Sakinah Bersama Mu

Sakinah Bersama Mu
Bab 24


__ADS_3

Detik berganti menit, berganti jam, berganti hari dan berganti bulan, kehidupan terus berjalan. waktu memang cepat sekali berlalu, seperti melesat dan tidak terasa. satu tahun Aisha mengejar cinta yang salah, cinta yang sudah bukan miliknya lagi, berusaha mengambil yang bukan di takdirkan menjadi miliknya. bahkan ia rela menjatuhkan harga dirinya demi cinta pertamanya. Aisha rela jadi istri kedua Bani, yang terpenting baginya adalah bisa memiliki Bani.


Semua kebodohannya berujung duka dan nestapa, Kini hidupnya di rundung penuh kepiluan, bagaimana tidak, setelah dirinya nekad untuk terus berusaha meminta untuk di jadikan istri kedua yang mengakibatkan dirinya harus mengalami pertengkaran hebat bersama sang adik dan berujung pengusirannya dari tempat tinggalkan karena identitas Aisha sebagai janda di ketahui oleh para tetangga, setatus yang selama ini ia sembunyikan rapat - rapatnya pum harus terbongkar karena sebuah kecerobohan.


Belum usai sampai di situ, Aisha kembali di terpa ujian yang sangat berat, ketika sang adik mengalami kecelakaan pasca bertengkar dengan dan kini sang adik sedang terbaring lemah di ruang ICU.


"Kenapa ujian ini datang bertubi - tubi pada ku, apa aku tak pantas untuk bahagia" ucap Aisha seraya terisak.


Aisha merutuki semua kebodohannya, apa lagi kini sang adik menjadi korban atas keegosisannya, andai saja ia bisa bicara baik - baik dengan sang adik mungkin ceritanya tidak akan seperti ini.


"Jelaskan sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian, kenapa kalian bisa bertengkar ?!" tanya Bayu.


Mungkin saat ini hanya Bayu yang selalu ada untuk dirinya dan sang adik, walaupun orang tua Bayu telah melarang mereka menjalani komunikasi, namun diam - diam Bayu selalu membantu Aisha, karena bagaimana pun Aisha dan Ayla adalah sepupunya.


"Nanti ku jelaskan jika pikiranku sudah tenang" ucap Aisha. "Aku ingin ke toilet dulu". sambung Aisha.


Di dalam toilet yang sepi, Aisha menatap kaca dengan air mata yang bercucuran, ia mengingat di mana saat orang tuanya meminta dirinya untuk menikah, dan bagaimana suaminya memperlakukan dirinya hingga berujung orang tuanya meninggal. dan Kini di saat dirinya berjuang untuk cintanya, untuk seseorang yang selalu ia sebut dalam doanya, Namun sang adik malah harus terbaring di ruang ICU dengan berbagai alat yang menempel di tubuh sang adik.


"Kenapa semuanya jadi seperti ini, apa aku salah jika mencintai seseorang, apa aku tak berhak untuk bahagia, di cintai oleh orang yang aku cintai" gumam Aisha.


Setelah puas menangis di dalam toilet, Aisha pun memutuskan kembali ke ruang tunggu. namun saat berjalan di lorong rumah sakit, Aisha melihat seseorang sedang berjalan.


"Sedang apa dia di sini" gumam Aisha.


Secara diam - diam Aisha pun mengikuti seseorang tersebut, hingga seseorang tersebut memasuki sebuah ruangan perawatan.


"Siapa yang sakit ?" tanya Aisha pada dirinya sendiri.


Karena penasaran akhirnya Aisha bertanya pada seorang perawat yang kebetulan baru keluar dari ruangan tersebut.

__ADS_1


"Maaf, kalau boleh tau yang di rawat di dalam siapa ya ?" tanya Aisha. "Saya lagi cari ruangan perawatan temen saya" sambung Aisha berbohong agar tak membuat sang perawat menaruh curiga padanya.


"Oh ini ruangan Ibu Syifa istrinya pak Bani, Beliau baru saja menjalankan kuretasi" jelas sang perawat.


"Oh terima kasih infonya" ucap Aisha seraya berlalu.


Aisha terus memantau ruang perawatan Aisha, hingga di rasa di ruangan tersebut bener - bener tidak ada seorang pun kecuali Syifa istrinya Bani. setelah di rasa situasi aman Aisha masuk ke ruangan tersebut.


"Sore Syifa, setelah sekilan lama akhirnya kita bertemu lagi" ujar Aisha dengan senyum kecutnya.


"Ngapain kamu di sini, apa mau kamu" ujar Syifa ketakutan saat Aisha berjalan mendekat ke arah dirnya.


"Aku hanya ingin berbicara kita sebagai wanita" jelas Aisha dengan senyum mengejeknya.


"Syifa harusnya kamu sadar diri,usiamu masih sangat muda, bahkan temen - teman mu masih bersenang - senang menikmati masa muda mereka" ujar Aisha.


"Apa maksud mu ?".


"Aku tidak mau di madu" teriak Syifa.


"Kamu jadi wanita jangan egosi Syifa, harusnya kamu sadar diri, kamu itu tidak bisa memberikan anak pada suami mu, apa kamu tak ingin suamimu bahgaia memiliki seorang anak".


"Membahagiakan suami itu pahalanya sangat besar, apa kamu memang tak ingin membahagiakan suami mu, atau malah kamu menikahi Bani hanya untuk menghancurkan masa depannya".


"Jika aku jadi kamu, aku akan melakukan apapun untuk suami ku bahagia termasuk merelakan suamiku menikah lagi dengan wanita lain, mana ada sih keluarga yang bahagia tanpa keturunan, tidak ada kan ?".


Aisha terus berbicara mencoba mencuci otak Syifa agar dia bisa merayu suaminya untuk menikah dengannya.


Keadaan Syifa yang masih kalut atas kehilangan calon anaknya membuat ia mudah terhasut dengan apa yang di katakan Aisha.

__ADS_1


Syifa menyadari dirinya yang belum sempurna menjadi istri, dan kini malah membuat suaminya harus bersedih atas kehilangan calon anak mereka, hal itu membuat Syifa teringat pada satu hari ketika mereka mengunjungi rumah barunya di sana Bani bahkan sudah menyiapkan kamar untuk calon anaknya.


"Syifa pikirkan baik - baik apa yang aku katakan tadi, suami sudah rela banting tulang untuk menghidupi butuhan sang istri agar istrinya bahagia tanpa kekurangan, lalu di saat suaminya minta kebagaian pada istri seperti anak, istrinya tak bisa memberikan, di situ bakti istri pada suami di uji, jika kita ingin suami kita bahagia kita harus rela mengikhlaskan suami kita mempunyai istri baru, itu seperti suami yang rela kerja dua puluh empat jam demi membahagiakan istrinya" ujar Aisha lalu pergi meninggalkan ruang perawatan Syifa dengan penuh kemenangan, satu langkah lagi ia bisa menggapai semua mimpinya.


"Kenapa lama sekali ?" tanya Bayu saat Aisha telah kembali.


"Tadi di toiletnya ramai, jadi harus antre" ucap Aisha.


"Apa yang ku lakukan tadi itu keterlaluan ? sepertinya tidak, aku hanya mengatakan sesuai faktanya, tapi bagaimana jika Bani marah" batin Aisha.


Dalam hati kecilnya ada rasa sesal dengan apa yang di lakukannya terhadap Syifa, namun karena gelora cintanya pada Bani yang besar membuat Aisha lupa dengan resiko yang akan di terimanya.


"Kenapa kamu malah melamun ?" tegur Bayu.


"Aku hanya memikirkan kondisi Ayla" jawab Aisha.


"Aku yakin dokter akan melakukan yang terbaik untuk Ayla".


"Tapi bagaimana dengan biaya nya ?".


"Tenang saja, aku yang akan menanggung semua biaya perawatan Ayla hingga sembuh" ujar Bayu. "Aku harus pulang dulu, Aku gak bisa lama - lama di sini nanti Mama ku curiga". sambung Bayu.


...🌾🌾🌾🌾🌾...


Jangan lupa baca juga karya author yang lainnya.


📍Aku Memilih_Mu


📍Bertemu Jodoh Di pesantren

__ADS_1


📍Hujan Kemarin


Jangan Lupa Like dan Vote juga agar author semakin semangat dalam melanjutkan cerita ini. berikan juga saran dan kritikannya juga di kolom komentar.


__ADS_2