
Saralee
Saralee mondar-mandir di depan rumahnya karena semenjak semalam kedua temannya itu tidak pulang ke paviliun.
Dia sangat khawatir karena ke dua temannya merupakan orang baru di kota itu, jadi mereka masih belum tahu seluk beluk daerah sekitarnya.
"Apa mereka tersesat yah? Kenapa ponsel keduanya juga tidak aktif sih? Bikin cemas saja," batin Saralee kesal sekaligus resah.
Hari ini jadwal tes praktik untuk masuk Universitas, dia takut jika Aileen sampai tidak mengikuti. Karena gadis itu dulunya tidak berniat kuliah.
Tiba-tiba ponsel miliknya berdering, segera Saralee mengangkatnya.
"Ada apa, Kak Deon?" tanya Saralee.
"Aileen berangkat ke kampus duluan," ucap Deon terdengar datar.
"Apa? Jadi semalam Aileen bersama Kakak?" tanya Saralee terkejut.
Namun sebelum pertanyaannya mendapat jawaban, sambungan telepon sudah terputus.
"Bagaimana bisa? Kak Deon bukan tipe pria yang suka menindas wanita lemah. Apa mereka sedang pendekatan? Ah tidak mungkin, karena Aileen dekat lelaki saja sudah gemetar," batin Saralee penuh tanda tanya.
Kemudian dia segera bergegas menuju halte, soal teman yang satunya lagi dia tidak begitu cemas. Karena pasti Adella dibawa Keenan.
"Tanpa mereka ternyata sepi juga, padahal selama ini aku terbiasa sendiri," keluh saralee pada dirinya sendiri.
Saat menuruni Halte, dia berbarengan dengan seseorang yang membuat mereka berdua jadi tidak bisa keluar dari pintu bus.
"Ayo cepatlah!" teriak orang-orang yang ada di belakang mereka berdua.
Saralee kesal, sikunya langsung menyodok perut orang di sampingnya lumayan keras. Dengan begitu orang itu mundur sedangkan Saralee bisa keluar duluan.
"Hey gadis psikopat!" bentak orang di belakangnya.
Saralee yang mudah marah justru tertawa lirih karena ada orang yang berani menyinggungnya. Diapun segera berbalik arah.
"Kamu!" pekik keduanya secara bersamaan.
"Dunia ini sempit sekali, bertemu denganmu aku pasti sial!" umpat pemuda itu yang tidak lain adalah Raiyen.
Saralee langsung maju beberapa langkah, senyum jahatnya menghiasi bibirnya yang sexi.
"Itu karena kelahiranmu juga merupakan kesialan," balas Saralee tajam.
Mata Raiyen langsung mengerjap, Saralee bisa melihat jika pemuda itu terlihat sangat terluka.
"Apa-apaan ini? Kenapa wajah memelasnya membuat aku bersimpati," batin Saralee kesal.
__ADS_1
Raiyen yang biasanya bersikap tenang kini berubah marah. Namun emosinya itu di tahan dan pemuda itu langsung pergi begitu saja.
Tak lama kemudian ada mobil yang berhenti di depan gerbang, Saralee mengenali mobil itu. Dia segera berlari menuju Kakak sepupunya dan temannya.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu semalam tidak pulang dan pagi ini diantar Kak Deon?" tanya Saralee cemas.
Deon tertawa, karena baru kali ini pemuda tampan itu melihat Saralee mengkhawatirkan orang lain. Selama ini sepupu Deon itu jarang punya teman karena sikapnya yang angkuh, juga waktunya banyak dihabiskan untuk berkencan.
Aileen menunduk malu, sedangkan Saralee segera beralih menatap sepupunya untuk meminta penjelasan.
"Aku ada keperluan mendesak, sebaiknya kamu bertanya pada temanmu saja," ucap Deon tersenyum tanpa rasa bersalah.
Pemuda tampan itu segera masuk ke mobil dan menghilang dari pandangan kedua gadis itu.
"Cepat jawablah! Dan di mana Adella?" tanya Saralee tak sabar.
"Adella semalam juga tidak pulang?" tanya Aileen kaget.
"Kalau dia pulang mana mungkin aku bertanya tadi" jawab Saralee dengan wajah males.
"Lebih baik kita bahas ini saat ada Adella juga yah? Sekarang kita harus fokus tes dulu," ucap Aileen serius.
"Kamu kan tadi tidak mampir ke paviliun dulu, bagaimana kamu bisa mendapatkan perlengkapan ini?" tanya Saralee penasaran.
"Ini Kak Deon yang sudah menyiapkan semuanya," jawab Aileen gugup.
Wajah Aileen langsung memerah, tapi gadis itu hanya menunduk untuk menyembunyikan wajah memerahnya.
"Jujur saja, aku baru kali ini melihat Kak Deon perhatian pada wanita," ujar Saralee riang.
"Serius? Padahal wajah Kak Deon sangat tampan," ucap Aileen terkejut.
"Apa? Sangat tampan? Nanti aku bilang ke Kak Deon ah," goda Saralee tertawa puas.
"Jangan! Aku mohon jangan lakukan itu," pekik Aileen cemas dan ketakutan.
Saralee semakin tertawa, karena Aileen sangat imut jika seperti itu.
"Aku setuju kalau Kak Deon bersamamu. Meskipun dia seorang mafia tapi sebenarnya dia berhati lembut. Jadi mulai sekarang aku ingin memanggilmu kakak ipar yah?" goda Saralee sambil berlari.
Aileen tidak bisa mengejar, karena gadis itu sedang membawa banyak barang. Jika berlari takutnya alat-alat lukisnya berjatuhan.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Adella
Adella dan Keenan duduk di pasir putih tepi pantai. Pulaunya tidak terlalu besar, tapi pemandangannya sangat indah sekali.
__ADS_1
Dari kejauhan masih bisa terlihat bangunan tinggi di kota yang Adella sendiri tidak mengetahui namanya.
"Nyaman sekali di sini. Tenang, damai dan pemandangannya membuat mata ini segar," batin Adella menikmati sepoi-sepoi semilir angin.
Keenan yang dari tadi sibuk dengan ponselnya segera memasukkan benda itu ke sakunya. Kemudian matanya tertegun melihat leher mulus Adella yang nampak jelas, karena rambut gadis itu berkibar ditiup angin.
"Kenapa aku mulai tertarik pada gadis ini? Aroma tubuhnya sangat menggoda," batin Keenan yang tak bisa mengalihkan pandangannya dari Adella.
"Ayo cepat antarkan aku ke kampus!" pinta Adella sambil berdiri.
"Kamu mau apa? Bukankah tanpa tes kamu sudah diterima?" tanya Keenan dengan nada datar.
"Aku juga harus bekerja," rengek Adella kesal.
"Kerjanya juga nanti siang kan? Sebaiknya kamu bersantai dulu di sini. Hidupmu itu terlalu kaku dan serius," sindir Keenan enteng.
"Karena kamu keturunan keluarga kaya, makanya kamu tidak akan mengerti perasaan orang seperti aku," balas Adella ketus.
"Kalau begitu ceritakanlah padaku! Biar aku bisa mengerti perasaanmu," jawab Keenan.
Adella terkejut, bahkan dia sampai berbalik arah dan menatap Keenan dengan pandangan seolah tak percaya.
"Apa kamu serius? Sejak kapan kamu jadi peduli padaku?" ejek Adella sambil duduk kembali di hadapan Keenan.
"Karena kamu adalah tunanganku! Setidaknya aku tidak ingin ada orang yang berbicara buruk tentang aku karena membiarkan tunanganku susah," jawab Keenan ketus.
Adella segera memalingkan wajahnya kembali ke arah lautan.
"Ujung-ujungnya juga demi nama baik dirinya sendiri," batin Adella kesal.
"Adella, apa kamu masih mencintai mantan pacarmu?" tanya Keenan penasaran.
"Bukan urusanmu!" jawab Adella ketus.
Keenan langsung menarik pundak Adella ke belakang, dan menyandarkan tubuh gadis tersebut kepangkuannya.
"Heh, apa yang kamu lakukan?" bentak Adella marah. Namun saat baru berusaha bangkit tubuhnya di tahan tangan kekar pemuda itu.
Keenan sangat berhasrat dengan bibir Adella yang sexi. Raut wajah Adella membuat dia terlihat lebih menarik. Keenan langsung mencium bibir itu penuh nafsu.
Adella terkejut dan mencoba mendorong dada Keenan dengan kasar. Tapi Keenan rupanya sangat ketagihan dan menikmatinya.
"Hukuman karena kamu sudah berani berbicara lancang padaku. Ingat! Aku adalah majikanmu," ancam Keenan tersenyum puas.
**Jangan lupa Like dan Vote ya🙏 Karena dukungan dari kalian membuat Author lebih semangat.
Bagi yang suka Novel romantis bikin mewek dan baper langsung saja baca CINTA YANG TERPKSA**
__ADS_1