedang berjalan santai di area yayasan, ia sedang menikmati udara pagi.


"Aisha" tegur seseorang. karena merasa ada yang memanggil namanya Aisha pun menoleh ka arah sumber suara.


"Dokter Martin".


"Kalau di luar rumah sakit jangan panggil dokter, panggil saja nama saya" protes dokter Martin.


"Maaf belum terbiasa" ucap Aisha seraya menundukan kepala.


"Apa kamu sedang sibuk ?!".


"Sepertinya tidak, karena hari ini aku sedang libur mengajar".


Dokter Martin mengajak Aisha untuk berkeliling perkampungan, dan Aisha pun setuju dengan ajakan dokter Martin, karena selama ia tinggal di yayasan ia belum pernah keliling perkampungan tersebut.


Mereka berdua berjalan secara beriringan, banyak pasang mata yang memperhatikan Aisha dan Dokter Martin, tak lupa mereka juga saling bisik membisik.


"Pak dokter ini calonnya ya" tegur salah satu ibu - ibu yang baru pulang belanja sayuran.


"Bukan !!" jawab Aisha cepat.

__ADS_1


"Kenalin ini Aisha, beliau pengurus yayasan yang baru" ucap Dokter Martin ramah seraya memperkenalkan Aisha pada ibu - ibu tersebut.


"Saya kira calonnya pak dokter" ujar ibu - ibu tersebut seraya terus memperhatikan penampilan Aisha. "Tapi kalau di lihat - lihat kalian cocok deh" sambung ibu - ibu tersebut.


"Ah Si ibu bisa saja" jawab Dokter Martin.


Aisha dan Dokter Martin melanjutkan perjalanan mereka, menyusuri jalanan berbatu namun tersusuan sangat rapih.


"Kita mau ke mana ?" tanya Aisha.


"Aku mau ngajak kamu ke suatu tempat".


"Kemana itu ?".


"Ayo ikut saja". dengan sangat repleks Dokter Martin menggengam tangan Aisha, di genggam tangannya secara tiba - tiba membuat Aisha terkejut, dan segera melepaskan genggaman tangan Dokter Martin.


"Maaf" ucap Dokter Martin.


Kejadian tersebut membuat Aisha dan Dokter Martin menjadi canggung, selama berjalan menuju suatu tempat tak ada suara sedikit pun di antara mereka, ke duanya sibuk dalam pikirannya masing - masing.


"Wah ternyata di sini ada Air terjun !" Seru Aisha kegirangan melihat sebuah Air terjun yang lumayan tinggi, Airnya jernih dan udaranya sangat sejuk sekali.


"Warga di sini menyebutnya Air terjun keabadian, kenapa di sebut Air terjun keabadian karena walaupun musim kemarau panjang air terjun di sini tetap deras seperti ini, dan Air terjun ini merupakan sumber Air di desa ini" jelas Dokter Martin.


Aisha mendekati ke arah kolam yang menampung air terjun tersebut, kemudian ia membasuh mukanya dengan air tersebut.


"Airnya segar sekali !" Seru Aisha.


"Apa sekarang dokter sedang ada masalah ?" tanya Aisha.


"Abi dan Umi ingin segera aku menikah".


"Ya tinggal nikah, apa susahnya !" Seru Aisha.


"Tapi aku belum mempunyai calon".


"Aku gak percaya jika dokter belum punya calon, orang seperti dokter pasti banyak yang ngantri".


"Seperti antrian sembako".


Keduanya pun tertawa, seakan - akan mereka seperti sepasang ke kasih yang sedang memadu asmara.


"Kenapa kamu belum menikah lagi ?" tanya Dokter Martin. mendapat pertanyaan seperti itu raut wajah Aisha berubah seketika. "Kenapa, maaf jika pertanyaan ku membuat kamu teringat akan masa lalu kamu" ujar Dokter Martin yang merasa tak enak hati.


"Aku belum siap menikah lagi, aku masih taruma" ujar Aisha seraya tertunduk.


Tak terasa mereka sudah hampir satu jam berada di sana, sinar matahari pun semakin menyengat terasa panas di kulit, Aisha dan Dokter Martin pun kembali ke yayasan.

__ADS_1


Dari kejauhan ada dua orang lanjut usia yang memperhatikan kedekatan antara Aisha dan juga Dokter Martin.


"Kita hanya bisa berdoa jika memang mereka berjodoh pasti Allah akan mempermudah jalan mereka".


"Tapi Martin juga harus tegas, siapa yang akan dia pilih".


...๐ŸŒพ...


Sari dan sang pengacara telah tiba di Bali, Sari segera menghubungi sopir pribadinya untuk menjemputnya. namun setelah berkali - kali mencoba menghubung sang sopir tapi tak ada jawaban satu kali pun.


"Kemana dia, berani sekali tidak menjawab panggilan ku, apa dia sudah bosan kerja" gerutu Sari kesal.


"Bagaimana ?" tanya pengacara.


"Tidak ada jawaban, mungkin dia ingin saya pecat" jawab Sari yang masih kesal pada sang sopir.


"Kalau gitu kita pesen taksi saja, Karena aku masih banyak kerjaan dan waktu ku di sini tidak banyak".


"Ya sudah !" ketus Sari.


Hampir setengah jam mereka menunggu taksi, siang itu, entah kenapa sulit sekali untuk mendapatkan taksi, sehingga Sari harus bersabar untuk mendapatkan taksi.


"Ke jalan xxy" ucap sang pengacara pada pengemudi taksi.


"Baik pak" jawab sang pengemudi taksi.


Selama perjalanan Sari selalu tertidur, tubuhnya terasa begitu lelah, mungkin itu karena ia sedang hamil muda. bahkan sesekali Sari mengeluh perutnya kram dan mual namun tidak sampai muntah.


Dari kejauhan sudah terlihat jelas sebuah istana yang menjulang tinggi dengan gagahnya, itu artinya Sari sudah tiba di kediaman sang suami.


Terlihat di pekarangan rumah itu banyak orang dengan berpakaian rapih, namun ada sedikit yang membuat sari terheran - heran. karena penasaran Sari langsung turun dari taksi dan langsung lari menuju halaman rumah.


"Ada apa ini, kenapa banyak orang di sini ?" tanya Sari.


"Saya hanya minta gaji saya di bayarkan" ujar salah security yang bertugas menjaga rumah tuan Rico.


"Ini belum waktunya kalian gajian, saya dan suami tidak pernah telat membayar gaji kalian, kenapa sekarang kalian minta gaji !" Seru Sari.


"Nyonya kenapa rumah ini di jual, saya sudah bekerja puluhan tahun di sini, dari jaman kedua orang tua Tuan masih hidup, tapu sekarang nyonya tega menjual rumah ini karena tuan sedang dalam penjara .


...๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ...


Jangan lupa baca juga karya author yang lainnya.


๐Ÿ“Aku Memilih_Mu


๐Ÿ“Bertemu Jodoh Di pesantren

__ADS_1


๐Ÿ“Hujan Kemarin


Jangan Lupa Like dan Vote juga agar author semakin semangat dalam melanjutkan cerita ini. berikan juga saran dan kritikannya juga di kolom komentar


__ADS_2