Scorpio

Scorpio
Keputusan Saralee


__ADS_3

Saralee dan Aileen membawa Deon ke kamar yang sudah di sediakan oleh pelayan. Namun, begitu Deon dibaringkan ke tempat tidur tangannya langsung menarik Aileen sampai menindih tubuh Deon.


"Saralee, tolong aku!" pinta Aileen yang tidak bisa melepaskan diri.


Saralee tertawa, dia tahu jika kakak sepupunya tidak mungkin membahayakan Aileen.


"Bye... Aku mau jalan-jalan duluan," jawab Saralee berlalu pergi meninggalkan temannya.


Saralee keluar dari rumah lagi, akan tetapi saat melihat Adella dan Keenan sedang berpelukan sambil berciuman membuat dia masuk ke dalam rumah.


"Pantas saja Adella betah berlama-lama di sana saat cuaca dingin seperti ini."


Saralee masuk lagi ke dalam rumah karena tidak tahan dengan dinginnya malam yang menembus sampai ke tulang rusuk.


"Ada yang Anda butuhkan, Nona?" tanya pelayan dengan sopan.


"Tunjukkan aku kamar tamu," pinta Saralee.


Dengan senang hati pelayan tersebut mengajak Saralee ke kamar khusus tamu Tuannya.


Saralee senang sekali, sebab dari jendela bisa melihat pantai dan pemandangan yang indah. Hanya saja tidak bisa melihat adegan mesra sahabatnya karena terhalang pepohonan.


Saralee sama sekali tidak bisa tidur, saat ini kedua temannya sedang menikmati kebersamaan dengan kekasih masing-masing.


"Aku punya banyak pacar tapi aku sama sekali tidak bahagia,"


Kemudian dengan iseng Saralee menelepon Raiyen. Entah kenapa dari sekian banyak nomor telepon pemuda tampan justru Raiyen lah yang pertama dia pikirkan.


"Ada apa? Kenapa malam-malam menelepon aku?" tanya Raiyen dengan suara berat.


"Aku kira kamu sudah tidur," jawab Saralee ngakak.


"Aku memang sedang tidur, tapi telepon darimu mengusik mimpiku," balas Raiyen ketus.


"Aku hanya butuh teman ngobrol saja. Aku tidak bisa tidur," kata Saralee.


"Adella sama Aileen kemana?" tanya Raiyen.


"Bilang saja mau menanyakan kabar Adella." batin Saralee kesal.


"Mereka sedang bersama kekasih mereka," jawab Saralee.


"Jadi kamu mau aku ke rumahmu dan menemanimu?" goda Raiyen.


"Tidak! Kami sedang menginap di tempatnya Keenan, tunangannya Adella," pekik Saralee.


"Jangan keras-keras bicaranya, kupingku sakit dan ini sudah malam," protes Raiyen.

__ADS_1


"Habisnya kamu menyebalkan sih," jawab Saralee.


"Kalau begitu kamu telepon saja para pacarmu yang segudang itu! Bukannya malah menganggu tidurku," kata Raiyen cuek.


"Ah, aku malas. Mereka sudah membosankan. Palingan juga cuma ngerayu dan ngegombal murahan," jawab Saralee santai.


"Kamu ini jangan seperti itu, tidak baik menyakiti hati seseorang. Apa kamu percaya karma?" tutur Raiyen.


"Lalu aku harus baik pada semua pacarku gitu?" tanya Saralee sengit.


"Bukan begitu, maksudku kamu kalau punya pasangan satu saja untuk masa depan. Dan setialah padanya!" saran Raiyen serius.


"Kamu juga salah satu pacarku, kalau begitu kamu aku putuskan!" ejek Saralee.


"Hey, kita baru saja bertunangan di depan orang tua kita. Masa iya begitu saja putus dalam waktu singkat," jawab Raiyen kesal.


"Kalau kamu tidak mau diputus berarti sama saja kamu bermaksud minta aku setia hanya padamu kan?" tanya Saralee menyelidik.


"Ha... Ha... Ha... Mau bagaimana lagi, kita sudah bertunangan. Dan aku tidak memiliki kekasih lain," jawab Raiyen ngakak.


"Hubungan kita ini aneh tau, kita ini tidak saling mencintai tapi mau bertunangan. Seandainya nanti kita disuruh menikah bagaimana?" tanya Saralee panik.


"Ya tinggal menikah saja!" jawab Raiyen.


"Apa kamu tidak menyesal menikahi gadis yang tidak kamu cintai?" tanya Saralee memastikan.


"Intinya jika menikah denganmu aku tidak akan menyesal," jawab Raiyen serius.


"Jangan bercanda. Warisanku juga tidak kalah banyaknya denganmu," jawab Raiyen tidak terima.


"Lalu apa alasannya?" paksa Saralee tidak sabar.


"Aku juga tidak tahu, mungkin karena kita saling bertengkar jadi aku rasa hari-hari kita setelah menikah tidak akan membosankan," jawab Raiyen becanda.


Saralee diam, dia kesal karena keseriusannya dipermainkan oleh Raiyen.


"Saralee, sebaiknya kamu tidur ya? Besok siang aku akan mengajak kamu kesuatu tempat," ucap Raiyen serius.


"Hem.." jawab Saralee cuek.


"Ayolah, semangat sedikit," bujuk Raiyen tertawa kemudian sambungan telepon mereka terputus.


Saralee benar-benar tidak tahu dengan jalan pikiran Raiyen. Membuat dia menjadi gelisah dan tidak bisa tidur.


"Kenapa tiba-tiba aku ingin memutuskan pacarku yang lainnya ya? Buat apa aku pelihara kalau sudah tidak aku butuhkan."


Kemudian Saralee mengetik tulisan yang intinya mengajak putus. Pesan tersebut dia kirimkan ke semua pacarnya kecuali Raiyen.

__ADS_1


"Aku juga tidak tahu kenapa bisa seperti ini. Raiyen, kamu sangat sulit ditebak."


Saralee tiduran dan menatap nomor ponsel Raiyen, lama-lama dia tertidur dengan sendirinya.


💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜


Raiyen tersenyum sendiri mengingat sikap Saralee yang mudah meledak-ledak.


"Gadis batu, kenapa saat kamu bersama pemuda lain aku merasa tidak rela ya? Padahal aku sangat sebal sekali dengan tingkahku yang tidak seperti gadis baik-baik."


Karena tadi ngobrol dengan Saralee cukup lama membuat tenggorokan dia merasa kering. Raiyen pun keluar dari kamar dan mengambil minuman. Saat tanpa di sadari tiba-tiba ada sosok yang memeluknya dari belakang.


Pyarrrr....


Raiyen kaget, sampai gelas yang berada ditangannya jatuh dan pecah.


"UPS, aku tidak bermaksud ..." ucap Nilna terputus dan merasa bersalah.


"Sejak kapan kamu di sini?" kata Raiyen terkejut melihat adik tirinya.


"Sejak tadi, karena kamu sudah tidur aku tidak berani mengganggu," jawab Nilna tersenyum manis.


Raiyen memang pernah menyukai gadis di depannya, tapi semenjak orang tua mereka menikah sejak itu pula rasa yang ada lenyap seketika.


"Ada apa kamu ke sini?" tanya Raiyen tidak suka.


"Aku merindukanmu, Raiyen," bisik Nilna sambil memeluk dan bersandar pada dada Raiyen.


Dengan cepat Raiyen melepaskan pelukan adik tirinya tersebut.


"Lancang! Panggil aku kak, dan jangan pernah lagi ulangi hal seperti ini. Apalagi aku sudah punya calon istri," bentak Raiyen.


"Aku tahu, kamu tidak sungguhan mencintainya," jawab Nilna yakin.


"Siapa bilang? Kalau aku tidak mencintainya mana mungkin aku mau dijodohkan dengannya. Kamu kira Papa bisa memaksaku?" balas Raiyen berlalu pergi.


Kemudian Raiyen menghentikan langkahnya dan menoleh lagi ke Nilna.


"Malam ini kamu boleh tidur di kamar sebelah, tapi besok kamu harus segera pulang," kata Raiyen dingin.


Nilna langsung meneteskan air matanya. Dulu Raiyen selalu memanjakan dia dan tidak pernah membentaknya.


"Kenapa takdir seperti ini? Aku mencintaimu! Kenapa sekarang aku disuruh memanggilmu kakak?"


Raiyen sendiri sebenarnya juga tadi tidak tega berkata kasar pada mantan pacarnya. Hanya saja dia lakukan semua itu agar Nilna tidak bersikap sembarangan lagi kedepannya.


"Maafkan aku, semua demi kebaikanmu. Lupakan aku dan carilah penggantimu yang lebih baik dariku."

__ADS_1


Raiyen masuk ke kamar dan bersiap-siap tidur. Kemudian wajah Adella tiba-tiba muncul dalam ingatannya. Raiyen memang mengagumi kegigihan Adella semasa SMA, tapi dia juga tidak pernah berpikir untuk memilikinya. Kemudian wajah Adella tergantikan oleh wajah Saralee. Keenan tidak suka dengan sikap gadis itu, tapi dalam hati ada keinginan selalu ingin dekat dan tidak rela jika Saralee bersama pemuda lain.


"Jangan sampai Saralee tahu perasaanku, bisa-bisa dia menjadi seenaknya padaku."


__ADS_2