
Malam ini Saralee tidak bisa tidur, sebab belum mendapat kabar mengenai kakak sepupunya yang hendak membawa Aileen kabur. Di tambah Adella yang belum pulang juga karena nyeri datang bulan. Saralee sudah tidak kaget, karena setiap kali Adella mau datang bulan memang selalu seperti itu.
Tapi dalam hatinya juga ada rasa kekawatiran juga.
"Apa aku ke pulau Keenan saja ya?" batin Saralee.
Diapun nekat mengambil jaket dan tas kemudian bersiap - siap untuk turun ke lantai bawah, tapi beberapa detik kemudian ponselnya berdering. Dengan sigap Saralee segera mengangkatnya.
"Saralee, kamu sedang apa?" tanya Raiyen dari seberang.
"Aku sedang mau ke pulau milik Keenan, Adella sakit dan aku tidak tenang kalau di rumah sendirian," jawab Saralee jujur.
"Bagaimana kalau aku temani?" saran Raiyen bersemangat.
"Temani apa?" tanya Saralee kurang paham.
"Ya menemanimu untuk ke pulau Keenan. Lagipula mana mungkin aku membiarkan kekasihku bepergian malam - malam seorang diri," jawab Raiyen.
"Yakin karena tidak ada niat lain?" goda Saralee.
"Niat apa?" tanya Raiyen tidak mengerti.
"Yah… Mau melihat mantan seseorang yang pernah dikagumi," sindir Saralee.
"Eh… Kamu nanti harus aku hukum. Jujur saja aku malah tidak kepikiran sampai disitu," sergah Raiyen.
"Kalau begitu aku tunggu hukumanmu itu," balas Saralee dengan nada yang merayu.
"Baik, aku segera meluncur kesitu," jawab Raiyen bersemangat.
Saralee tertawa, setelah itu sambungan terputus. Sungguh bahagianya jika memiliki pasangan yang benar - benar dicintai. Dan begitu juga sebaliknya, sang kekasih memperlakukan dengan segenap hati.
Akan tetapi setelah Saralee menunggu lama di depan rumah, Raiyen yang sedang dinanti - nantikannya tidak kunjung juga datang. Padahal biasanya hanya butuh 30 menit, tapi sudah hampir satu jam tidak terlihat membuat Saralee sangat cemas dan khawatir.
Saralee mencoba menelpon, tetapi yang mengangkat justru suara perempuan.
"Hallo… "
Saralee terkejut, hatinya seakan panas karena mengira jika kekasihnya sedang bersama perempuan lain.
"Kamu siapa? Dan kenapa yang mengangkat telepon tunanganku adalah kamu?" bentak Saralee.
__ADS_1
"Oh, Anda kekasih tuan ini ya. Saya seorang perawat, dan kekasih Anda sekarang sedang koma di rumah sakit Maria," jawab perawat rumah sakit dengan nada sabar.
Seperti tersambar petir, Saralee menjatuhkan ponselnya sendiri. Lututnya tiba - tiba lemas dan dia hampir saja hilang kesadaran. Tapi dalam pikirannya teringat keadaan Raiyen sehingga Saralee memaksakan diri untuk menguatkan diri sendiri dan beranjak pergi menuju rumah sakit.
Tapi karena kepala Saralee terasa berat dia menyetir secara perlahan.
"Jangan sampai aku ceroboh dan kecelakaan, karena jika aku sakit nanti siapa yang akan merawat Raiyen? Adiknya yang centil itu? Cuih… Mana rela aku memberikan kesempatan padanya," gumam Saralee.
Saralee tak lupa juga memberikan kabar pada Adella dan Deon, agar nanti jika mereka kembali ke paviliun tidak kebingungan saat dia di rumah sakit.
Setelah melewati perjalanan yang cukup melelahkan Saralee segera menuju ke ruangan Raiyen, begitu melihat sang kekasih terbujur tak berdaya membuat dia menangis tersedu - sedu. Padahal tadi dia sudah menguatkan hati untuk bersikap tegar. Namun, kenyataan ini lebih pedih dari apa yang tadi dibayangkannya.
"Dok, butuh waktu berapa lama agar Raiyen bisa sadar?" tanya Saralee merengek.
"Kita berdo'a saja, semoga nanti ada keajaiban. Dan kami sudah mencoba sebaik mungkin," jawab dokter tersebut tersenyum memberi dukungan.
Karena keadaan Raiyen yang begitu parah sehingga tidak membebaskan para pengunjung untuk masuk. Jadi Saralee hanya bisa duduk di depan ruangan dengan mata sudah memerah.
Tiba - tiba ada telepon dari papanya Raiyen, Saralee segera mengangkatnya.
"Om… Raiyen Om…" rintih Saralee tak bertenaga lagi untuk melanjutkan ucapannya.
"Sabar nak, om sudah tahu. Besok sore Om sampai di situ, kamu jaga Raiyen baik - baik ya?" pinta papanya Raiyen tak kalah bersedih.
Malam ini Saralee seorang diri menunggu Raiyen, sebab orang tuanya baru bisa datang besok paginya.
Saralee tidak menghiraukan rasa dingin dan lapar, dia hanya duduk di kursi dengan tatapan kosong. Dia tidak bisa rela jika Raiyen pergi untuk selamanya. Andaikan itu terjadi Saralee juga lebih memilih bunuh diri dari pada hidup seperti mayat tanpa nyawa.
************************************
Adella merasa kehausan, dia terbangun dan melihat ke jam dan waktu masih menunjukkan pukul dua malam. Sebenarnya perutnya sudah baikan tapi Keenan yang berlebihan agar bisa menahannya untuk tetap tidur di rumah Keenan.
Adella iseng membuka ponsel, begitu ada tanda pesan dengan segera dibacanya.
"Ya ampun, Raiyen kecelakaan," pekik Adella.
Keenan yang tengah tertidur mau tak mau juga terbangun begitu mendengar suara Adella yang mengatakan kecelakaan dengan suara tinggi.
"Siapa yang kecelakaan?" tanya
Keenan masih mengantuk.
__ADS_1
"Raiyen," jawab Adella.
"Oh, pemuda yang pernah mengejarmu itu?" balas Keenan cuek.
"Enak saja, dia pacarnya Saralee," jawab Adella ketus dan berlari ke kamar mandi untuk cuci muka biar segar.
Setelah itu Adella berlari keluar dari kamar. Keenan dengan rasa agak kesal segera menyusul.
" Kamu mau kemana?" tanya Keenan menahan amarah.
"Ke rumah sakit, Saralee seorang diri di sana. Pasti dia sekarang sedang terpuruk," jawab Adella terburu - buru.
Keenan hanya membuntuti langkah Adella yang ke dapur, mengambil roti tawar dan selai. Kemudian sambil membakar roti Adella juga menyiapkan minuman yang sengaja di taruh di tempat penghangat.
"Adella, apa kamu lapar?" tanya Keenan semakin tak mengerti.
"Kalau kamu mengantuk tidurlah, biar aku di antar oleh sopir kamu," bujuk Adella setelah selesai dengan semuanya.
"Tidak, aku akan mengantarmu, tunggu aku di sini," sergah Keenan berlari ke kamarnya untuk mengambil baju hangat dan kunci mobil.
Tak lama kemudian Keenan sudah turun dengan membawa dia mantel hangat untuk Adella juga.
"Ayo," ucap Keenan.
Adella tahu seberapa besar sahabatnya itu mencintai Raiyen. Pasti akan menjadi pukulan berat.
"Keenan, lain kali kalau kamu menyetir mobil jangan ngebut ya?" pinta Adella merasa gelisah.
"Kenapa? Kamu khawatir kalau aku kenapa - napa?" tanya Keenan bahagia.
Adella diam saja, hatinya memang merasa teramat sedih andaikan apa yang dialami oleh Saralee menimpa padanya.
Keenan langsung memeluk dan mencium lembut bibir Adella.
"Aku akan selalu berusaha menjaga diri baik - baik, apalagi sebentar lagi kita akan menikah," ucap Keenan mesra.
"Ini bukan waktunya untuk kita seperti ini, ayo segera berangkat," sergah Adella mendorong dada Keenan karena malu dan kesal.
Keenan hanya tersenyum, yah… dalam hidupnya hanya Adella satu - satunya yang berani melakukan seperti itu. Jika wanita lain pasti sudah mengemis untuk mendapatkan perhatiannya.
Tetapi sikap Adella yang kadang cuek, dan malu - malu mengungkapkan perasaannya itu justru memberikan kesan tersendiri. Keenan sangat keranjingan menggoda Adella dan selalu ingin mengganggunya.
__ADS_1
Jangan Lupa Like dan Vote ya, terima kasih🥰🥰🥰