
Aisha baru saja menyelesaikan tugasnya mengajar anak - anak membaca dan juga menulis.tugas Aisha di yayasan adalah menjadi tenaga pendidik, Umi sengaja menugaskan hal tersebut karena melihat pendidikan terakhir Aisha yang merupakan lulusan sarjana.
"Hari ini pembelajaran kita sampai di sini dulu ya anak anak besok kita lanjutkan lagi" ujar Aisha seraya menebar senyum.
Selesai mengajar, Aisha mendatangi rumah Umi Lilah untuk menanyakan soal kabar Umi Fatimah, ia tak ingin menerima uang secara cuma - cuma apalagi dari orang yang baru di kenalnya.
"Umi lagi buat apa ?" tanya Aisha saat melihat perempuan paruh baya yang sudah di anggap sebagai ibunya tengah sibuk di dapur.
"Ehh Aisha, ini Umi lagi buat kue" jawab Umi Lilah.
"Oh, kenapa Umi gak minta bantuan Aisha, tumben juga Umi buat kue mau ada tamu ya ?".
"Kamu kan tadi lagi ngajar lagian buatnya juga sedikit kok, ia nih tadi Martin menghubungi Umi jika ia akan mengajak temannya main ke sini dan minta di buatkan kue ini" Ujar Umi seraya menunjukan satu loyang kue brownise yang baru di angkat dari panggangan.
Entah kenapa hati Aisha tiba - tiba merasa gelisah saat mendengar jika dokter Martin akan mengajak temannya berkunjung, dari cara ia minta di buatkan kue Brownise Aisha sudah menebak jika teman dokter Marin pasti perempuan dan spesial.
"Oh iya tumben kamu ke sini, ada apa nak ?" tanya Umi membuyarkan lamunan Hana.
"Oh Iya Umi, Aisha mau tanya soal Umi Fatimah ?".
"Itu tadi pagi Umi Fatimah menghubungi Umi, lalu Umi ceritakan kalau kamu keberatan menerima uang tersebut dan Umi Fatimah bilang jika dia hari ini juga mau datang katanya ingin bicara banyak dengan kamu".
"Iya Umi, Aisha harus bertemu langsung dengan Umi Fatimah dan menanyakan maksud uang tersebut".
Setelah membahas soal Umi Fatimah, Aisha akhirnya membatu Umi Lilah membuat kue yang di inginkan oleh dokter Martin.
Adzan dzuhur berkumandang, setelah selesai merapihkan semuanya Aisha pamit pada Umi Lilah untuk ikut shalat berjamaah di mushola yayasan dan juga bersiap - siap karena menurut Umi Lilah, Umi Fatimah akan datang setelah jam dua belas siang.
"Sudah rapih mau pergi ?" tanya Yuni saat berpapasan.
"Iya nih, ada urusan sebentar" jawab Aisha.
Saat Aisha datang ke rumah Umi Lilah, ternyata Umi Fatimah sudah datang dan sedang duduk di ruang tamu bersama Umi Lilah.
__ADS_1
"Sini nak duduk" ajak Umi Lilah saat melihat kedatangan Aisha.
"Iya Umi". Aisha duduk di samping Umi Lilah.
"Kita berangkat sekarang saja yuk" ajak Umi Fatimah.
Umi Fatimah telah mengatakan pada Umi Lilah jika hari ini dirinya ingin mengajak Aisha keluar, karena ingin bicara empat mata dengan Aisha.
"Jalan pak ke tempat yang sudah tadi saya bilang" ujar Umi Fatimah pada supirnya.
Aisha dan Umi Fatimah duduk bersampingan, tak ada pembicaraan mereka hanyut dalam pemikirannya masing - masing, hingga mobil yang mereka tumpangi berhenti di sebuah rumah makan yang begitu megah.
'Ternyata di kota kecil seperti ini ada juga restoran mewah' batin Aisha kala melihat megahnya bangunan yang ada di hadapannya.
"Ayo turun" tegur Umi Fatimah.
"Ehh ia Umi" Aisha gelagapan.
Umi Fatimah memilih tempat di pojokan, tempat itu di rasa pas karena tak terlalu banyak orang yang berlalu lalang sehingga akan menganggu.
"Samain sama Umi saja".
"Kalau Umi pesan racun apa kamu juga mau pesan racun ?".
"Ishh Umi malah becanda" keluh Aisha.
"Ya habisnya harus di samain sama Umi Sih, kalau kamu gak suka sama pesanan Umi bagaimana, tenang saja nak kamu boleh pesen apa saja Umi gak bakalan marah kok, gak usah sungkan anggap saja Umi ini sebagai orang tua kamu".
"Iya Umi".
Tak berselang lama makanan yang di pesan Aisha dan Umi Fatimah terhidang di meja.
"Makan dulu baru nanti kita bicara" ujar Umi Fatimah dan Aisha hanya mengangguk setuju.
__ADS_1
*
"Umi, Aisha mau tanya alasan Umi memberi Aisha uang sebanyak itu padahal Umi baru mengenal Aisha ?" tanya Aisha saat mereka selesai makan.
"Maaf jika tindakan Umi menyinggung kamu, Umi tak ada maksud apa pun, Umi merasa sangat miris setelah mendengar kisah kamu dari Umi Lilah, Umi jadi teringat anak Umi yang telah tiada" Ujar Umi Fatimah seraya menyeka air matanya yang hampir jatuh.
"Anak Umi meninggal karena depresi berat karena kekasihnya pergi meninggalkannya begitu saja setelah anak Umi di nyatakan Hamil" lirih Umi Fatimah tak dapat lagi membendung cairan beningnya.
"Astaghfirullah" lirih Aisha.
"Kamu anak kuat, Umi tak bisa bayangin jika ada di posisi kamu di tinggal orang tua, lalu di tinggal adik juga. Umi sengaja memberi uang tersebut agar kamu bisa membuka usaha, gunakan uang tersebut untuk modal". ujar Umi Fatimah seraya menggenggam tangan Aisha berharap Aisha bisa menerima uang tersebut.
"Atau kamu mau jika Umi mengangkat kamu sebagai anak Umi, kita tinggal bersama. Selama ini Umi kesepian Umi tinggal sendiri karena suami Umi sudah meninggal terkena serangan jantung saat mengetahui putri semata wayang kita hamil di luar nikah".
Aisha terdiam, ia bingung harus menjawab apa, sejujurnya ia masih ingin tinggal di yayasan dan berharap dokter Martin segera melamarnya dan menjadikannya sebagai istri.
"Mau ya sayang ?" Umi Fatimah memohon pada Aisha agar mau menuruti ke inginannya.
"Apa Umi yakin ingin mengangkat aku sebagai anak ?" tanya Aisha.
"Umi sangat yakin nak".
"Kalau Umi sudah mengetahui semua tentang masa lalu Aisha apa Umi masih mau menerima Aisha ?".
"Umi Lilah sudah menceritakan semuanya nak, jadi Umi sudah tahu semuanya" jawab Umi Fatimah dengan penuh keyakinan.
"Termasuk aku yang seorang mantan narapidana dan seorang janda" lirih Aisha.
"Astaghfirullah" Umi Fatimah menutup mulutnya yang terbuka lebar dengan kedua tangannya. matanya pun hampir lari dari tempatnya saking terkejutnya dengan pengakuan Aisha.
"Apa kamu bisa jelaskan semuanya pada Umi !" pinta Umi Fatimah. ada rasa kecewa di hatinya saat mendengar pengakuan Aisha. tak menyangka jika Aisha adalah mantan narapidana, namun Umi Fatimah juga penasaran sehingga ia mau mendengarkan penjelasan Aisha.
Aisha menceritakan semua yang di alaminya dari awal pernikahannya dengan tuan Rico dan perlakuan tuan Rico serta kedua istrinya, Aisha juga menceritakan tentang kepergian kedua orang tuanya.
__ADS_1
Aisha mulai menitikan air mata saat menceritakan tentang perjuangan hidup bersama adiknya dan pucaknya saat kepergian sang adik, di sana Aisha tak mampu melanjutkan kata - katanya, terlalu sakit jika harus mengingat kejadian tersebut.
Umi Fatimah memeluk Aisha, ia tak menyangka jika Aisha mengalami kejadian yang lebih memprihatinkan dari pada yang di bayangkannya.