
kepercayaan Aisha sudah kembali lagi, sehingga ia tak merasa takut ketika harus berinteraksi langsung dengan masyarakat sekitar yayasan.
Seperti hari ini Aisha bergabung dengan warga sekitar, bergotong royong membersihkan jalan.
"Neng Aisha cocok deh sama Dokter Martin" goda salah satu warga.
"Iya betul itu, yang satu cantik yang satu ganteng"
"Anaknya nanti jadi bibit unggul".
"Sama anak saya saja neng".
mendengar hal itu Aisha hanya tersenyum, rona merah di pipinya kian memancarkan kecantikannya.
"Pasti Umi dan Abah juga bakalan setuju" sahut warga yang lainnya.
Ada rasa senang di hati Aisha kala melihat ibu - ibu dengan sangat ramah menggodanya dan menjodoh -jodohkan dengan dokter Martin atau bahkan dengan anak mereka masing - masing. namun di sisi lain Aisha merasa takut bagaimana jika mereka tahu siapa Aisha sesungguhnya, apa mereka akan tetap seperti itu pada Aisha, entahlah hanya waktu yang akan menjawab semuanya.
"Di godain kok malah melamun sih" tegur seorang ibu - ibu.
Setelah puas menggoda Aisha akhirnya ibu - ibu pun kembali fokus pada kerjaan mereka masing - masing.
***
Bangun malam hari sudah menjadi kebiasaan Aisha sekarang, ia akan melaksanakan shalat malam, di malam ini Aisha memanjatkan sebuah doa tentang kehidupan kedepannya, walau ia pasrah namun iya juga berharap bisa bahagia nantinya.
Di antara doa - doa yang sering Aisha panjatkan terselip sebuah doa tentang jodohnya di masa yang akan datang.
Tak terasa adzan subuh pun berkumandang, Aisha melaksanakan shalat subuh berjamaah bersama yang lainnya.
"Umi hari ini Aisha izin keluar" ucap Aisha dengan ragu - ragu.
"Apa kamu ada masalah nak ?" Umi selalu mengkhawatirkan kondisi Aisha, karena ia sangat tahu bagaimana kondisi Aisha saat pertama datang ke sana.
"Tidak Umi, Aisha ingin pergi ke kota, berziarah ke makam adik ku" Aisha menjelaskannya niatnya untuk mendatangi makan sang adik.
"Ya sudah hati - hati tapi di jalannya" ujar Umi.
"Emang kamu mau ke mana ?" seseorang datang dari luar.
kedua wanita itu dengan kompak langsung menengok ke arah sumber suara. Dokter Martin datang dari arah luar, jika di lihat dari pakaiannya sepertinya dia habis lari pagi.
"Aisha mau ziarah ke makam adiknya" jelas Umi Lilah.
"Di kota ?" tanya Dokter Martin, dan kedua wanita tersebut menganggukan kepalanya. "Boleh tidak aku ikut sekalian mengantarnya, dari sini memang sudah sekali kendaran ke kota dan lagi ongkosnya pasti mahal, lagian hari ini aku libur" ujar Dokter Martin.
__ADS_1
"Kamu mau mengantarnya nak ? Umi Lilah terkejut dengan penuturan putranya.
"Iya Umi, sekalian Ziarah juga" jawab Dokter Martin.
"Kalau begitu Umi sangat senang dan juga merasa tidak khawatir lagi tapi kalian akan pergi dengan Yani, karena takut akan menimbulkan fitnah jika kalian hanya pergi berdua" jelas Umi.
"Mau berangkat jam berapa ?" tanya Dokter Martin.
"Jam tujuh saja" jawan Aisha.
Setelah itu Aisha kembali ke kamarnya untuk bersiap - siap begitu pun dengan Dokter Martin, sementara Umi Lilah langsung pergi untuk menemui Yani.
Tepat jam tujuh Dokter Martin sudah siap dengan mobilnya begitu Yani dan juga Aisha mereka sudah siap, mereka sedang menunggu Abah Anom yang sedang menerima tamu.
"Kalian berangkat saja, biar nanti Umi yang sampaikan Sama Abah, perjalanan ke kota sangatlah jauh" ujar Umi.
"Tapi Umi" ucap Aisha merasa tak enak jika pergi tanpa pamit terlebih dahulu pada pemilik yayasan.
"Tidak apa - apa, Abah pasti mengerti kok" ucap Umi Lilah.
"Yang di katakan Umi itu ada benarnya juga, ke kota membutuhkan waktu yang tak sebentar belum lagi dengan kemacetannya" jelas dokter Martin.
Akhirnya Aisha pun menuruti perkataan Dokter Martin dan juga Umi Lilah, sebelum pergi Aisha menitip pesan untuk Abah Anom.
Setelah melewati waktu tiga jam Akhirnya Aisha tiba di kota, tujuan pertamanya adalah pemakaman tempat di mana sang adik di makamkan.
"Bagaimana kalau kita makan dulu" ujar Dokter Martin seraya melirik jam di tangannya.
"Kalau tidak keberatan lebih baik kita ke Makan saja dulu" sahut Aisha.
"Baiklah".
"Dari sini hanya tinggal dua puluh menit lagi sampai jika jalanan lancar". ujar Aisha.
"Nama pemakamannya apa biar kita pakai maps saja ?".
Aisha menyebutkan nama pemakaman sang adik kemudian ia menghubungi seseorang.
"Asalamualaikum Bayu, aku hanya ingin memberi tahu jika aku sedang berada di kota dan ingin berziarah ke makam Ayla". jelas Aisha.
"Kamu serius, ke kota dengan siapa, kenapa gak bilang, aku bisa jemput" ujar Bayu yang merasa senang kala mendengar jika Aisha berada di kota.
"Aku tak ingin merepotkan mu, aku bersama teman - teman di yayasan".
"Kamu sudah sampai di pemakaman ?".
__ADS_1
"Belum, kemungkinan lima belas menit lagi".
"Baiklah, kita ketemu di pemakaman".
Pembicaraan mereka lewat telepon pun selesai, Aisha menaruh kembali ponselnya ke dalam tas miliknya.
"Kamu menghubungi siapa ?" tanya Dokter Martin.
"Menghubungi Bayu sepupu ku".
"Sepupu ketemu gede ?".
"Enak saja, dia memang sepupuh ku. dia orang yang menemani ku di saat aku terjatuh dan dia juga yang menyarakan kan aku untuk mondok di yayasan Umi dan Abi".
Yani sejak tadi tak berbicara sepatah kata pun dia merasa seperti obat nyamuk di dalam mobil tersebut.
Akhirnya Aisha tiba di pemakaman, terlihat di pintu masuk pemakaman Bayu telah menunggu nya.
"Itu Bayu sepupu ku sudah datang" ujar Aisha seraya menunjuk ke arah Bayu.
Aisa berjalan setengah berlari, dia sudah tak sabar ingin bertemu dengan Bayu, sedangkan Dokter Martin dan juga Yani hanya mengikuti dengan cara berjalan biasa, mereka membiarkan Aisha melepaskan rindunya kepada sepupuhnya tersebut.
"Sepertinya kamu sekarang sudah banyak berubah, sekarang lebih fresh dan juga nambah cantik" goda Bayu.
"Hah dasar kamu ini" sahut Aisha. "Kenalin ini Dokter Martin anak Umi dan Abah, kalau yang ini Yani beliau pengurus di yayasan".
"Bayu".
"Martin"
"Bayu"
Saat Bayu mengulurkan tangan pada Yani memperkenalkan dirinya, tapi Yani malah memohon maaf karena tak bisa berjabatan tangan karena mereka bukan muhrim.
"Yani, maaf ya" ujar Yani.
"Langsung saya ke makan, karena matahari mulai menunjukan kuasanya" ujar Aisha.
Aisha dan Bayu berjalan beriringan sedangkan Dokter Martin dan Yani mengikuti di belakangnya.
"Kalian pacaran ?" tanya Bayu seraya berbisik.
"Kalian siapa ?.
"Kamu dan Dokter Martin". Bayu menggoda Aisha, ia bisa melihat dari tatapan Dokter Martin kepada Aisha.
__ADS_1