
"Apa maksud mu ?" tanya pak Danu yang sangat terkejut dengan perkataan tuan Rico.
"Apa kurang jelas dengan apa yang saya sampaikan tadi" ucap tuan Rico santai.
"Harusnya kalian berpikir, hidup kalian sekarang enak karena siapa, karena saya kan ? bahkan yang mengusulkan untuk menikah dengan Aisha siapa, bapak kan ? sekarang Aisha sudah sah milik saya, tadi bebas doang saya mau ngapain saja terhadap Aisha, karena sekarang Aisha adalah istri saya. coba bapak hitung sudah berapa lembar uang yang saya keluarkan untuk keluarga bapak ini, Jadi jangan pernah salahkan saya jika Aisha saya gunakan untuk memperoleh pundi - pundi uang, bukanlah Aisha saya nikahi untuk melunasi hutang bapak yang sampai miliaran ?" ucap tuan Rico santai seakan - akan yang ia lakukan itu benar. "Saya memang belum pernah meniduri anak bapak, karena dia bukan level saya, tapi saya yakin jika anak kesayangan bapak ini sudah tidak perawan sebelum menikah dengan saya".
"Jaga bicara mu, aku bukan wanita murahan yang seperti istri - istri mu, yang mau di madu hanya karena harta !" bentak Aisha.
"Apa kamu bisa buktikan ucapaan mu itu" tantang tuan Rico seperti sedang mengejek Aisha.
Tiba - tiba tubuh pak Danu ambruk ke lantai. Ibu Ima pun tak kuat menopang berat badan sang suami.
"Ayah kenapa bu ?" tanya Aisha.
"Sepertinya Ayah mu kena serangan jantung" jawab sang ibu. "Cepat hubungi ambulance" titah Ibu Ima.
Dengan segera Aisha menghubungi sebuah rumah sakit tempat biasa ayahnya berobat. sementara tuan Rico hanya diam mematumg melihat kepanikan antara Anak dan ibu.
"Lebih baik kamu pergi dari sini. ini semua gara - gara kamu !!". Aisha mengusir tuan Rico.
Lima belas menit, mobil ambulance pun tiba, pak Danu pun di bawa ke rumah sakit, Ibu Ima dan Aisha selalu ada di samping pak Danu, sedangkan tuan Rico mengikuti dari belakang dengan menggunakan kendaraan pribadinya.
Pak Danu langsung di bawa ke ruang UGD untuk di tangani oleh tim dokter, sedangkan Aisha dan yang lainnya menunggu di ruang tunggu, Ibu Ima dan Aisha saling menguatkan.
mereka menunggu kabar pak Danu dengan cemas.
Detik demi detik terus berlalu keluarga masih menunggu dengan harap - harap cemas. seorang dokter keluar dari ruangan UGD.
"Keluarga pak Danu" ujar sang dokter.
Ibu Ima dan Aisha pun langsung segera menghampiri sang dokter.
"Keluarga pak Danu ?" tanya sang dokter.
"Saya istrinya".
"Saya anaknya". jawab Ibu Ima dan Aisha secara bersamaan.
"Silahkan masuk" ujar dokter.
__ADS_1
"Apa suami saya baik - baik saja ?" tanya bu Ima.
"Silahkan saja masuk" ujar sang dokter.
Dengan perasaan yang campur aduk, ibu Ima dan Aisha masuk keruang UGD di dampingi oleh dokter.
"Nak maafkan Ayah" ucap lirih pak Danu yang sedang terbaring lemah di ruang UGD dengan berbagai alat kesehatan yang menempel di tubuhnya.
"Jangan bicara seperti itu, yang terpenting sekarang ayah harus kuat demi kita semua" Aisha tak sanggup menahan air matanya, ia merasa bersalah karena telah melibatkan ke dua orang tuanya ke dalam masalahnya.
"Maafkan Ayah nak" ucap pak Danu lirih, lalu tiba - tiba monitor derak jantungnya berbunyi dan terlihat hanya satu garis memanjang, genggaman tangan pak Danu di tangan Aisha pun perlahan lepas dengan sendirinya.
"Silahkan tunggu di luar, biar kami bisa mengambil tindakan" ucap salah satu suster sesuai perintah sang dokter.
"Saya mau berada di sisi ayah saya" ujar Aisha histeris.
"Tolong kerja samanya yah" ujar suster tersebut.
Aisha keluar dari ruangan dengan di papah oleh sang ibu, di luar ternyata adik bungsunya sudah ada di sana, entah siapa yang memberitahunya, karena saking paniknya Aisha dan Ibu Ima mereka melupakan Ayla, adik bungsu Aisha.
"Bu, Ayah kenapa ?" tanya Ayla.
"Ayah kena serangan jantung" jawab Aisha.
"Doa akan Ayah biar selamat ya" ujar Ibu Ima.
Dari kejauhan Tuan Rico melihat keharuan mereka pun ikut terharu, ada rasa bersalah dalam hati kecilnya, namun ia tepis begitu saja, semua yang terjadi itu sudah menjadi takdir bukan karena dirinya. ia hanya melihat keluarga Aisha dari kejauhan ia tak ingin memperkeruh keadaannya.
"Kalian jaga di sekitar sini, laporkan apa saja yang terjadi, saya harus segera ke kantor karena ada kerjaan yang tak bisa di tunda lagi" ujar tuan Rico kepada kedua anak buahnya.
"Baik pak" jawab kedua anak buah tuan Rico kompak.Tuan Rico berlalu meninggalkan rumah sakit, tempat di mana orang tua Aisha di rawat.
Detik demi detik terus berlalu, Dokter belum juga mengabarkan keadaan pak Danu.
"Kamu Kesini dengan siapa ?" tanya Aisha kepada adiknya, pasalnya Ayla datang ke rumah sakit masih lengkap menggunakan seragam sekolah.
"Oh tadi aku di jemput Kak Rico, dan langsung di antar ke sini" jawab Ayla.Mendengar nama Suaminya di sebut sang adik, Aisha pun tersentak.
"Apa yang dia katakan kepada mu ?" tanya Aisha, ia takut jika adiknya akan di jadikan alat antara dirinya dan sang suami.
__ADS_1
"Kak Rico cuma bilang Ayah sakit dan sekarang lagi di rawat di rumah sakit, dan ketika aku ajak kak Rico masuk ke sini jawabnya beliau lagi sibuk" jawab Ayla yang tidak mengetahui apapun yang terjadi dalam keluarganya. "dan Kak Rico juga titip pesan jika biaya rumah sakit sudah di bayar olehnya" sambung Ayla.
"Apa dia membayar seluruh biaya rumah sakit ?" tanya Aisha terkejut.
"Gak tau, beliau cuma titip pesan seperti itu" sahut Ayla.
"Sudahlah nak, kita tak perlu mempermasalahkan siapa yang membiayai perawatan ayah mu, yang terpenting sekarang nyawa ayahmu bisa selamat" ujar Ibu Ima yang mengerti akan kemarahan sang anak.
"Ibu benar, dia harus membiayai perawatan ayah karena semua ini ulah dia" ujar Aisha.
"Keluarga pasien atas nama pak Danu" ujar seorang suster.
Mereka bertiga pun langsung berlari kecil mendekat ke arah sang suster.
"Iya saya istrinya"
"Kita anak - anaknya".
"Maaf sebelumnya, kita sudah melakukan tindakan terbaik kami, namun kami gagal dalam menyelamatkan pasien" ujar suster dengan raut wajah yang sendu.
"Suster sedang tidak becandakan ?" tanya Aisha.
"Sus bilang suami saya baik - baik saja kan ?".
"Silahkan masuk dan bisa kalian lihat sendiri kondisi pak Danu" ujar suster tersebut.
Mereka bertiga langsung berlarian memasuki ruangan di mana pak Danu di rawat. bak di sambar petir di siang bolong, tubuh ibu Ima perlahan mulai lemas saat melihat sang suami terbujur kaku di atas tempat tidur. dan setelah itu ibu Ima pun tak sadarian diri, suster yang masih berada di sana langsung sigap membawa Ibu Ima agar mendapatkan penanganan yang baik.
...🌾🌾🌾🌾🌾🌾...
Sebelumnya Author mau minta maaf terlebih dahulu, karena kemaren tidak bisa update karena suatu hal, dan hari ini maaf juga updatenya telat tidak sesuai jam - jam biasanya.
Terima kasih banyak buat para reader yang sudah setia menunggu cerita ini uptade.
Jangan lupa baca juga karya author yang lainnya.
📍Aku Memilih_Mu
📍Bertemu Jodoh Di pesantren
__ADS_1
📍Hujan Kemarin
Jangan Lupa Like dan Vote juga agar author semakin semangat dalam melanjutkan cerita ini. berikan juga saran dan kritikannya juga di kolom komentar.