Scorpio

Scorpio
Salam Damai


__ADS_3

Aileen


Malam ini Aileen sendirian di rumah, sebab kedua temannya sedang kencan buta. Dia sama sekali tidak tertarik, lebih tepatnya takut.


Aileen memilih di rumah dan mencoba menghibur diri dengan melukis sesuatu. Baru saja dia menggores satu garis, tiba-tiba terdengar suara mobil yang berhenti di depan Paviliun.


"Mungkin Adella, karena Saralee baru saja berangkat," batin Aileen senang.


Namun siapa sangka, orang yang muncul dari tangga bukanlah Adella, melainkan seseorang yang ingin dia hindari.


Aileen langsung meninggalkan alat lukisnya, kemudian dia berlari menuju kamar tidur.


Deon hanya tersenyum karena pemuda itu sudah mengenali karakter Aileen yang penakut.


Sedangkan di dalam kamar Aileen menyandarkan punggungnya di pintu, biarpun sudah di kunci tapi hatinya was-was kalau sewaktu-waktu sepupu Saralee itu bisa masuk.


Kemudian Deon mengetuk pintu kamar Aileen secara pelan, membuat Aileen merasa deg-degan dadanya.


Tok... tok... tok


"Aku sudah mendapatkan alamat ibu kamu loh, kalo dalam hitungan ketiga tidak kamu buka pintunya, maka aku akan langsung pulang," ucap Deon dari luar.


Tanpa berpikir panjang Aileen segera membuka pintunya, tapi dia masih belum berani menatap wajah tampan pemuda di depannya.


"Kamu mau menemui ibu kamu tidak?" tanya Deon mesra.


"Iya," jawab Aileen lirih.


"Kalau begitu malam ini kita resmi menjadi sepasang kekasih dong," goda Deon dengan senyuman menawan.


"Apa?" pekik Aileen.


"Bukankah itu perjanjian kita?" tanya Deon mengingatkan.


"Tapi kemarin katanya kalau aku minum bir Kak Deon akan menolong aku," ucap Aileen gugup.


"Semalam masih ada sisanya sedikit loh, tapi kamu sudah mabuk duluan. Itu tandanya gagal," jawab Deon.


Aileen sudah tidak ingat apakah semalam minumannya habis atau tidak, tapi gadis yang polos itu dengan mudahnya mempercayai omongan Deon.


"Bagaimana?" tanya Deon lagi.


Demi melihat ibu kandungnya, Aileen menganggukkan kepalanya tanda setuju.


"Tapi aku takut hamil di luar nikah," ucap Aileen lirih.


"Apa? Jadi kamu berharap bisa mengandung anakku?" goda Deon.

__ADS_1


"Bu... Bukan begitu," sergah Aileen cemas dan malu.


Deon tertawa dan langsung masuk ke kamar sambil mengunci kamar, pemuda itu tersenyum melihat wajah cantik Aileen yang tengah ketakutan.


"Mau apa?" tanya Aileen gugup.


"Dari kemarin aku belum tidur karena mencari keberadaan ibu kamu, malam ini aku menginap di sini ya?" pinta Deon tersenyum manis.


Aileen terpesona dengan ketampanan pemuda di depannya itu, tapi akal sehatnya masih waras sehingga dia bisa mengendalikan diri sendiri.


"Silahkan, biar aku tidur di sofa," jawab Aileen.


Deon langsung menarik tubuh Aileen sampai gadis itu rubuh di ranjang. Pemuda itu segera menyusul berbaring di samping tubuh Aileen dan memeluk tubuh gadis itu dengan erat.


Aileen ketakutan dan mencoba untuk melepaskan diri, tapi tenaganya tidak cukup kuat mengalahkan tubuh kekar pemuda tampan itu.


"Tenanglah! Aku tidak akan macam-macam padamu, seandainya aku ini lelaki brengsek mungkin malam itu aku sudah mengambil keuntungan darimu dan memperkosamu. Aku hanya ingin minta ditemani tidur saja," bujuk Deon lembut.


"Tapi... Tapi bagaimana kalau Saralee dan Adella melihat kita? Pasti mereka berdua salah paham?" Aileen masih terlihat gelisah.


"Mereka berdua malam ini takkan pulang! Percayalah padaku," jawab Deon kemudian memejamkan matanya.


"Darimana Kak Deon tahu?" tanya Aileen.


Namun tidak ada jawaban, karena pemuda yang tengah memeluknya erat itu sudah tertidur pulas.


"Ternyata Kak Deon baik juga," batin Aileen mulai merasa tenang.


Secara perlahan mata Aileen juga ikut terpejam, entah kenapa dalam pelukan Deon dia mulai merasa hangat dan nyaman.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Saralee


Saralee sedang asyik menggoyangkan tubuhnya menikmati musik disko. Gerakannya yang luwes membuat dia tampak keren dan mempesona.


Inilah dunia dia yang selama ini menemani malam-malam sepinya. Namun semenjak mengenal Adella dan Aileen dia sudah mulai jarang ke tempat seperti ini lagi.


Hari ini dia mengenal pemuda yang tampan dan mereka janjian bertemu di sini, tapi baru beberapa menit Saralee berjoget tiba-tiba ada orang yang membiusnya dari belakang.


Pemuda tampan yang bersama Saralee mencoba untuk menolong, tapi orang-orang yang menculik Saralee terlalu banyak, bahkan mereka semua membawa senjata api yang membuat semua orang ketakutan.


Pemilik tempat itu begitu menyadari siapa gerombolan yang datang langsung mencegah teman kencannya Saralee untuk tidak membuat masalah.


"Tenang saja, Nak. Mereka tidak akan berani mencelakai Gadis itu, karena mereka adalah anak buah kakaknya."


Pemuda itu langsung diam dan membiarkan orang-orang yang memakai jas hitam membawa Saralee pergi.

__ADS_1


Saat terbangun Saralee sudah berada di sebuah kamar hotel yang mewah, kedua orang tuanya juga sedang menunggunya di sana.


"Apa-apaan ini?" teriak Saralee marah.


"Maaf, Nak. Kami terpaksa melakukan ini agar bisa menemuimu," ucap Maminya Saralee.


Saralee memang keras kepala, ketika marah gadis itu akan selalu kabur saat diajak bicara.


"Pasti yang tadi menculik aku adalah Anak buah Kak Deon," batin Saralee kesal.


Saralee tahu, meskipun kakak sepupunya sangat menyayanginya tapi pemuda itu begitu patuh pada Mami Papinya.


"Ada apa? Kalau mau mengajak aku pulang sebaiknya menyerah saja," kata Saralee ketus.


"Maafkan kami sayang, setelah kamu pergi kami sadar jika kami salah. Kami berdua berjanji tidak akan bertengkar lagi, dan kami juga sudah mendengar tentang kamu yang tinggal bersama Adella dan Aileen. Kami senang sekarang kamu mandiri dan bahkan bisa masuk Universitas A," kata Papi Saralee tersenyum bangga.


"Jadi kalian tidak akan memaksa aku pulang?" tanya Saralee memastikan, sebab dia sudah merasa nyaman berada di kota ini tinggal bersama teman-temannya.


"Iya, kamu belajarlah yang rajin ya? Karena kamu satu-satunya penerus Papi," jawab Papinya Saralee senang.


"Iya, Pi. Tapi jatah bulananku di tambahin ya? Dan antarkan mobilku juga ke sini," pinta Saralee semangat.


"Saralee, malam Minggu ada acara penting. Papi harap kamu pulang sebentar ya?" bujuk Papi saralee penuh harap.


"Nggak mau," jawab Saralee malas, karena paling-paling acara pesta para pengusaha kelas atas. Bagi Saralee yang suka kebebasan pesta seperti itu sangat membosankan.


"Bagaimana kalau dengan mobil baru?" rayu Mami Saralee yang tahu putrinya.


Saralee langsung berubah cerah membayangkan mobil idamannya.


"Baik, tapi minggunya aku langsung balik sini," ucap Saralee.


"Iya, sayang," jawab kedua orang tua Saralee lega.


Saralee bahagia akhirnya kedua orang tuanya bisa akur, kaburnya dia ke kota ini membawa berkah tersendiri. Pertama orang tuanya menjadi sadar dan berbaikan, yang kedua dia bisa bertemu teman sebaik Adella dan Aileen.


"Malam ini tidur di sini ya? Mami rindu kamu sayang," bujuk Mami Saralee yang masih terlihat muda dan cantik.


"Papi juga tidur di sini ah," timpal Papinya Saralee berbaring di ranjang duluan.


Malam ini Saralee tidur di tengah-tengah kedua orang tuanya. Sama persis saat ketika dia masih kecil seperti dulu.


"Akhirnya, aku merasakan perasaan seperti ini lagi."


Jangan Lupa Like dan beri rating bintang 5 yaπŸ™ Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi AuthorπŸ€—


Mohon kritik dan sarannya semoga novel SCORPIO ini bisa berkembang lebih baik lagiπŸ€—

__ADS_1


__ADS_2