
Adella semakin heran karena kedua temannya berlari keluar dari area Universitas A. Mau tak mau dia juga ikutan berlari untuk menyusul mereka.
"Kalian ini, katanya mau makan," protes Adella sambil mengatur napas.
"Iya makan, tapi jangan di sini. Ayo aku ajak ke tempat yang lebih enak dan nyaman. Aku traktir deh," jawab Saralee tenang.
Saralee menghentikan taxi yang lewat di depannya. Dia mengajak kedua temannya menuju tempat makan lesehan yang lumayan jauh dari Universitas A.
"Wah! Tempatnya nyaman sekali," ucap Aileen, tangannya dimasukkan ke danau kemudian ikan-ikan kecil bergerombol menggigit jemarinya. Aileen segera mengangkat tangannya karena merasa geli.
Adella juga menyukainya. Tempat makannya di sebuah gubuk bambu berukuran kecil, hanya muat untuk sepuluh orang. Tapi gubuk itu dibangun di atas danau dan ada banyak jumlahnya. Di tepi danau juga ditanam berbagai bunga warna-warni sehingga tempatnya memiliki kesan alami.
"Ini sangat cocok untuk tempat makan keluarga, karena di sebelah danau juga banyak wahana mainan untuk anak-anak. Kapan ya aku bisa mengajak keluargaku kesini?" timpal Adella.
"Pasti nanti ada saatnya, yang terpenting sekarang kamu harus mencari uang banyak. Karena dengan uang kamu bisa melakukan apapun," jawab Saralee.
Tak beberapa lama datang pelayan yang membawa menu masakan.
"Pilihlah sesuka hati kalian! Uangku terlalu banyak untuk ku habiskan sendiri," ucap Saralee setengah tertawa.
"Apa saat kabur kamu masih meminta jatah uang pada orang tuamu?" tanya Adella penasaran.
"Tidaklah, aku kan bisa minta uang pada Kak Deon. Berapapun yang aku mau pasti dikasih," jawab saralee santai.
Adella dan Aileen jadi merasa tidak segan untuk memesan banyak makanan.
Sepuluh menit kemudian semua sudah tersaji di atas meja yang pendek. Karena makannya hanya duduk di atas tikar.
"Saralee, aku masih penasaran. Kenapa kamu tadi berlari saat bertemu cowok tampan berkaca mata itu?" tanya Adella.
Saralee mulai menceritakan tentang lembar formulir yang dia rebut.
Mendengar kisah Saralee, Adella tertawa sampai terbahak-bahak.
"Kenapa kamu tertawa? Aku saja malah tegang, takut nanti kalau melihat dia lagi," protes Aileen yang memang penakut.
"Tenang! Kurasa setelah ini Cowok itu tidak mungkin ada di Universitas A. Karena lembar formulirnya sudah habis," jawab Saralee santai.
"Tak kusangka, kamu bisa senekat ini," sindir Adella.
"Sekali aku menginginkan sesuatu, maka aku tidak akan melepaskannya," jawab Saralee tersenyum puas.
"Tapi kita belum mengumpulkan formulirnya, aku takut kalau cowok itu masih di sana," ucap Aileen cemas.
"Tidak perlu khawatir! Aku masih ada urusan di Universitas A, nanti biar aku yang mengumpulkan formulir kalian," jawab Adella menenangkan.
Tak beberapa lama ponsel Adella berbunyi, dia segera membuka satu pesan yang masuk.
From: Keenan jelek
Kamu di mana?
Adella segera membalasnya.
To: Keenan jelek
Di warung makan lesehan, kenapa?
From: Keenan jelek
__ADS_1
Jam satu siang bersiap-siap, aku jemput di halte bus seperti kemaren.
To: Keenan jelek
Jangan! Di halte dekat Universitas A saja.
Setelah itu Adella tidak mendapat balasan pesan lagi.
"Cie... yang sedang bermesraan dengan tunangan," goda Saralee.
"Tunangan apaan? Aku ini tidak lebih sebagai alat tameng. Lagipula sikap dia cuek dan dingin padaku," jawab Adella kesal.
"Siapa tahu nanti kalian jatuh cinta beneran," timpal Aileen ikut menggoda.
"Tidak mungkin, aku sudah tidak berminat dengan orang kaya yang sombong. Cukup satu kali aku mengalaminya," jawab Adella sedih.
Saralee dan Aileen ikutan bersedih, mereka tahu asmara di masa lalunya Adella.
"Setelah ini kalian mau kemana?" tanya Adella.
"Mungkin beli beberapa perlengkapan alat lukis, buat hiburan dan latihan di rumah," jawab Aileen.
"Aku ikut. Kamu kan orang baru, pasti belum tahu daerah sini," sergah Saralee khawatir.
"Terimakasih, Saralee." ucap Aileen tersenyum manis.
Setelah semua makanan dibayar oleh Saralee, mereka segera kembali ke Universitas A.
Tapi Saralee dan Aileen tidak ikut keluar dari taxi, mereka berdua melanjutkan ke toko besar yang menjual perlengkapan lukis serta buku pelajaran untuk mahasiswa.
"Wah! di sini lengkap sekali," ucap Aileen.
"Eh itu ada lowongan pekerjaan, ayo kita lihat dulu," kata Aileen senang.
"Yuk, siapa tahu masih ada," jawab Saralee.
Mereka berdua melihat secarik kertas yang di tempel di dekat kasir.
Kemudian datang wanita tua yang menegur mereka berdua.
"Apakah kalian berminat bekerja di sini?" tanya Ibu tua itu, usianya sekitar 60 tahunan.
"Oh iya, Bu Profesor. Kebetulan saya punya dua teman yang sedang mencari pekerjaan, tapi yang satunya masih di Universitas," jawab Saralee.
"Kamu Saralee kan? Adiknya Deon," tanya Istri Profesor dengan wajah ceria.
"Bu Profesor masih ingat saya?" Saralee seolah tak percaya.
"Tentu saja, beberapa tahun yang lalu kamulah yang menolong Ibu waktu mau di jambret di depan Mall. Mana mungkin Ibu melupakan gadis cantik yang jago berkelahi itu," jawab Istri Profesor tertawa lirih.
Saralee hanya nyengir mengingat kejadian itu, waktu itu dia masih SMA.
"Karena yang mendaftar adalah teman kamu, jadi langsung Ibu terima. Mulai besok setelah selesai kuliah bisa langsung kerja di sini," jawab Istri Profesor.
Saralee dan Aileen tersenyum senang.
"Terimakasih, Bu Profesor," ucap Saralee dan Aileen bersamaan.
"Sama-sama, kalian ini gadis yang cantik. Namaku Merlin, nama kamu siapa?" tanya Bu Merlin menatap ke arah Aileen.
__ADS_1
"Saya Aileen, Bu Merlin. Dan teman yang ikut bekerja namanya Adella," jawab Aileen lembut.
"Baiklah, kalau begitu Ibu melayani tamu dulu ya."
Setelah berpamitan Bu Merlin langsung pergi ke kasir lagi.
Saralee dan Aileen kembali mencari barang-barang yang dibutuhkan.
Namun tanpa sengaja Aileen bersentuhan tangan dengan seorang pemuda yang sama-sama mau mengambil cat air warna merah.
"Maafkan aku," ucap pemuda itu.
"Tidak papa," jawab Aileen gugup, dia segera menjauh.
Namun pemuda itu mengejar dan menghadang Aileen di depannya.
"Nama aku Kris, kamu siapa?" tanya pemuda itu sambil mengulurkan tangan.
Aileen berbalik arah mengabaikan pemuda yang bernama Kris itu.
Kris mau mengejar lagi tapi di hadang oleh Saralee.
"Hey, kalau dia tidak mau di ajak kenalan jangan memaksa!" ucap Saralee tegas. Karena dia tahu jika Aileen gadis penakut dan tidak pernah dekat dengan lelaki.
"Oh maaf karena sudah mengganggu temanmu," jawab Kris murung.
Saralee tersenyum puas, tapi saat dia membalikkan badannya dia menabrak seorang pemuda yang tinggi.
Dukk...
"Auhh..." pekik Saralee.
"kamu... Kita bertemu lagi," ucap Pemuda berkaca mata dingin.
Saralee ingin berlari namun tangannya langsung di cengkeram erat oleh Pemuda itu.
" Apa setiap mempunyai kesalahan kamu selalu berlari?" sindir Pemuda itu.
Saralee merasa dihina, dia dengan berani menghempaskan tangannya supaya bisa melepaskan diri.
"Lalu kenapa? Apa kamu mau minta ganti rugi untuk selembar formulir itu? Berapa yang kamu minta?" tantang Saralee dengan angkuh.
"Tidak semua masalah bisa di selesaikan dengan uang, Nona kaya?" jawab Pemuda itu santai tanpa tersenyum.
"Raiyen, ayo kita harus cepat! Waktunya sudah mepet," ajak Kris yang ternyata adalah temannya pemuda berkaca mata itu.
"Kamu lolos lagi kali ini," ancam Raiyen dengan senyuman jahat.
Saralee naik pitam, dia maju beberapa langkah dan berdiri tepat di depan Raiyen. Dia harus mendongakkan wajahnya karena Tubuh nya hanya sepundaknya pemuda itu.
"Anda pikir saya takut? Anda belum tahu siapa saya," balas Saralee dengan senyuman sinis.
"Raiyen, Ayo kita segera pergi, jangan berurusan dengan gadis menyeramkan itu," kata Kris.
Saralee kesal, dia melempar satu komik mengenai kepala Kris. Kemudian dia berlalu pergi meninggalkan kedua cowok tampan itu.
Terimakasih sudah berkenan membaca karya saya. Jangan lupa Like,Vote dan beri rating Bintang 5 ya🙏 Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi Author.
Mohon kritik dan sarannya juga, semoga Novel SCORPIO bisa berkembang lebih baik lagi🤗
__ADS_1