
Visual Raiyen
Visual Deon
Setelah membeli kebutuhan untuk melukis, Aileen dan Saralee memutuskan untuk pulang ke paviliun.
"Kira-kira Adella bisa menghadapi Mama Keenan nggak ya? Dari cerita sepertinya Mamanya Keenan orang yang suka mengatur dan banyak maunya," ucap Saralee penasaran.
"Iya, aku juga ikut khawatir. Semoga saja dia bisa melaluinya dengan lancar," jawab Aileen cemas.
" Malam ini kita ke Club' yuk! Aku merasa bosan. Sepertinya aku haus mangsa," kata Saralee.
"Tidak, aku di rumah saja mau membaca buku. Besok kita kan ada tes tertulis, aku takut jika tidak bisa menjawab. Apa kamu tidak khawatir?" jawab Aileen gugup.
Gadis pemalu itu terlalu takut membayangkan tempat yang banyak alkohol dan lelaki yang berkeliaran.
"Kamu memang gadis baik. Tapi soal tes tertulis aku yakin pasti bisa menjawabnya. Ya sudah aku mandi dulu," pamit Saralee masuk ke kamarnya sendiri.
Aileen duduk di sofa ruang santai. Matanya fokus membaca buku tentang kesenian melukis.
Setengah jam kemudian Saralee keluar dari kamarnya.
"Bagaimana penampilanku?" tanya Saralee memutar tubuhnya seperti model.
"Cantik, tapi apa tidak terlalu sexi bajunya?" jawab Aileen lugu.
"Ha... ha... kata cantik itu sudah cukup, selebihnya tidak penting. Bye... aku keluar dulu, mungkin pulangnya malam," pamit Saralee tersenyum riang.
Aileen menatap kepergian temannya. Sekarang dia hanya seorang diri di rumah.
Sampai malam kedua temannya belum juga pulang, Aileen sudah mulai merasakan lapar.
"Mau masak tapi nggak bisa. Apa aku beli nasi goreng saja ya di depan halte itu? Semoga saja masih buka," batin Aileen.
Gadis lemah lembut itu segera mengambil jaketnya dan keluar dari paviliun.
"Bu, nasi goreng satu porsi. Dibungkus saja," pinta Aileen.
"Oh iya, tunggu sebentar." jawab Ibu pemilik warung dengan ramah.
Ibu itu ingat jika pembeli barusan adalah temannya seorang gadis yang hampir tertabrak mobil. Dengan keihklasan Ibu itu memberikan porsi yang lebih banyak.
"Ini, Nona," ucap penjual sembari memberikan bungkusan.
"Terimakasih, Bu. Ini uangnya," jawab Aileen sambil mengulurkan uang sepuluh ribu.
Bau nasi gorengnya sangat enak. Aileen sudah tidak sabar untuk segera menikmatinya.
Aileen makan dengan riang, dia juga sadar jika porsi nasi gorengnya semakin banyak.
__ADS_1
"Mungkin ibu penjual itu merasa berterimakasih, karena kejadian kemarin malah membawa berkah baginya."
Aileen merasa kenyang, dia mulai mengantuk dan segera masuk ke kamarnya. Namun gadis penakut itu merasa heran kenapa lampu kamarnya mati, karena seingat dia tadi masih hidup.
"Apa lampunya rusak?"
Aileen masuk dan mencari saklar yang terletak di samping ranjang. Kedua tangannya meraba-raba karena kondisi gelap. Namun sesuatu terjadi, tangan lentiknya tiba-tiba menyentuh benda yang mulus seperti kulit seseorang.
Aaa......
Ailen menjerit sekeras mungkin karena terkejut, dia ingin berlari tapi justru menabrak sisi pintu.
Bruakk...
"Aduh..." pekik Aileen yang sudah terkapar di lantai. Keningnya terasa perih dan berdenyut.
Ruang kamar seketika menyala, Alea sangat ketakutan karena ada seorang pemuda yang hanya memakai celana pendek.
"Jangan... jangan mendekat!" teriak Aileen histeris.
"Wajahmu penuh darah," kata pemuda itu dengan cemas.
Aileen mengusap keningnya, saat jemarinya di lihat sudah ada lumuran darah yang yang lumayan banyak.
Bruak....
Ailen tumbang tak sadarkan diri.
**********************************
"Jadi ini rumahmu?" tanya Keenan.
"Bukan, aku hanya menumpang pada temanku," jawab Adella.
Tanpa pamit Keenan langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Itu orang sudah tidak sayang nyawa ya? Nyetir mobil selalu cepat seperti orang yang dikejar rentenir," gumam Adella.
Tak lama kemudian Saralee juga pulang di antar mobil. Sopir tampan itu bergegas keluar dan membukakan pintu mobil untuk Saralee seperti seorang ratu.
"Makasih, Honey. Sampai berjumpa lagi," ucap Saralee sambil memberikan ciuman jarak jauh.
Adella merasa ngeri melihat Saralee yang bertingkah sembarangan.
Pemuda itu melambaikan tangannya dan segera pergi.
"Kamu dari mana? Dan yang barusan itu pacar kamu?" tanya Adella penasaran.
"Aku dari Club, dan dia adalah kenalanku," jawab Saralee riang.
"Apa? Baru sehari kenal sudah dekat seperti itu?" tanya Adella tak percaya.
"Kenapa memangnya? Dia tampan dan kaya. Senior kita di Universitas A. Lumayan untuk bersenang-senang, karena aku berniat memutuskan pacarku," kata Saralee enteng.
__ADS_1
"Ada masalah apa kok mau putus?" tanya Adella lagi.
"Aku bosan, sudah tidak menarik lagi," ucap Saralee tanpa merasa bersalah dan langsung masuk ke Paviliun.
Adella menggeleng-gelengkan kepalanya merasa takjub dengan temannya yang satu ini.
Sesampainya mereka berdua di lantai atas, mereka terkejut melihat seorang pemuda yang sedang tiduran di sofa sambil menonton televisi.
"Kak Deon!" teriak Saralee sambil berlari ke pelukan Kakak sepupunya.
"Hey... kamu ini masih seperti ABG saja," ucap pemuda yang sangat tampan itu.
"Kapan Kak Deon ke sini?" tanya Saralee antusias.
"Baru saja, itu temanmu yang di dalam terluka. Coba lihat," ucap Deon.
Saralee dan Adella bergegas masuk ke dalam kamar Aileen.
Aileen baru saja sadar, tangannya menyentuh keningnya ternyata sudah diperban.
"Kamu kenapa bisa seperti ini?" tanya Adella cemas.
Kemudian Aileen menceritakan kejadian tadi.
"Maaf, aku tidak tahu kalau Saralee punya teman. Tadi sebelum ke sini aku sudah kirim pesan tapi tidak di balas," kata Deon menjelaskan.
"OPS... Maaf, sepertinya ini kesalahanku. Tadi aku terlalu sibuk sampai tidak sempat membuka pesan," ucap Saralee merasa bersalah.
"Sibuk apa? Berkencan?" batin Adella menahan tawa.
"Tidak apa-apa. Kalian segera tidurlah! Aku juga akan tidur di sofa. Besok aku akan pindah ke hotel," kata Deon santai.
"Jangan! Saya disini cuma numpang. Bagaiman kalau saya saja yang tidur di sofa," kata Aileen.
"Itu juga bukan ide yang bagus, sebaiknya Kak Deon tidur di kamarku. Dan aku tidur bersama Aileen.
Akhirnya mereka setuju.
"Oh iya, Kak Deon. Perkenalkan, dia Adella dan yang ini adalah Aileen," ucap Saralee.
"Iya, aku Deon. Aku senang kalau Saralee ada temannya. Jadi aku tidak khawatir dia tinggal di sini," ucap Deon tersenyum manis.
Adella dan Deon keluar dari kamar Aileen.
"Aileen, Kakakku sangat tampan kan?" tanya Saralee.
Aileen hanya tersenyum dan wajahnya memerah karena malu.
Tapi Saralee tidak melihat karena mereka berdua tidurnya saling memunggungi.
"Malunya aku tadi sudah salah paham, sepertinya tadi yang menggendongku ke ranjang dan yang mengobati lukaku adalah kak Deon," batin Aileen.
Terimakasih sudah berkenan membaca karya saya. Jangan lupa Like, Vote dan beri bintang 5 ya🙏 Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi Author.
__ADS_1
Mohon kritik dan sarannya juga, semoga novel SCORPIO bisa berkembang lebih baik lagi🤗