
Setelah pernikahan usai Adella dan keluarganya langsung di ajak oleh Keenan ke rumah pribadi yang terletak di pusat kota.
Bagi Adella yang sudah terbiasa kesitu sudah tidak kaget lagi, akan tetapi keluarga Adella merasa takjub sebab rumah menantunya seperti istana.
"Rumah Kak Keenan indah sekali," ucap Kia sampai tidak berkedip.
"Seperti emas," balas Dicky.
Keenan hanya tertawa dengan kepolosan adik - adik istrinya.
"Nah, kalian bisa istirahat di kamar masing - masing ya?" ucap Keenan ramah.
Para pelayan segera membimbing kedua adik Adella menuju kamar tamu.
"Nak Keenan, kenapa orang tua kamu tidak ada?" tanya Melia penasaran.
"Papa dan mama di rumah mereka sendiri, Bu," jawab Keenan tersenyum ramah.
Adella hanya melirik saja, sebab wajah suaminya yang pernah dia temui pertama kali dulu tidak pernah tersenyum ataupun bersikap ramah.
"Jadi rumah sebesar ini dulunya ditempati kamu sendiri?" sela WAN kaget.
"Dulu rumah ini malah jarang di tempati, Ayah. Karena aku lebih suka tinggal di kastil yang berada di pulau kecil, di sana lebih sejuk dan nyaman jauh dari kebisingan kota," jawab Keenan.
"Wah... " gumam Melia dan Wan tajub memiliki menantu yang sangat kaya raya.
"Ibu dan Ayah sebaiknya istirahat saja dulu karena ini sudah larut malam, nanti akan ada pelayan yang selalu siap melayani. Ayah dan Ibu butuh apa saja tinggal bilang," pinta Keenan sopan.
"Baiklah, kalau begitu kami ke kamar dulu ya?" ucap Wan dan Melia hampir bersamaan.
"Iya, selamat beristirahat Ayah, Ibu," balas Adella.
Hanya sekali lirikan saja para pelayan sudah tahu jika mereka di suruh melayani orang tua Adella dan mengantarkan ke ruangan yang sudah di siapkan.
"Istriku, mari kita mandi dan..." bisik Keenan tepat di telinga Adella.
"Dan apa?" tanya Adella melirik.
"Dan melakukan sesuatu yang seharusnya di lakukan oleh pengantin baru," jawab Keenan santai.
Adella menjadi panas dingin, karena pada akhirnya saat - saat seperti ini tiba juga.
__ADS_1
Keenan membimbing sang istri untuk ke kamar mandi, niatnya mau mandi berdua. Akan tetapi Adella menolak dengan tegas.
"Aku mau mandi sendiri, aku tidak terbiasa mandi bersama orang lain," tolak Adella.
"Mulai sekarang kamu harus terbiasa," bujuk Keenan.
"Ku mohon malam ini aku mau mandi sendiri dulu," pinta Adella sudah langsung berlari ke kamar mandi dan mengunci dari dalam.
Keenan hanya tertawa, tetapi sebagai tuan rumah dia tidak kehabisan akal.
"Aku mandi di kamar sebelah ah, jadi kita bisa selesai secara bersamaan," batin Keenan sudah memikirkan hal - hal berbau mesum.
Mungkin karena terlalu bersemangat, sehingga Keenan mandi dengan waktu yang singkat. Kebalikan dengan Adella yang memang sengaja di perlambat.
Keenan kesal juga sudah menunggu lama akan tetapi istrinya tidak keluar juga.
"Istriku, kenapa kamu lama sekali?" tegur Keenan tak sabar.
"Iya, ini aku sudah selesai," jawab Adella gugup.
Sebenarnya Adella juga sudah selesai dari tadi, tapi jantungnya terus berdetak kencang dan rasa cemas sekaligus malu bercampur aduk.
Begitu pintu terbuka Keenan langsung menarik tangan Adella.
"Aku... Aku... " jawab Adella terbata - bata.
Keenan semakin gemas di buat oleh Adella yang tengah gelisah salah tingkah itu.
"Sudah... Sini aku hangatkan dulu," timpal Keenan menarik tubuh Adella ke ranjang.
Adella yang masih mengenakan handuk bisa dengan mudah di lepaskan oleh Keenan. Pemuda tersebut dengan sekejab langsung terpukau oleh keindahan yang berada di hadapannya.
Adella menjerit malu, dia bersembunyi di balik selimut tanpa sehelai pakaian.
Dengan oenuh semangat Keenan juga ikut masuk ke dalam selimut. Sungguh kenyal dan halus kulit Adella, juga wangi yang khas membuat Keenan semakin bergejolak.
"Malam ini kamu akan menjadi milikku seutuhnya," bisik Keenan sambil melepaskan handuk kimononya.
Keenan mulai mencium bibir Adella, kedua tangannya menyelusup ke sela - sela jemari sang istri. Kakinya juga menggesek - gesekkan ke kaki Adella sehingga kini kehangatan mulai menjalar ke tubuh sepasang pengantin baru itu.
Saat dada Keenan menekan ke dadanya, Adella juga bisa merasakan debaran yang di rasakan oleh Keenan.
__ADS_1
"Ternyata bukan hanya aku saja yang berdebar," batin Adella tersenyum.
"Kenapa?" tanya Keenan.
"Tidak apa - apa," jawab Adella malu - malu.
"Kamu gugup?" bisik Keenan lagi.
"Seharusnya tanpa kamu tanyakan kamu juga sudah tahu," balas Adella semakin malu.
"Tenang saja, kita nikmati malam ini pelan - pelan. Aku akan lembut padamu," bisik Keenan lembut sambil mencium bibir istrinya lagi.
Adella yang juga sudah mulai merasakan sensasi nikmat tidak tinggal diam saja, dia membalas ciuman serta pelukan yang membuat Keenan semakin bergairah.
Dengan nakalnya Keenan mulai mencium ke leher dan terus turun ke bawah. Saat berada di dua bukit indah itu Keenan mengulum salah satunya secara bergantian.
Adella bergelonjak... kenikmatan demi kenikmatan terus bertambah sampai membuat gadis itu hilang kendali.
Adella mendorong tubuh Keenan dan gantian melakuma hal yang sama, Keenan sampai mengerang karena tangan mungil Adella juga berkelana ke bagian tubuh yang paling sensitif.
"Hei.. Kenapa kamu sudah sangat berpengalaman sekali?" tanya Keenan tersenyum puas.
"Bukankah kamu sendiri yang mengajari?" Balas Adella.
Adella dan Keenan memang belum pernah melakukan hubungan seperti layaknya suami istri, akan tetapi Keenan sering sekali mengerjai Adella dan memainkan organ intimnya sampai membuat Adella mencapai puncak kenikmatan.
"Aku tak tahan lagi..." kata Keenan sudah sangat tegang.
Keenan membalikkan tubuh Adella lagi dan giliran sekarang berada di atas tubuh sang istri.
"Tahan ya... Awalnya memang sakit, tapi nanti enak," ucap Keenan lembut.
Adella hanya memejamkan mata, sampai sesuatu yang keras memaksa masuk ke tubuhnya yang masih sempit dan belum pernah di jamah.
"Ah... Sakit... " rintih Adella berkeringat.
Keenan langsung mencium bibir Adella agar dan juga memainkan ****** agar sakit itu bisa sedikit terkurangi.
Sampai seluruh akar sudah masuk ke tubuh Adella, Keena mulai menggoyangkan secara pelan. Lama - lama Adella menikmati dan rasa sakit itu lenyap.
Adella mulai mengikuti irama gerakan Keenan...
__ADS_1
Malam ini Keenan dan Adella menikmati malam pertama mereka, dengan rasa penuh kebahagiaan. Seolah tidak memiliki rasa lelah, setelah keduanya mencapai puncak kenikmatan Keenan ingin melakukan lagi dan lagi.