
"Nak Umi harus pergi dulu, kamu gak apa - apa kan Umi tinggal sebentar ?".
"Umi mau ke mana ?".
"Umi mau ke toko".
"Maaf jika Aisha lancang, apa ada masalah ? Aisha lihat Umi seperti panik dan juga seperti orang yang sedang menahan Emosi".
"Tadi yang menghubungi Umi adalah orang toko, dia bilang ada sedikit masalah di toko" jelas Umi Fatimah. "Umi pergi dulu ya" pamit Umi Fatimah seraya meninggalkan kamar Aisha.
Sejujurnya Aisha penasaran dengan permasalahan yang menimpa Umi Fatimah, namun ia tak berani bertanya lebih jauh lagi.
Setengah jam berada di dalam kamar membuat Aisha merasa bosan, Hingga akhirnya Aisha turun ke lantai bawah menghampiri Asisten rumah tangga yang sepertinya sedang masak di dapur.
"Lagi masak apa nih bi ?" tanya Aisha.
"Ini lagi masak cumi asam pedas, ayam mentega sama capcai, buat makan malam" jawab bi Mimin seraya memperlihatkan bahan - bahan yang siap di olah.
"Aisha bantu ya bi".
"Jangan non, di dapur kan kotor".
"Ishh bibi ini kan sudah Aisha bilang jangan panggil non, panggil saya Aisha".
"Maaf bibi lupa, tapu rasanya gak sopan deh kalau panggil nama, bibi panggil Mbak Aisha aja yah".
"Terserah bibi saja asal jangan panggil non, sini itu wortel sama kentangnya biar Aisha kupasin".
"Nanti tangan Mbak Aisha kotor".
"Kalau kotor tinggal cuci tangan saja, bereskan" ujar Aisha seraya mengambil wortel untuk di kupas.
Satu jam Aisha dan bi Mimin berada di dapur akhirnya masakan yang mereka buat jadi juga, bi Mimin menata rapih di meja makan.
tak berselang lama Umi pun pulang.
"Loh kok kamu di dapur nak ?".
__ADS_1
"Udah Mimin larang tapi Mbak Aisha tetep ingin bantu masak katanya". jawab bi Mimin.
"Ia Umi tadi Aisha bantuin bi Mimin masak habis di kamar mulu juga bosen" ujar Aisha seraya nyengir kuda.
"Maaf, kamu baru datang udah Umi tinggal".
"Tidak apa - apa, kan Umi juga punya urusan".
Sore hari Aisha dan Umi duduk di teras depan seraya bercerita tentang kehidupan mereka, ketika ada tetangga lewat, Umi pun memperkenalkan Aisha sebagai anak Umi.
Hari terus berjalan, tak terasa sudah seminggu Aisha tinggal bersama dengan Umi Fatimah, Aisha mulai akrab dengan para tetangga, mereka mengerti dengan sebuah privasi sehingga mereka tidak menanyakan tentang asal usul Aisha.
Sudah seminggu Aisha tak datang ke yayasan, rencananya besok ia akan datang ke sana, karena sudah janji akan tetap mengajar di sana. Aisha juga belum punya rencana apa pun untuk mengisi hari - harinya selain mengajar di yayasan.
Uang yang pernah Umi Fatimah berikan, Aisha berikan lagi pada Umi Lilah untuk kebutuhan yayasan, menurutnya Yayasan lebih membutuhkan uang tersebut dari dirinya, sejujurnya Aisha masih memiliki sedikit tabungan yang masih ia simpan di bank. Aisha berencana menggunakan uang tersebut untuk membuka sebuah usaha nantinya.
"Besok Aisha mau ke yayasan" ujar Aisha mengutarakan niatnya pada Umi.
"Tapi besok Umi ada pengiriman barang untuk toko dan sepertinya Umi gak bisa ikut".
"Tidak apa - apa, Aisha bisa pergi sendiri kok, tak enak juga sudah seminggu gak berkunjung ke sama".
"Iya Umi".
Aisha sudah terbiasa bangun pagi shalat tahajud di lanjut shalat subuh setelah itu akan membantu Bi Mimin membuat sarapan.
pukul setengah sembilan Aisha pamit untuk berangkat ke yayasan, ia menggunakan taksi online. kondisi jalanan yang agak macet membuat Aisha terlambat tiba di yayasan.
Saat memasuki halaman yayasan Aisha merasa asing dengan tempat tersebut, padahal baru seminggu ia meninggalkan tempat tersebut.
Aisha melirik ke arah rumah Umi Lilah dan Abah Anom yang nampak segitu sepi seperti tak ada penghuni, biasanya pintu depan selalu terbuka kini tertutup rapat.
"Aisha. ." sapa Yuni yang mengetahui kedatangannya.
"Ehh Yuni, bagaimana kabarnya ?" tanya Aisha basa - basi.
"Alhamdulilah baik, kamu sendiri bagaimana ?".
__ADS_1
"Alhamdulilah baik juga, Yun kok rumah Umi sepi sih ?" tanya Aisha penasaran.
"Oh itu, kalau Abah lagi pergi buat mewakili yayasan, kalau Umi pergi sama Dokter Martin gak tahu mau ke mana tapi menurut yang lain sihh mereka mau beli barang buat acara lamarannya dokter Martin" jelas Yuni.
Seketika hati Aisha merasa sakit, Aisha merasa beruntung ikut Umi Fatimah kalau tidak bisa - bisa ia bisa merasakan sakit hati tiap hari. ada rasa sesal karena bertanya tentang keberadaan mereka sehingga mendapat kabar kurang enak di hatinya.
"Aku ke sini mau mengajar anak - anak seperti biasa" jelas Aisha memberi tahu tujuannya datang ke sini.
"Hayu att masuk, oh iya ada pengurus baru juga di sini katanya sih masih warga sini beliau baru lulus kuliah sambil menunggu panggilan kerja dia juga bantu - bantu untuk mengajar di sini" jelas Yuni.
"Oh begitu ya, syukur deh jadi anak - anak akan tambah pintar".
"Kemarin juga anak - anak belajar bareng dokter Martin dan juga Mbak Zahra".
'Sabar Aisha, kamu datang ke sini untuk memberi ilmu yang kamu punya pada anak - anak yang membutuhkan bukan untuk mengurusi tentang dokter Martin dan Zahra' batin Aisha.
"Bagus dong" ujar Aisha berusaha menunjukan sikap baik - baik saja.
Satu jam belajar bersama anak - anak akhirnya Aisha mengakhiri pembelajaran hari ini, beberapa anak ada yang kecewa karena mereka masih rindu dengan sosok Aisha.
"Umi belum pulang yah ?" tanya Aisha pada bu Tati.
"Sepertinya belum, karena kalau sudah pulang pasti mobil dokter Martin akan terparkir di sana".
Sebenarnya Aisha ingin segera pulang karena tugasnya sudah selesai, namun rasanya tak enak jika datang ke sini tapi tidak bertemu dengan Umi Lilah atau Abah Anom.
'Tunggu setengah jam lagi deh, kalau gak datang juga ya sudah' gumam Aisha dalam hatinya.q d
Sambil menunggu Umi Lilah atau Abah Anom Aisha berbincang - bincang dengan beberapa pengurus yayasan, tak lupa juga Aisha menyempatkan bermain bersama para anak - anak di yayasan, senyum mereka membuat Aisha merasa tak ingin pergi dari sini.
Hampir setengah jam berlalu, namun Umi Lilah mau pun Abah Anom belum pulang juga, hari sudah semakin siang. dengan berat hati Aisha pun meninggalkan Yayasan tanpa pertemuan dengan pemilik yayasan.
Aisha keluar gerbang Yayasan untuk mencari tukang ojek, namun baru satu langkah berjalan tiba - tiba sebuah mobil masuk ke area yayasan, Aisha sangat hapal dengan siapa pemilik mobil tersebut.
"Aisha".
"Umi".
__ADS_1
Kedua manusia itu saling berpelukan melepas rasa rindu setelah satu minggu tidak berjumpa.
"Mentang - mentang sudah punya keluarga baru sampai lupa siapa yang telah membuatnya bangkit dari sebuah keterpurukan".