Sakinah Bersama Mu

Sakinah Bersama Mu
Bab 68


__ADS_3

Dokter Martin mengkerutkan keningnya saat Aisha berbicara tentang calon, lalu ia tertawa kecil, hal itu membuat Aisha langsung menatap Dokter Martin dengan terheran - heran.


"Maksud kamu Zahra ?".


"Ya kalau bukan dia lalu siapa calonnya" ketus Aisha seraya menatap jauh kedepan, hatinya begitu nyeri saat Dokter Martin menyebut nama perempuan tersebut.


"Kamu sudah kenalan dengan Zahra ?" tanya Dokter Martin.


"Ya tadi kami bertemu saat menjalankan shalat Ashar berjamaah" jawab Aisha.


Dokter Marin hanya ber oh ria. tak ada pembicaraan lagi di antara mereka, seketika menjadi hening hanya terdengar suara - suara binatang malam yang saling bersautan. hingga akhirnya Aisha memilih pergi.


"Mau ke mana ?".


"Ke kamar, ngantuk !" ketus Aisha seraya berlalu meninggalkan dokter Martin begitu saja.


Berudaan dengan dokter Martin membuat Aisha merasa hatinya semakin sakit, karena pada kenyataannya Dokter Martin sudah mempunyai pilihannya sendiri dan itu bukan dirinya.


Sepanjang malam Aisha terjaga hatinya masih belum bisa menerima kenyataan, hatinya masih ingin untuk memilikinya namun raganya tak mampu untuk bersaing, Aisha kalah sebelum bertempur, ia memilih untuk menyerah agar rasa ini tak semakin dalam yang hanya akan membuatnya kecewa.


Di atas sejadah seraya menadahkan kedua tangannya, Aisha terus merapalkan doa - doa dan meminta hatinya di lapangkan untuk menerima sebuah kenyataan pahit dalam hidupnya.


Pagi hari suasana terasa sangat dingin karena hujan turun membahasi apa saja yang di laluinya, Aisha sedang sibuk dengan tugasnya yaitu membantu memasak untuk sarapan, walaupun sudah ada tugasnya masing - masing namun Aisha sering sekali membantu memasak karena hanya dirinya yang tak memilik tugas pokok di pagi hari.


Lagi - lagi Aisha harus menebalkan kupingnya karena sebagian orang dengan membicarakan tentang Zahra dan Dokter Martin.

__ADS_1


Aisha berulang kali mengatur nafasnya menetralkan perasaannya yang di bakar api cemburu mendengar desas - desus kedekatan dokter Martin dan Zahra.


Aisha baru mengetahui ternyata Dokter Martin bukan kali ini saja membawa Zahra datang ke rumahnya, namun ternyata dulu ketika mereka masih sama - sama kuliah dokter Martin pernah beberapa kali membawa Zahra ke rumahnya.


Mereka mengira dokter Martin sudah tak lagi menjalin kedekatan dengan Zahra karena sudah beberapa tahun dokter Martin tak pernah membawanya lagi kerumah.


"Aisha kamu di sini !" Suara tersebut sukses membuyarkan semua lamunan Aisha.


"Umi" Aisha terkejut dengan kehadiran sosok Umi Lilah di hadapannya, sejak kapan Umi berada di sini, pikir Aisha.


"Umi tadi ke kamar kamu tapi kosong, Umi mau bicara dengan kamu, bukannya kemarin kamu janji untuk datang ke rumah setelah shalat Ashar ?".


"Maaf Aisha lupa Umi, nanti jika kerjaan Aisha sudah selesai Aisha ke rumah Umi ya, soalnya setelah ini Aisha harus siap - siap buat ngajar" jelas Aisha, ia merasa bersalah karena melupakan janjinya.


'Huhh ini semua gara - gara Zahra' Umpatan Aisha dalam hatinya.


"Anak - anak baris yang rapih ya, jangan saling dorong begitu, nanti kalau yang ketahuan mendorong Kak Aisha suruh Antri paling belakang ya" ucap Aisha.


Seketika anak - anak pun terdiam, berdiri di tempat mereka masing - masing. Aisha membawa piring berisi makanan untuk di berikan kepada beberapa orang yang sedang mondok mencari ketenangan di tempat tersebut.


"Ini sarapannya mbak" ujar Aisha seraya manuruh sepiring makanan dan segelas air putih di atas nekes.


"Terima kasih" jawab penghuni kamar tersebut.


Aisha ikut sarapan dan bergabung dengan beberapa pengurus yayasan, setelah itu ia bersiap - siap untuk memberikan ilmu pada anak - anak yang berada di yayasan.

__ADS_1


Yayasan Abah Anom merupakan Yayasan milik pribadinya, semua kebutuhan yang tersangkutan dengan yayasan di tanggung oleh Abah Anom. Yayasan belum memiliki donatur tetap sehingga anak - anak yatim piatu di sana tak bisa bersekolah seperti anak - anak lainnya namun Umi dan Abah tetap memberi mereka ilmu pendidikan lewat pengurus yayasan walau pun tidak selengkap di sekolahan namun yang terpenting anak - anak bisa membaca dan juga menghitung.


Aisha kembali terdiam saat memperhatikan beberapa anak dengan penuh semangat belajar membaca, terlintas dalam pikirannya jika dia harus pergi ikut dengan Umi Fatimah lalu siapa yang akan mengajarkan mereka ilmu pendidikan. ada rasa berat untuk meninggalkan tempat tersebut namun jika bertahan di sana pasti hatinya tak akan baik - baik saja.


Aisha mengucapkan Kalimat alhamdulilah ketika semua tugasnya hari ini sudah selesai dan berjalan dengan lancar. Aisha langsung bergegas ke rumah Umi Lilah untuk membicarakan tentang rencana Umi Fatimah.


"Akhirnya kamu datang juga nak, Umi sudah menunggu mu dari tadi". ujar Umi Lilah saat melihat ke datangan Aisha.


"Duduk nak" titah Abah Anom yang kebetulan juga berada di ruang tamu bersama Umi Lilah.


"Terima kasih Umi, Abah" ujar Aisha seraya duduk di kursi ruang tamu rumah Umi Lilah.


"Umi udah tahu semuanya nak, karena kemarin Umi tunggu kamu tak kunjung datang, akhirnya Umi menghubungi Umi Fatimah untuk menanyakan tentang pertemuan kalian". jelas Umi Lilah.


"Abah menyambut baik permintaan Umi Fatimah, kami sangat mengenal beliau jadi kami akan sangat tentang jika kamu bersama beliau, Tapi balik lagi semua keputusan ada di tangan kamu, kamu sudah dewasa kamu pasti bisa memutuskan mana yang terbaik untuk hidup mu, Abah dan Umi akan mendukung sepenuhnya pilihan kamu" sahut Abah Anom.


Aisha menatap Umi Lilah dan Abah Anom secara bergantian.


"Jujur dari hati kecil Aisha sangat senang ada yang yang peduli dengan Aisha, namun kalau boleh jujur juga Aisha sangat berat meninggalkan tempat ini" lirih Aisha seraya tertunduk.


"Jangan bicara seperti itu, walaupun kamu sudah ikut dengan Umi Fatimah kamu bisa berkunjung ke sini kapan pun kamu mau, jadi tak perlu khawatir pintu rumah ini selalu terbuka untuk kamu". ujar Abah Anom.


"Aisha masih ragu Abah, Umi. Aisha takut lingkungan tempat tinggal Umi Fatimah tak bisa menerima masa lalu Aisha". ujar Aisha. ini yang membuat Aisha merasa belum yakin dengan keputusannya untuk ikut bersama Umi Fatimah.


"Kamu harus yakin, jika kamu yakin semua pasti akan baik - baik saja, inget pesan Abah jangan pernah tinggalkan Shalat dan dekatkan diri dengan sang maha pencipta. Jika kamu terus berpikir seperti itu kapan kamu akan majunya" jelas Abah Anom.

__ADS_1


"Umi yakin kamu mampu, jangan pernah menyerah apalagi kamu belum mencobanya. kamu boleh mencobanya selama satu minggu jika kamu benar - benar tidak nyaman kamu boleh kembali ke sini nak" ujar Umi Lilah seraya mengelus punggung Aisha.


"Jadi Aisha akan pergi dari sini ?!" suara bariton membuat ketiganya kompak menoleh ke arah sumber suara.


__ADS_2