
Hari pertama kerja memberi kesan yang mendalam bagi Adella dan Ailen, kerena mereka berdua belum terlalu tahu dengan letak posisi masing-masing barang.
Besok adalah tes praktek, sehingga banyak pengunjung dari para mahasiswa dan mahasiswi yang membeli bahan-bahan.
"Maaf, letak kuas yang paling kecil di mana ya? Dari tadi saya cari tidak ada," tanya seorang pembeli pada Aileen.
Aileen mencoba mencari, tapi dia juga tidak menemukannya. Ingin bertanya pada Adella tapi temannya itu juga sedang sibuk melayani pembeli si kasir yang antriannya padat.
"Sebentar ya, saya tanyakan pada pemilik toko dulu. Karena saya juga baru di sini jadi masih belum paham juga," ucap Aileen pada pembeli tersebut.
Bu Merlyn sedang mengobrol Dengan Deon di ruang pribadinya.
Aileen memberanikan diri untuk masuk karena takut mengecewakan pembeli yang tadi.
"Permisi, Bu. Tadi ada pembeli yang menanyakan letak kuas ukuran paling kecil, tapi saya tidak tahu," ucap Aileen malu bercampur takut.
"Ada di rak yang paling atas, kamu harus pakai tangga lipat supaya sampai," jawab Bu Merlyn ramah.
"Bu Merlyn, sepertinya toko anda hari ini membludak. Bagaimana kalau saya membantu untuk melayani toko? Mumpung saya sedang tidak ada kerjaan," ucap Deon pada Bu Merlyn.
"Dengan senang hati, karena hari ini Ibu tidak enak badannya. Jadi juga tidak bisa membantu para karyawan," jawab Bu Merlyn tersenyum senang.
Aileen gemetar sendiri melihat Deon yang mengikutinya dari belakang.
"Kenapa kamu takut padaku? Apa karena merasa bersalah?" tanya Deon menggoda.
"Maaf, tadi aku tidak sengaja mengurung Anda di kamar mandi," jawab Aileen gugup.
"Ha, lucu sekali! Bilang tidak sengaja tapi masih ingat dengan jelas," sindir Deon tersenyum licik.
"Maafkan saya, Kak Deon," ucap Aileen sambil membungkukkan badannya sekali kemudian berlalu pergi.
Aileen segera mengambil tangga lipat, karena pembeli yang minta tolong tadi masih menunggu di tempat semula.
"Maaf ya lama," ucap Aileen.
"Tidak apa-apa," jawab pembeli itu yang umurnya mungkin sama dengan Aileen.
Saat Aileen ingin naik tapi tubuhnya langsung dicegah oleh Deon.
"Kamu perempuan, sebaiknya aku saja yang naik," ucap Deon lembut.
Aileen hanya bisa patuh karena merasa gugup saat lengannya barusan di sentuh Deon.
Deon menyukai reaksi Aileen yang seketika gelagapan saat di sentuh.
"Gadis ini menarik sekali, membuat aku semakin ingin menggodanya," batin Deon.
"Kenapa Kak Deon masih begitu baik? Padahal tadi pagi aku sudah membuat kesalahan besar padanya," batin Aileen.
__ADS_1
"Ini, apakah ada hal lain yang kamu butuhkan?" tanya Deon pada pembeli tersebut.
"Tidak, terima kasih," ucap pembeli itu senang karena terpana oleh ketampanan Deon.
Deon sangat sigap, pemuda tampan tersebut meringankan pekerjaan Aileen yang masih butuh beradaptasi.
Sampai tutup toko, Deon masih berada di sana.
"Terima kasih, Nak Deon. Karena kamu selalu menolong Ibu," ucap Bu Merlin terharu.
"Sejak aku kuliah dulu Ibu Merlyn juga selalu baik padaku, bahkan setiap hari mengirimkan masakan yang lezat itu," jawab Deon.
"Ibu sudah menganggap kamu seperti anak sendiri, lain kali kalau sedang tidak sibuk mampirlah ke sini ya! Ibu selalu menantikan kehadiranmu," tutur Bu Merlyn, kemudian beliau segera naik ke mobil jemputan.
Kini di depan toko yang lumayan besar itu tinggal tiga orang, yaitu Aileen, Adella dan Deon.
Beberapa detik kemudian datang mobil mewah berwarna merah, pemuda yang sedang ada di dalamnya tak lain adalah Keenan.
"Keenan, lama tak jumpa," sapa Deon.
"Yo! Tak ku sangka bisa bertemu Bos Mafia di sini. Kapan pulang?" tanya Keenan ramah.
"Baru semalam, sepertinya sekarang kamu sudah menjadi Bos besar," ucap Deon.
"Sebenarnya aku masih mau bermain-main, tapi karena aku anak tunggal jadi di paksa orang tuaku," jawab Keenan tersenyum senang.
"Ada urusan apa kamu ke sini?" tanya Deon penasaran.
"Menjemput tunanganku," jawab Keenan santai sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Yang mana?" tanya Deon cemas.
"Adella," jawab Keenan singkat.
Deon tersenyum lega, karena bukan Aileen yang di maksud temannya itu.
"Wah! Kepulanganku kali ini mendapat berita besar, bagaimana kalau kita merayakannya," ajak Deon bersemangat.
"Ide bagus," jawab Keenan.
"Aileen, kamu tidak mau menjadi orang ketiga di antara sahabatmu dan tunangannya kan?" tanya Deon beralih pada Aileen.
"Apa?" pekik Aileen yang merasa kaget.
"Tidak apa-apa, Kak Deon. Biarlah Aileen ikut bersama saya," sela Adella yang bisa menebak isi hati sahabatnya itu.
"Biarlah Aileen ikut bersama Deon saja, kasihan dia kalau jadi obat nyamuk," sergah Keenan membela Deon.
Aileen dan Adella bisa merasakan jika di antara keduanya ada suatu kesepakatan. Tapi mereka hanya sekedar mengira, karena kedua pemuda itu baru saja bertemu, jadi belum sempat mengobrol sebelumnya.
__ADS_1
Adella terpaksa melepas sahabatnya, karena gadis tomboi itu juga tidak berani membantah perintah Keenan.
Dengan terpaksa Aileen masuk ke mobil Deon.
"Duduk depan! Aku tidak mau seperti sopir taxi," tegur Deon.
Aileen yang baru memegang gagang pintu mobil belakang langsung mengurungkan niatnya, kemudian dia berpindah ke pintu depan.
Di perjalanan Aileen hanya diam, dia tidak tahu apa yang harus dikatakan.
"Kata Saralee kamu datang ke kota ini untuk mencari ibumu?" tanya Deon memulai percakapan.
"Iya," jawab Aileen singkat.
"Apa kamu sudah mendapat petunjuk?" tanya Deon lagi.
Aileen hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Deon sangat gemas, karena gadis di depannya sangat pemalu dan penakut.
"Aku adalah Bos Mafia. Wilayah kota ini ada di bawah kendaliku, aku bisa menemukan siapapun sekalipun itu semut yang bersembunyi di dalam lubang tanah," kata Deon santai.
"Benarkah? Bisakah Anda membantuku?" tanya Aileen yang berubah cerah.
"Di dunia ini tidak ada yang gratis, kamu bisa memberikan apa padaku?" ucap Deon balik bertanya.
"Uang, kamu butuh uang berapa?" tanya Aileen semangat karena menemukan setitik harapan.
Deon tertawa lirih mendengan jawaban Aileen barusan.
"Aku sudah kaya, hartaku berlimpah dan aku tidak butuh uang dari gadis kecil sepertimu," ejek Deon.
"Lalu apa?" tanya Aileen keheranan.
"Jadilah kekasihku, maka aku akan menemukan ibumu tak lebih dari dua Minggu," jawab Deon serius.
"Kekasih? Tapi selama ini aku tidak pernah pacaran dan aku tidak tahu harus bagaimana?" pekik Aileen yang merasa gelisah.
"Gadis ini benar-benar polos. Aku sungguh menikmati kepolosan ini," batin Deon.
"Kamu hanya perlu melakukan kewajibanmu sebagai kekasih yang baik, seperti saat aku rindu padamu kamu harus menemuiku. Saat aku berhasrat kamu menciumku. Dan ketika aku kedinginan kamu bersedia memelukku atau menemaniku tidur," jawab Deon terkekeh.
"Tidak, aku tidak mau! Aku bisa berusaha sendiri," jawab Aileen tegas.
"Tapi aku yakin suatu saat nanti kamu akan datang mencariku," sindir Deon teraenyum puas.
Terima kasih sudah berkenan membaca karya saya. Jangan lupa Like dan Vote ya🙏 Karena dukungan dari kalian semua sangat berarti bagi Author.
Mohon kritik dan sarannya juga, semoga Novel SCORPIO bisa berkembang lebih baik🤗
__ADS_1