
Rumah yang dimaksud Keenan adalah rumah megah yang memang khusus miliknya pribadi, di sana begitu banyak pelayan. Terkadang Adella sampai heran kenapa tunangannya tersebut suka menghambur - hamburkan uang.
"Keenan, kamu kan jarang kesini, kenapa kamu menyewa begitu banyak pelayan?" tanya Adella.
"Kamu tidak tahu, setiap pertemuan dengan rekan - rekan kerja aku bawa ke sini. Karena kastil di pulauku itu hanya untuk pribadi dan tamu istimewa," jawab Keenan.
"Tamu istimewa?" tanya Adella penasaran.
"Yaps… Dan wanita pertama adalah kamu, Adella," jawab Keenan menatap mesra ke wajah Adella.
Adella langsung mengalihkan pandangan, jujur saja dia merasa dag Dig dug. Karena tak bisa dipungkiri lagi jika tunangannya tersebut memiliki paras yang tampan dan menggoda.
"Adella, ayo kita naik ke atas," ajak Keenan sambil menggandeng lengan Adella menaiki tangga.
Dari pintunya saja Adella sudah tahu jika di dalam kamar tersebut pasti sangatlah mewah. Dan benar saja, ruangannya begitu besar. Ranjangnya saja sampai dua kali lipat di banding dengan tempat tidurnya di paviliun.
"Keenan, apa kamu beneran tinggal di sini sendiri?" tanya Adella m jadi curiga.
"Kenapa? Apa kamu kira aku memiliki wanita simpanan?" goda Keenan.
"Kamu mau memiliki simpanan sebanyak apapun aku tidak masalah," balas Adella cuek lalu menatap lukisan pemandangan yang tertempel di dinding.
"Seriuskah?" tanya Keenan terkejut.
"Lebih dari serius, tapi kamu harus memutuskan aku dulu. Dengan begitu aku akan mencari Dady sugar untuk merawatku," jawab Adella nyengir.
"Apa? Berani sekali kamu berkata seoeri itu dihadapanku," pekik Keenan emosi.
"Kenapa? Kamu bebas memiliki wanita manapun kenapa aku tidak boleh?" sergah Adella.
Keenan menghembuskan napasnya, jika wanita lain pasti akan memohon - mohon untuk tidak dicampakkannya. Namun, berbeda dengan Adella. Gadis kecil itu malah selalu menantang untuk di buang. Kalau saja Keenan tidak emncintai gadis tersebut mungkin sikap egonya sudah sejak lama ingin membuang Adella. Karena Keenan menahan marahnya, sedangkan Adella tertawa terbahak - bahak. Dia tahu jika pemuda tersebut sangat kesal karena ulahnya.
"Aku mau mandi dulu," ucap Keenan mencoba bersabar.
Adella cuek dan berganti melihat - lihat isi kamar yang super besar dan megah itu. Di lemari begitu banyak koleksi bir.
"Wah… Banyak sekali koleksinya. Namanya juga orang kaya. Aku jadi penasaran bagaimana rasanya," batin Adella.
Gadis itu membuka lemari dan menuangkan segelas kecil. Dalam tegukan pertama Adella merasa ketagihan dan begitu nyaman. Dia ingin sekali lagi dan lagi, sampai akhirnya Adella menjadi tidak memiliki kesadaran. Gadis itu mabuk dan berjalan sempoyongan menuju Keenan.
"Tuan Keenan… Tuan Keenan…" teriak Adella sembari menggedor pintu lemari.
__ADS_1
Keenan terkejut, pemuda itu segera memakai handuk dan berjalan ke arah keluar.
Begitu pintu terbuka Adella mendekati Keenan dan menarik lehernya, kemudian dengan gaya seperti Saralee dia mulai menggodanya.
Wajah Adella merah merona, dengan tatapan sendu dia meniup mata Keenan.
"Tuan Keenan…" bisik Adella sambil tertawa ngikik.
Keenan terdiam sejenak, sikap Adella tidak seperti biasanya.
"Wah… Wah… Sejak kapan Nyonya Keenan mulai minum?" tanya Keenan terpesona dan membiarkan Adella merangkul lehernya.
Keenan tertawa, dia tahu jika bir yang diminum Adella memiliki efek yang kuat. Apalagi Adella yang sebelumnya tidak terbiasa bisa langsung berhalusinasi.
"Tuan Keenan… Aku mencintaimu… Tapi aku juga membencimu… Kamu adalah pemuda sombong tapi juga sangat tampan... Awalnya aku mendekatimu karena kamu kaya… Tapi… semakin berdekatan denganmu semakin lama aku tertarik denganmu… Tapi… Tapi … Aku …"
Belum sempat Adella melanjutkan ucapannya Keenan langsung memeluk erat tubuh Adella. Sungguh, ucapakan kata cinta dari mulut Adella barusan membuat Keenan melayang - layang penuh kebahagiaan. Biarpun saat itu Adella sendiri dalam kondisi tidak sadar.
"Adella… Aku tahu kamu juga perempuan yag keras kepala sepertiku. Biarpun nanti setelah sadar kamu tak mengakuinya tapi aku tidak akan pernah melepaskanmu," batin Keenan mendekap erat sembari mencium rambut Adella.
**********************************************
suasana menjadi kurang seru dan terasa sunyi.
"Saralee, sebaiknya kita tidur yuk? Aku yakin Adella tidak akan pulang malam ini," ajak Aileen sembari mematikan televisinya.
"Iya, aku juga mau menelpon cinta dulu," jawab Saralee berlalu pergi.
Akhirnya Aileen memiliki kesempatan untuk mengetes tes pack nya.
Aileen diam - diam ke kamar mandi dan mulai mengetes sesuai dengan peraturan yang tertulis. Setelah itu dia menunggu dengan perasaan yang was - was.
"Semoga negatif... Semoga Negatif…" ucap Aileen harap - harap cemas.
Rupanya, setelah menunggu beberapa menit justru dua garis merah yang muncul secara nyata.
"Ya ampun… aku hamil…" pekik Aileen menangis sambil mendekap mulutnya sendiri.
Aileen segera ke kamar tidur dan berbaring di sana. Pikirannya usdah terlalu kacau karena tidak tahu apa yang harus dilakukan.
"Keluargaku bukan orang sembarangan, jika masalah ini ketahuan oleh orang lain bisa mencoreng nama keluarga. Tapi jika harus digugurkan aku tidak tega, bagaimanapun juga dia punya hak untuk hidup. Akulah yang bersalah, bukan anakku," batin Aileen menangis sampai dia tertidur karena kelelahan.
__ADS_1
Pagi harinya kelaurganya benar - benar menyusul, Aileen bahkan sampai belum berpamitan pada Adella. Karena nomor ponsel Adella sudah di hubungi beberapa kali tapi tidak di angkat juga.
"Saralee… Ucapkan salam perpisahanku untuk Adella ya? Kalau ada kesempatan aku akan bermain kesini," ucap Aileen yang matanya sembab.
"Iya… Kalau ada waktu juga aku dan Adella pasti bermain ke rumah kamu," jawab Saralee.
Aileen tidak berani menceritakan masalah kehamilannya pada siapapun. Dia tidak memiliki nyali untuk melakukannya. Apalagi Deon juga masih belum pulang dan tidak ada kabar sama sekali.
"Biarlah untuk sementara aku sembunyikan dulu tentang kehamilanku ini. Nanti baru aku pikirkan cara yang lain. Yang terpenting orang pertama yang harus aku beritahu adalah Kak Deon," batin Aileen masuk ke dalam mobil papanya sembari melambaikan tangan pada Saralee.
Aileen mencoba tersenyum, dalam hatinya juga ingin tertawa melihat sosok Saralee yang biasanya kuat dan tangguh tetapi menangis merengek seperti seornag anak yang hilang.
"Kak Deon, kamu di mana? Segeralah kembali…" batin Aileen.
Dia kemudian mengirim pesan pada Saralee.
Aileen
Saralee, jika nanti Kak Deon sudah pulang ke sini kamu bilang suruh dia untuk segera menemuiku ya?
Setelah mobil berjalan Aileen mendongak keluar, dari kejauhan Saralee berteriak keras.
"Tenang saja… Aku pasti akan meminta Kak D on untuk segera melamarmu,"
Fernand dan Yossi juga mendengar teriakan Saralee barusan dengan jelas.
"Deon itu siapa, Nak?" tanya Fernand.
"Dia adalah sepupu Saralee, Pa," jawab Fernand.
"Temanmu itu terlihat dari keluarga kaya, terlihat dari penampilannya yang sangat mewah," balas Yossi tersenyum.
"Iya, Ma. Dia pewaris tunggal dari keluarga konglomerat. Namanya kalau tidak salah Janson," jawab Aileen.
Mendengar nama Janson seketika Fernand terperanjat kaget.
"Apa papa mengenalnya? Kenapa seperti sudah mengenal," tanya Aileen penasaran.
"Tidak... Papa hanya pernah mendengar namanya saja. Karena keluarga Janson sangat kaya raya," jawab Fernand mencoba tersenyum.
Meskipun begitu Aileen merasa ada sesuatu hal yang aneh, tapi dia masih belum berani bertanya.
__ADS_1