
Aileen sebenarnya masih ingin lebih lama tinggal bersama keluarga sederhananya, tapi dia menyadari jika dia juga punya tanggung jawab kuliah dan bekerja. Apalagi dia juga tahu jika Deon memiliki kepentingan sendiri.
Saat pagi buta Aileen mengajak pemuda itu untuk pulang.
"Apa boleh nanti aku mengunjungi kakak di kota A?" tanya Levian berharap.
"Kamu masih kecil untuk melakukan perjalanan jauh, apalagi Ibu sedang hamil. Sebaiknya biar nanti Kak Deon dan Kak Aileen saja yang berkunjung kesini," jawab Deon sambil mengajak rambut Levian dengan gemas.
"Iya, lagi pula sekarang kamu sudah punya ponsel. Kalau rindu tinggal telepon saja," timpal Aileen.
"Siap!" jawab Levuan mantap.
Saat berpamitan pada mereka Aileen menangis, Deon ikut teriris batinnya melihat kesedihan Aileen.
"Jangan menangis! Nanti kita ke sini lagi," bujuk Deon mesra.
Aileen terharu juga, sebab Deon yang dikenalnya selalu menepati janji.
"Kalian hati-hati ya? Kabari dulu kalau mau ke sini, nanti biar kami siapkan hidangan yang lezat," ucap Ali yang matanya memerah.
Deon menjalankan mobilnya dengan pelan, pemuda itu juga merasa terkesan dengan tempat terpencil ini. Angin yang sejuk dengan suara ombak yang seperti irama senandung hatinya. Cintanya pada Aileen laksana ombak yang bergemuruh menyapu segala kesedihan dan luka dalam jiwa.
"Terima kasih," ucap Aileen.
Dia benar-benar tulus mengucapkannya, sebab kalau bukan karena pemuda di sampingnya itu dia akan kesulitan mencari ibu kandungnya. Bahkan sama sekali tidak akan bertemu.
Deon segera menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Pemuda itu beralih menatap gadisnya.
"Jangan menangis lagi, nanti orang lain mengira aku sedang menindasmu!" ucap Deon mesra sambil menghapus air mata Aileen.
"Terima kasih," kata Aileen lagi tak bisa menyembunyikan senyum kebahagiaannya di tengah matanya yang sembab.
"Aku tidak butuh ucapan terima kasih," balas Deon.
Aileen hanya membelalakkan matanya yang bulat seperti bola pimpong.
Deon tersenyum, tapi dengan cepat diraihnya kepala Aileen, dan di ciumnya bibir lembut itu.
Meskipun malu tapi Aileen tidak menolak, dia sudah terbiasa mendapatkan ciuman Deon. Justru semakin lama dia juga merindukan ciuman itu.
Deon mulai berani mencium leher dan telinga Aileen. Aileen yang baru pertama kali mendapatkan sentuhan tersebut merasa merinding. Bahkan desahannya itu membuat Deon semakin gencar membuat tanda merah di lehernya.
"Mulai sekarang kamu milikku seutuhnya!" kata Deon puas melihat tanda itu.
Dulu Aileen merasa takut, tapi kini dia justru merasa senang dan bahagia. Aileen langsung memeluk Deon.
Deon tertawa, sebab gadisnya sudah mulai berani memeluknya.
"Pokoknya tetap menjadi Aileen yang sperti ini ya! Kecuali aku jangan bersentuhan dengan lelaki lain!" pinta Deon serius.
"Tapi Kak Deon juga harus janji, tidak boleh memaksaku melakukan itu dulu," balas Aileen.
"Iya, aku tahu," jawab Deon tersenyum manis.
Deon sangat tahu jika Aileen hanya badannya saja yang terlihat dewasa, tapi pola pikirannya masih begitu polos seperti anak-anak. Namun justru itu daya tarik yang dimiliki Aileen, seolah membuat Deon ingin selalu melindungi dan menyayanginya.
πππππππππππππππ
Adella dan Saralee berangkat ke Universitas tanpa Aileen. Mereka berdua pagi ini dijemput oleh Raiyen.
"Tumbenan?" cetus Saralee.
"Papa yang nyuruh!" jawab Raiyen.
"Tapi kamu senang kan? Bisa menjemput Adella." batin Saralee.
Adella sebenarnya sangat penasaran mengenai kedekatan mereka berdua, tapi karena Saralee sudah bilang ceritanya menunggu Aileen jadi dirinya hanya diam saja.
Namun saat Adella hendak masuk ke mobil milik Raiyen, tiba-tiba datang mobil Keenan uang menghadangnya.
__ADS_1
"Kalian berangkat berdua ya? Aku di jemput Keenan," kata Adella berbalik masuk ke mobil tunangannya.
"Patah hati ya?" goda Saralee tertawa puas.
"Tidak, toh aku juga sedang bersama pacarku," balas Raiyen membelokkan mobilnya dan langsung menancap gas.
"Hey, siapa yang setuju jadi pacarmu?" tariak Saralee.
Meskipun dalam hatinya ada perasaan senang tapi dia juga memiliki harga diri yang tinggi. Tidak akan semudah itu dia di taklukkan.
"Kamu menolakpun juga percuma. Sebab tadi pagi kedua orang tua kita sudah memutuskan untuk menjodohkan kita," jawab Raiyen santai.
"Mana mungkin, Orang tuaku tidak mengatakan apapun," ucap Saralee tak percaya.
Baru saja bungkam, ponsel Saralee tiba-tiba berdering. Dan itu adalah panggilan dari Maminya.
"Nanti kita makan malam bersama keluarga Raiyen ya? Mami sudah menyiapkan gaun yang bagus untukmu," kata Maminya Saralee lewat ponsel.
Belum sempat Saralee menjawab tapi sambungan sudah terputus.
"Nanti malam jangan lupa dandan yang cantik ya?" goda Raiyen.
"Kenapa kamu tiba-tiba berubah seperti ini? Aku tahu kamu bukan tipe lelaki yang mudah goyah prinsipnya," sindir Saralee.
Sebenarnya Raiyen juga bingung sendiri, sebab pemuda itu juga bisa dengan mudah menolak perintah papanya. Apalagi selama ini dirinya sering membangkang.
"Kamu cantik dan licik, mungkin suatu saat pacar sepertimu bisa berguna untuk melawan papa," jawab Raiyen asal-asalan.
Namun Saralee menganggap omongan dari Raiyen adalah serius.
"Jadi aku hanya dijadikan sebagai alat?" batin Saralee kesal.
"Baiklah, tapi kamu harus siap-siap aku duakan, bahkan jadi yang kesepuluh," balas Saralee cemberut.
"Tidak masalah," jawab Raiyen santai.
"Benarkan? Dia hanya menganggap aku sebagai alat saja. Karena mana ada seorang pacar yang mau diduakan."
Kemudian Saralee hanya diam saja tanpa mau mengucapkan sepatah kata.
Begitu juga dengan Raiyen, pemuda misterius itu tengah termenung dalam pikirannya sendiri.
πππππππππππππππ
Adella kebingungan ketika Keenan membawanya ke arah yang berlainan dengan jalan menuju Universitas.
"Kamu mau bawa aku kemana?" protes Adella.
"Nanti juga tahu," jawab Keenan.
"Tapi aku kuliah," sergah Adella kesal.
"Kamu pagi ini tidak ada kelas," kata Keenan.
Lagi-lagi sikap angkuh dan cuek Keenan kembali seperti semula. Adella menjadi kesal dan hanya diam saja. Dia tahu jika apa yang barusan di katakan Keenan pasti benar, sebab pemuda itu memiliki pengaruh besar di Universitasnya.
Akhirnya Keenan mengajak Adella menuju pulau kecil yang dulu pernah disinggahinya.
Adella masih diam saja, tapi jauh di lubuk hatinya ada perasaan senang. Karena dia akan melihat pemandangan pantai menggunakan helikopter. Dari atas pemandangan menjadi lebih indah.
Keenan hanya menahan senyum saat mata Adella menunjukkan sikap antusias.
Saat mobil berhenti, sudah ada bawahan Keenan yang membukakan pintu.
"Apa kabar? Kita bertemu lagi?" sapa Adella tersenyum cantik.
Keenan hanya melirik tajam pada anak buahnya untuk tetap menundukkan pandangannya. Tuan Keenan itu jelas tidka suka melihat Adella menyapa lelaki lain dengan senyuman yang menggoda.
Kekesalan Keenan tidak mudah hilang, pemuda itu yang awalnya berniat mengajak Adella jalan-jalan tapi jadi malas. Begitu sampai di pulau, Adella langsung digeret menuju kamar.
__ADS_1
Adella sangat malu saat pelayan Keenan menatap mereka berdua dengan pandangan yang aneh.
"Kamu ini apa-apaan?" bentak Adella habis kesabarannya.
"Kamu yang apa-apaan! Dengan mudahnya menggoda bawahanku sendiri, tepat didepan mataku!" jawab Keenan marah.
Adella tertawa mengejek, sebab tidak di sangka jika pemuda yang angkuh itu cemburu.
"Bukankah kamu sudah tahu jika aku ini memang wanita penggoda? Aku bertahan di sisimu juga karena uang," balas Adella.
Keenan yang semakin marah ,enjadi hilang akal pikirannya.
Di dorongnya tubuh Adella, kemudian di sobeknya gaun tunangannya tersebut. Hingga kini hanya tersisa pakaian dalam saja.
"Keenan! Kamu gila," teriak Adella marah.
"Bukankah kamu sudah terbiasa melakukan ini pada banyak lelaki? Setelah ini kamu tinggal menyebutkan bayaranmu," bentak Keenan.
Adella yang awalnya ingin mempermainkan Keenan kini justru ketakutan sendiri, sebab pemuda itu terlihat sangar dan tidak main-main dengan ucapannya. Mau tidak mau Adella mengaku salah saja, karena dia masih ingin mempertahankan keperawanannya.
"Iya aku mengaku salah, tapi jangan dekati aku! Aku masih perawan, dan mantan aku hanya Arbay saja," teriak Adella beneran ketakutan.
Seketika Keenan terdiam, raut wajahnya mulai tenang.
"Benarkah? Apa kamu belum pernah melakukan hubungan badan dengan Arbay?" tanya Keenan tak percaya, tapi kali ini nadanya lebih rendah.
"Aku bersumpah! Kami pacaran hanya sebatas ciuman saja," jawab Adella sambil menyembunyikan dirinya di balik selimut.
"Kalau begitu aku lihat cek dulu," kata Keenan antusias.
"Jangan macam-macam!" teriak Adella menolak keras.
Namun Keenan tak menghiraukan Adella, pemuda itu melepas jas dan kini hanya tersisa kemejanya saja. Kemudian Keenan masuk ke dalam selimut dan memeluk erat Adella dengan erat.
"Kenapa tidak bilang sejak awal? Mungkin aku akan bersikap lebih baik padamu," bisik Keenan.
"Hey, apa maksudnya ini?" tanya Adella tidak mengerti.
"Aku kira kamu beneran perempuan gila harta yang rela menggoda para lelaki dan memuaskan mereka di ranjang," ucap Keenan.
"Aku memang gila harta, tapi aku tidak mau menyerahkan kegadisanku," jawab Adella ketus.
Apapun itu Keenan tidak peduli, sebab jika membayangkan Adella yang tidur seranjang dengan para lelaki atau mantan pacarnya membuat pemuda itu naik pitam.
"Maka jangan berani-beraninya menggoda orang lain!" ancam Keenan masih belum mau melepaskan pelukannya.
"Apa kamu beneran jatuh cinta padaku?Kenapa kamu jadi aneh seperti ini?" tanya Adella serius.
"Kedua orang tua kita sudah mengira jika kita adalah calon suami istri. Lagipula aku sudah bosan bermain dengan gadis cantik. Jadi aku akan mencoba gadis jelek sepertimu," jawab Keenan.
"Mencoba? Kalau bosan akan dibuang?" pekik Adella kesal.
"Tidak... Tidak... Sebenarnya kamu gadis yang lumayan menarik, tidak merepotkan dan mandiri. Aku suka yang seperti ini. Jadi aku akan serius padamu," ucap Keenan sambil mencium kening Adella.
Ada perasaan yang aneh dalam diri Adella, apalagi saat kulit mereka saling bersentuhan. Namun Adella yang hatinya masih terluka oleh Masa lalu belum berani membuka lembaran baru untuk Keenan.
"Aku iyakan saja deh, lagi pula saat ini aku memang sedang butuh Keenan. Tapi aku harus bisa menjaga hatiku agar tidak terluka lagi.
Tanpa di duga Keenan tertidur, Adella merasa tenang karena pemuda itu beneran tidak ngapa-ngapain dia. Adella segera bangun secara perlahan dan mengambil baju di lemari.
"Nih orang mudah sekali terlelap, sebaiknya aku jalan-jalan ke pantai saja."
Adella keluar rumah sendirian, dia merasa malas kalau harus menunggu orang yang sedang tidur.
Keenan memang merasa kelelahan karena hampir semalaman tidak tidur, pekerjaannya menumpuk sebab kemarin mengantarkan Adella pulang ke kotanya.
Selama ini Keenan adalah penggila kerja, baginya waktu hanyalah untuk mencari uang. Soal wanita dia juga tidak mau di sentuh oleh orang sembarangan, sebab pemuda itu juga gila kebersihan.
Jangan lupa Like dan Vote sebanyak-banyaknya yaaπ Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi Authorπ€
__ADS_1