
Aileen berlari sekencang mungkin menghindari pemuda yang memiliki postur tinggi besar seperti moster. Dengan wajah yang angker dan taring yang runcing semakin membuat Aileen ketakutan.
‘’Harum sekali darahmu, cantik. Aku jadi semakin tidak sabar untuk mencicipinya.
Aileen berjalan sekuat tenaga, akan tetapi kakinya terasa berat sekali untuk di gerakkan. Sedangkan jarak pemuda yang menakutkan itu sudah semakin dekat.
‘’Tidak… Tidak… Jangan hisap darahku,’’ teriak Aileen sekeras mungkin.
‘’Aileen… Aileen… Bangunlah!’’ kata Deon panik sembari menepuk – nepuk pipi dan bahu sang kekasih.
Mendengar suara Deon Aileen segera membuka mata, begitu di lihatnya wajah yang tampan penuh kasih itu dengan reflek Aileen langsung bangun dan memeluk erat.
‘’Aku takut…. Aku takut bertemu kakakmu besok. Aku tidak mau di hisap darahnya, apalagi aku sedang hamil,’’ rengek Aileen menangis tersedu – sedu.
Deon kaget lalu tersenyum ramah seperti seorang ayah yang sedang membujuk putrinya.
‘’Siapa yang mau menghisap darahmu? Kakakku itu manusia normal bukan vampire. Memangnya siapa yang bilang padamu jika kakakku suka mengisap darah?’’ tanya Deon penasaran.
‘’Kak Keenan,’’ jawab Aileen masih belum mau melepaskan pelukannya.
‘’Astaga… Dan kamu mempercayainya?’’ Tawa Deon tak habis pikir dengan kepolosan calon istrinya.
‘’Jadi aku baik – baik saja kan besok? Maksudku tidak aka nada yang menjahati aku?’’ tanya Aileen memastikan.
‘’Iya, karena aku akan selalu melindungimu. Bahkan nyamuk saja aku pastikan tidk akan berani menggigitmu. Ayo sekarang tidur, ini sudah sangat larut malam,’’ bujuk Deon menidurkan Aileen sambil memeluk erat dan menciumi keningnya berkali – kali.
Sikap Deon yang perhatian dan manis membuat Aileen dalam sekejab sudah tertidur nyenyak. Dan kali ini Aileen tersenyum seperti sedang mimpi indah.
Setelah yakin jika Aileen tertidur Deon baru memejamkan matanya, akan tetapi dia masih ingin tertawa antara kesal dan lucu karena Keenan berani – beraninya mengerjai Aileen yang jelas – jelas penakut.
******************************************************************
Siang harinya Aileen dan Deon bangun kesiangan, tiba – tiba ponsel miliknya berdering. Tak berapa lama kemudian Deon mengajak Aileen mandi dan berganti baju secara terburu – buru.
‘’Kak Deon,, bukankah acaranya nanti malam?’’ tanya Aileen heran.
‘’Tadi kakak menelpon jika malam ini dia harus pergi ke luar negeri, makanya acara makan bersamanya siang ini. Ayo kamu buruan,’’ jawab Deon.
Aileen semakin setelah mereka berdua menuruni helicopter akan tetapi sudah banyak anak buah yang siap mengikuti.
‘’Kak Deon, bukankah kita ini hanya akan makan siang biasa? Kenapa harus membawa pengawal sebanyak ini?’’ tanya Aileen panik.
‘’Segala kemungkinan bisa terjadi, nanti bisa saja papa kamu menghadang di tengah jalan untuk membawamu pergi lagi dariku,’’ jawab Deon yang sudah menyiapkan sejuta alasan.
__ADS_1
‘’Oh,’’ jawab Aileen mulai lega.
Cukupp lama juga mobil yang di tumpangi Aileen dan Deon menuju ke tempat makan yang sudah di janjikan. Sesampainya di sana Deon lebih heran lagi karena restoran itu tampak sepi.
Beberapa detik kemudian Saidon keluar seorang diri menyambut sang adik beserta calon adik ipar.
‘’Deon… Kita ini hanya ingin makan, kenapa harus membawa pasukan? Tapi sayangnya restoran yang mewah ini sudah aku pesan khusus hanya untuk kita bertiga. Jadi anak buah temanmu itu nanti tetap di larang masuk,’’ kata Saidon santai lalu masuk duluan.
Deon melongo jika kakak angkatnya sudah tahu rencananya, padahal anak buah Keenan masih bersembunyi jauh dan niatnya nanti akan masuk sebagai pelanggan biasa. Deon langsung memberi perintah pada anka buah Keenan untuk jangan bergerak sebelum di kabari, Deon tidak ingin dipermalukan oleh kakaknya sendiri.
‘’Bagaimana?’’ tanya Aileen masih membekas mimpi semalam.
‘’Tenanglah , ada aku. Ayo kita masuk,’’ ajak Deon mencoba tenang.
Di dalam sudah tersaji berbagai makanan mewah, Aileen mulai mengamati wajah kakaknya Deon. Jika di banding dengan mimpi semalam tentu saja sangat berbeda, wajah Saidon tampan, akan tetapi tetap saja masih lebih tampan Deon.
‘’Jadi kamu yang Namanya Aileen?’’ tanya Saidon fokus menatap sumpitnya.
‘’Iya, Kakak,’’ jawab Aileen gugup.
‘’Kenapa kamu terlihat ketakutan seperti itu? Aku tidak akan memakanmu,’’ tanya Saidon setengah tertawa.
Aileen mencoba ikut tersenyum, akan tetapi rasa takutnya masih belum bisa disembunyikan.
‘’Kak Deon, aku ke toilet sebentar,’’ pamit Aileen ingin menghilangkan debaran hatinya yang ketakutan setengah mati itu.
‘’Tidak perlu, aku hanya sebentar saja,’’ tolak Aileen lembut.
Setelah Aileen menghilang dari tempat itu Saidon tidak tahan untuk segera mengomentarinya.
‘’Deon, apa aku terlihat menyeramkan? Padahal aku sudah berusaha sebaik mungkin untuk bersikap ramah,’’ tanya Saidon heran.
‘’ Dia memang begitu kakak, anaknya sangat penakut sekali dengan orang asing. Dulu terhadapku saja dia takut sekali untuk menatap mataku secara langsung,’’ jawab Deon mulai cair suasananya.
‘’Dia itu berbeda sekali dengan Fernand, sangat tidak cocok menjadi putrinya,’’ balas Saidon tertawa.
‘’Mungkin dia menuruni gen ibu kandungnya,’’ sela Deon.
‘’Yah… Jika di ingat – ingat Aileen itu sama lembutnya dengan ibu kita. Hanya bedanya jika ibu masih memiliki keberanian untuk memegang pistol,’’ ucap Saidon menjadi pilu.
Deon ikut merenung mengenang ibu dan ayahnya yang sudah lama meninggal.
‘’Kak, makanya aku ingin keluar dari dunia hitam ini. Aku ingin memberikan kehidupan yang nyaman untuk Aileen. Kakak bisa melihat sendiri kan Aileen ini tipe gadis macam apa?’’ rengek Deon setengah memohon.
__ADS_1
‘’Konyol! Kamu ini satu – satunya pewaris ayah,’’ sergah Saidon mulai berubah wajahnya.
‘’Kenapa aku satu – satunya? Kakak juga putra ayah dan ibu, sejak kecil aku selalu menganggap kamu adalah kakak kandung. Tidak ada jarak di antara kita, lagi pula selama ini kakaklah yang mengurus juga kakak yang lebih
cocok berada di posisi tersebut. Kakak juga paham bagaimana aku yang dari kecil tidak pernah minat dengan hal begituan,’’ bujuk Deon.
Saidon menghirup napas dalam – dalam,dari raut wajah sang adik memang tampak kesungguhan.
‘’Deon, kamu tahu kan jika banyak sekali yang menginginkan posisimu?’’ tanya Saidon lagi.
‘’Kakak, itu hidup yang mereka inginkan tapi bukan yang aku inginkan. Kalau kakak tidak mau posisi itu sebaiknya kita bubarkan sajam,’’ kata Deon seerius.
‘’Bodoh, itu adalah perjuangan ayah selama ini. Mana bias kita seperti itu,’’ sergah Saidon kesal.
‘’Makanya kakak sebagai putra pertamalah yang wajib melestarikannya, karena aku adalah adik kecil jadi selamanya kakak wajib melindungiku,’’ bujuk Deon tersenyum manis.
‘’Senyummu itu, menyebalkan sekali seperti ibu kalau mau minta apa – apa tidak ada yang sanggup menolak,’’ balas Saidon tak mampu menahan senyumnya.
‘’Nah, gitu dong kak,’’ jawab Deon lega dan merasa terbebas dari beban berat yang selama ini dipikulnya.
Tiba – tiba Aileen datang dengan raut wajah yang tampak lebih tenang.
‘’Aileen, ayo segera makan. Setelah ini aku juga akan segera pergi,’’ kata Saidon ramah.
‘’Iya, kak,’’ jawab Aileen patuh dang langsung makan.
‘’Oh ya, kapan kalian menikah?’’ tanya Saidon penasaran.
‘’Sekitar satu bulan lagi, kak,’’ jawab Deon.
‘’Semoga saja kakak bisa menghadiri acara pernikahan kalian, tapi jika tidak bisa harap kalian maklumi,’’ kata Saidon sungguh – sungguh.
‘’ Iya, kakak. Restu kakak adalah hadiah yang terbaik dan yang sangat aku harapkan,’’ jawab Deon.
‘’Mana mungkin dipernikahan kalian aku hanya memberikan doa saja, ini aku sudah menyiapkan hadiahnya,’’ balas Saidon memberikan kartu debit yang isinya banyak sekali.
‘’Aileen, terimalah!’’ perintah Deon.
Dengan ragu – ragu Aileen mengulurkan tangan dan meraihnya.
‘’Aku tahu kamu bukan tipe gadis pecinta harta, akantetapi aku sengaja memberikan hadiah itu agar kelak hidup kalin bisa mudah. Jujur saja aku mencemaskanmu karena Deon sangat tidak berguna,’’ canda Saidon.
Aileen hanya tersenyum, sedangkan Deon tidak perlu cemas karena dia tahu jika di mata Aileen dirinya adalah lelaki terhebat yang selalu bisa di andalkan.
__ADS_1
''Deon, sebaiknya kamu suruh semua pengawal yang kamu bawa untuk ikut makan disini, sayang sekali karena aku sudah memesan restoran ini sampai nanti malam,'' perintah Saidon dengan expresi datar.
'' iya,,,'' jawab Deon malu karena kecurigaaanya sudah tercium oleh sang kakak.