
Adella sudah menyelesaikan segala urusannya, dia merasa lega karena bisa masuk Universitas A tanpa sepeserpun biaya.
"Aku harus belajar sebaik mungkin, agar nanti aku bisa menjadi orang sukses. Kelak orang-orang yang pernah menindas keluargaku akan menyesal," batin Adella.
Adella melirik ke jam tangannya, masih banyak waktu sebelum Keenan datang menjemputnya. Kemudian Adella jalan-jalan melihat kelas untuk jurusan kedokteran.
Saat Adella mengambil bungkusan permen karet yang di letakkan dalam tasnya, dia melihat dua lembar formulir.
Kemudian Adella langsung berjalan cepat menuju tempat pendaftaran untuk menyerahkan formulir milik kedua temannya.
Tanpa sengaja dia juga melihat pemuda yang pernah di ceritakan Saralee.
"Kenapa pemuda itu masuk ke rektorat? Apakah dia akan melaporkan Saralee karena telah mencuri formulirnya. Aduh, gawat nih! Aku harus mengikutinya untuk mencari tahu," gumam Adella, wajahnya sangat cemas.
Lima belas menit kemudian pemuda yang ditunggu keluar dari rektorat, Adella langsung menghampirinya.
"Hey, tunggu!" teriak Adella.
" Ada keperluan apa?" tanya pemuda itu ramah.
Adella melirik ke teman yang berada di sebelah pemuda itu.
"Kris, sebaiknya kamu pergi duluan! Nanti aku menyusul," ucap pemuda itu pada temannya.
Kris langsung berlalu meninggalkan mereka berdua untuk saling bicara.
"Baiklah aku langsung saja, kamu barusan melaporkan temanku ke rektor ya?" tanya Adella.
"Oh, jadi kamu temannya gadis pencuri itu ya?" pemuda itu balik bertanya.
"Dia tidak seperti yang kamu kira," jawab Adella merasa tak terima.
"Tapi kenyataannya dia mencuri lembar formulirku," balas pemuda tampan itu tersenyum mengejek.
Adella menunduk, karena dia sudah tidak bisa menjawab lagi.
"Tenanglah, tanpa formulir aku sudah diterima di Universitas A. Namamu Adella, kan?" tanya pemuda itu.
"Dari mana kamu tahu?" tanya Adella penasaran, dan juga tersenyum lega karena tidak akan ada masalah untuk Saralee.
"Tentu saja, karena nilai ujian SMA kita hanya selisih sedikit. Namun masih aku yang mendapat juara pertama," ucap pemuda di depannya Adella.
"Jadi kamu Raiyen, ya?" tanya Adella terkejut.
"Iya, kenapa memangnya?" tanya pemuda yang bernama Raiyen.
"Dulu aku pernah sangat membencimu, karena saat perlombaan nasional aku kalah darimu. Saat itu aku sudah bekerja keras untuk menyiapkan semuanya, tapi pada akhirnya aku tetap kalah. Aku sampai menangis setiap mau tidur," ucap Adella jujur, tapi dia tertawa mengenang semua itu.
"Kamu kesal karena kita hanya selisih satu poin?" tanya Raiyen.
__ADS_1
"Iya, hanya karena satu poin aku tidak bisa mendapatkan hadiahnya," ucap Adella tertawa.
Adella merasa heran, karena selama ini dia bukan tipe cewek yang mudah akrab dengan lelaki setelah kejadian menyakitkan di masa lampau. Namun dengan pemuda di depannya Adella bisa terbuka.
"Jadi kamu niat lomba karena hadiah?" tanya Raiyen penasaran.
"Tentu saja, memang apa lagi?" tanya Adella balik.
"Kalau aku supaya mendapat pengakuan dari orang lain," jawab Raiyen.
"Baiklah kalau begitu, maafkan sikap temanku ya?" ucap Adella.
"Seharusnya temanmu yang meminta maaf," jawab Raiyen ketus.
"Jangan harap, karena dia tidak akan pernah melakukannya," balas Adella menyeringai.
Adella berjalan meninggalkan Raiyen, siapa sangka pemuda itu juga berjalan di belakangnya sampai di luar Universita A.
"Kamu mengikutiku?" tanya Adella menyelidik.
"Siapa, Aku? Mana mungkin! Aku memang mau berjalan menuju halte bus," ejek Raiyen.
Adella merasa sangat malu, karena dia sudah terlalu percaya diri.
Kemudian mereka berdua berjalan beriringan bersama.
" Kamu suka buku karangan Ibnu Sina?" tanya Raiyen pada Adella yang berjalan sambil membaca buku.
"Aku punya perpustakaan kecil, di sana ada koleksi buku dari Ibnu Sina dan ilmu kedokteran lainnya yang tidak ada di perpustakaan umum," jawab Raiyen.
"Benarkah? Apa aku boleh pinjam?" tanya Adella.
"Boleh saja, kamu tinggal ke rumahku," ucap Raiyen.
"Baiklah, kalau begitu kita tukaran nomor ponsel ya? Eh, kamu juga mau masuk ke jurusan kedokteran?" tanya Adella penasaran.
Raiyen hanya menganggukkan kepalanya.
Adella langsung terkejut.
"Kenapa? Kamu takut ya karena aku jauh lebih cerdas darimu?" sindir Raiyen.
"Tidak, akan ku buktikan jika aku bisa lebih hebat darimu. Mulai hari ini kita saingan secara sehat," jawab Adella kesal.
"Baiklah, aku tunggu. Tapi jika ingin menyamai diriku, sebaiknya kamu rajin-rajin mengunjungi perpustakaanku! Karena aku sudah membaca dan memahami semuanya," kata Raiyen tersenyum puas.
"Kenapa kamu baik kepadaku? Bukankah kita ini sedang saingan?" tanya Adella heran dengan pemuda itu.
"Justru karena kita sedang saingan, aku ingin melihat sejauh mana kemampuanmu. Karena tidak adil jika aku menang karena kamu kurang fasilitas yang memadai," ucap Raiyen serius.
__ADS_1
Mereka berdua setuju dan saling bertukar nomor telepon.
Kemudian tepat di depan mereka berhenti mobil mewah warna hitam.
"Sudah berganti mobil lagi? Kenapa bisa ada orang yang bahkan tidak memiliki mobil, sedangkan orang sombong seperti dia setiap hari bisa gonta-ganti. Apa hidup ini tidak adil?" batin Adella kesal.
"Kenapa wajahmu begitu? Cepat masuk!" perintah Keenan dengan wajah ketus.
Adella langsung masuk ke mobil tunangan palsunya.
"Siapa cowok tadi?" tanya Keenan terdengar angkuh.
"Teman," jawab Adella.
"Kamu tahu statusmu kan? Aku tidak mau lagi melihat kamu bersama pemuda lain. Jangan sampai mempermalukan aku," jawab Keenan pedas.
Adella hanya diam saja.
"Dasar lelaki bermulut tajam. Baiklah, kamu bilang tidak mau melihatku bersama pemuda lain kan? Kalau begitu aku akan bersama banyak pemuda yang kaya tapi di belakangmu," gumam Adella dalam hatinya.
Keenan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, selama perjalanan keduanya hanya saling membisu.
Adella di bawa ke tempat yang kemarin, setelah berganti pakaian Adella di make up dan rambutnya di gulung ke atas seperti seorang putri.
Adella sampai tidak bisa mengenali diri sendiri saat bercermin di kaca.
"Ayolah! Jika kelamaan berkaca nanti bisa retak melihat wajah jelekmu," kata Keenan ketus.
Adella langsung mengikuti pemuda itu dari belakang.
"Dasar tukang bohong, aku rasa wajahku ini jauh lebih cantik dari calon tunanganmu kemarin itu," umpat Adella dalam hati, wajahnya merengut karena kesal.
Keenan sebenarnya ingin tertawa, tapi dia tahan karena menjaga image sebagai cowok cool.
***********************************
Soal memasak Adella tidak merasa cemas, tapi yang membuat dia kesal karena Mama Keenan terus membuntutinya saat di dapur.
"Ingat ya! Untuk sembilan orang, jangan sampai kurang. Dan harus yang enak jangan bikin malu," kata Mamanya Keenan sambil mondar-mandir di belakang Adella.
"Tante yang cantik, bisakah Anda menunggu saja di kamar sambil istirahat? Takutnya nanti suhu dapur bisa mempengaruhi kelembutan kulit Anda yang mulus ini. Tenangkan diri Tante ya! biar terus awet muda seperti ini," kata Adella lembut dan tersenyum semanis mungkin.
Adella tidak menyangka jika Mamanya Keenan yang cerewet bisa menuruti perkataanya.
Keenan yang diam-diam memperhatikan Adella dan Mamanya hanya tersenyum.
"Licik juga dia, bisa mengetahui kelemahan Mama."
Terimakasih sudah berkenan membaca karya saya. Jangan Lupa Like, Vote dan beri rating bintang 5 ya🙏 Karena dukungan dari kalaian semua sangat berarti bagi Author.
__ADS_1
Mohon kritik dan sarannya semoga Novel SCORPIO bisa berkembang lebih baik lagi🤗