Scorpio

Scorpio
Pelarian Deon dan Aileen


__ADS_3

Rasa rindu yang mendalam serta kebahagiaan karena sebentar lagi akan memiliki seorang anak membuat mereka tidak ingin terpisah lagi. Deon dan Aileen terus berpelukan erat sekali.


"Kak Deon, bawa aku bersamamu. Aku takut tidak mampu membesarkan anak kita seorang diri," bisik Aileen.


"Tanpa kamu bilang, tentu saja aku akan membawamu pergi. Setelah itu kita menikah sebelum perutmu semakin besar," jawab Deon meyakinkan.


"Tapi bagaimana caranya?" tanya Aileen cemas.


"Kamu tenang saja, aku pasti akan memiliki cara. Hanya saja tidak sekarang, sebab terlalu beresiko," ucap Deon menenangkan.


Deon tidak ingin membiarkan Aileen membahayakan diri dan janin jika lewat jendela yang tinggi dan juga memanjat tembok.


"Bagaimana kalau menunggu papa dan mama pulang?" saran Aileen.


"Baiklah, sekarang kamu bawa ponsel ini. Dan ingat, jangan sampai ketahuan oleh orang tuamu," kata Deon.


"Iya, tapi sebelum Kak Deon pergi tolong jawablah pertanyanku. Ada hubungan apa Kak Deon dengan papa sampai hubungan kita menjadi terlarang?" tanya Aileen sedikit memaksa karena terlalu penasaran.


Seketika Deon terbengong, teramat perih mengingat kematian orang tuanya karena Fernand. Akan tetapi melihat wajah polos yang kini tengah hamil membuat pemuda itu bisa menahan amarahnya.


"Hanya masa lalu karena perebutan wilayah kekuasaan. Aku kan mafia, sedangkan kamu adlaah putri bangsawan dari keluarga terhormat. Tentu saja orang tuamu menolakku," bujuk Deon bersikap santai.


Aileen begitu mempercayai kekasihnya karena selama ini pemuda tersebut tidak pernah berbohong. Dan yang barusan dikatakan oleh Deon juga masuk akal. Deon ketua mafia yang selalu berada dalam bahaya, tentu saja kelak juga akan membuat hidup Aileen selalu terancam. Meskipun begitu Dia sudah bertekad akan selalu bersama Deon walau rintangan menghadang.


"Kak Deon, aku berjanji akan selalu mendampingimu dalam situasi apapun. Asalkan kita berdua bisa hidup bersama," ucap Aileen sambil bersandar di dada bidang Deon.


"Salah, sekarang kita sudah bertiga," elak Deon halus.


Aileen terkekeh, tiba - tiba pintu kamarnya berbunyi karena di ketuk dari luar.


"Sayang… Kamu belum tidur ya? Ayo buka pintunya," kata Yossi lembut.


Deon secepat kilat mencium bibir Aileen dan beranjak pergi melewati Jendela menggunakan tali tambang. Seperti seorang tentara yang terlatih, dalam waktu singkat Deon sudah berhasil sampai k bawah dan naik lagi ke tembok menggunakan tali lalu berpindah ke pohon yang rindang.


Setelah Deon tidak terlihat lagi Aileen buru - buru menyembunyikan tali tambang dan membukakan pintu untuk mamanya.

__ADS_1


"Kenapa belum tidur?" tanya Yossi.


"Tidak apa - apa kok, Ma. Hanya saja tadi siang kelamaan tidur jadi sekarang tidak mengantuk," jawab Aileen.


"Apa perut kamu merasa tidak nyaman?" tanya Yossi perhatian.


"Baik - baik saja kok, Ma. Mama kenapa kemari? Apa papa sudah tidur?" ucap Aileen balik bertanya.


"Papamu sudah tertidur dari tadi, dan mama tiba - tiba kepikiran ingin tidur bersamamu. Karena besok pagi papa dan mama harus pulang ada hal mendesak," jawab Yossi.


"Kalau begitu ayo masuk, Ma," balas Aileen dengan senang hati.


Setelah orang tuanya pulang Aileen bisa tenang, karena kekasihnya pasti dengan mudah bisaembawanya kabur. Akan tetapi jauh di lubuk hatinya terasa sakit karena akan melukai kedua orang tuanyam yang selama ini begitu memanjakannya.


Aileen bergelayut manja sekaligus menarik secara perlahan lengan mamanya ke tempat tidur.


"Ma, apa Mama sudah mengantuk?" tanya Aileen.


"Belum, ada apa?" balas mamanya lembut.


"Ayo, sudah lama sekali kita tidak curhat," jawab Yossi tidak kalah semangat.


"Mama dan papa dulu menikah karena perjodohan apa pilihan sendiri?" tanya Aileen sangat penasaran.


"Hem… Dulu mama dan papa malah sempat di tentang oleh kedua orang tua. Tapi besarnya cinta kami akhirnya berbuah manis," jawab Yossi tersipu malu.


"Loh, kenapa bisa begitu?" tanya Aileen heran.


"Karena dulu mama sama sepertimu, seorang putri bangsawan. Sedangkan dulu papa kamu adalah mafia, jadi papamu rela keluar dari kelompoknya dan memulai hidup baru bersama mama," balas Yossi.


Aileen terdiam, dia baru tahu jika papanya ternyata juga seorang mafia. Lalu Aileen semakin bertanya - tanya kenapa cintanya dengan Deon terlarang? Seharusnya kalau hanya masalah status masih bisa dirubah.


"Ma, meskipun Kak Deon juga seorang mafia bukankah masih ada kesempatan untuk berubah?" tanya Aileen dengan suara pelan karena takut mamanya marah.


Dan benar saja, Yossi terdiam begitu mendengar pertanyaan seperti itu.

__ADS_1


"Ini sudah larut malam, sayang. Sebaiknya kita tidur saja," kata Yossi sengaja mengalihkan pembicaraan.


Aileen hanya bisa menarik napas dalam - dalam. Hatinya teramat sakit membayangkan bagaimana kelanjutan cintanya jika tanpa restu kedua orang tua.


Aileen tahu jika sebenarnya mamanya itu belum benar - benar tertidur, tapi Aileen sudah tidak memiliki keberanian untuk bertanya lebih jauh lagi.


*****************************************


Dua hari setelah pertemuan dengan sang kekasih akhirnya Deon mendapat kabar jika kedua orang tua Aileen sudah meninggalkan desa tersebut. Deon dengan sigap langsung memberikan perintah agar anak buah Keenan segera beraksi.


Deon memiliki rencana untuk menyuruh satu orang bertindak sebagai pencuri, setelah para pengawal berhasil di Giring memasuki area pepohonan di sana sudah ada pengawal lain yang menyergap. Dengan begitu Deon bisa dengan mudah mengajak Aileen pergi dari situ.


Seperti awal masuk, Deon masuk ke kamar Aileen dan meninggalakan tali tambang. Setelah itu Aileen keluar dari kamarnya sendiri.


"Maling… Maling… ada maling masuk ke kamarku. Cepat kejar! Keburu dia sudah semakin jauh," teriak Aileen berakting panik dan histeris.


Para pengawal dan nelayan berhamburan keluar rumah, ternyata si maling gadungan sudah berdiri di atas tembok pagar lalu pindah ke pohon.


Para pengawal Fernand berlarian mengejar, sedangakan para pelayan wanita masuk ke rumah untuk mengecek keadaan Nyonya muda mereka. Namun, sesampainya di kamar ternyata Aileen sudah tiada.


Ketika Tadi para pelayan dan pengawal berhamburan keluar pada saat itu Deon mengajak Aileen lewat belakang rumah. Di sana sudah disiapkan tangga sehingga memudahkan Aileen untuk melewati pagar. Setelah berhasil keluar sudah ada mobil yang menunggu, mobil tersebut langsung pergi dan meninggalkan sangkar emas milik Fernand.


"Kita berhasil… kita berhasil…" ucap Deon memeluk Aileen dengan perasaan yang sulit terlukiskan.


"Tapi bagaimana masih pengawal dan nelayan? Mereka sebenarnya orang baik," jawab Aileen cemas .


"Tenang, mereka hanya di ikat di pohon saja tanpa dilukai," jawab Deon.


"Syukurlah," balas Aileen menyandarkan kepalanya ke dada sang kekasih.


Hari - hari yang teramat melelahkan, kini untuk sementara sudah usai. Entah apa yang akan terjadi kedepannya tetapi asalkan mereka bersama semua akan baik - baik saja. Indahnya harapan baru tentang kebahagiaan merangkai masa depan sembari menunggu kelahiran sang bayi sudah terbayang di benak mereka.


"Kita mau tinggal dimana? Aku yakin pasti papa mencariku," tanya Aileen masih saja khawatir dan merasa bersalah.


"Stt.. Semua biar aku yang urus. Sekarang kamu tidur saja dalam pelukanku," balas Deon menyentuh bibir Aileen dengan jemarinya.

__ADS_1


__ADS_2